Rumah Kami Sebelum Pindah Dimensi : KPR & Punggung Ayah

PapaDi_YSELnury
Chapter #4

0.4 - SARAN SANG AGEN

Matahari pagi ibukota biasanya terasa seperti panggangan roti raksasa yang tidak memiliki tombol off. Namun, semakin jauh roda Honda Vario lecetku menggelinding meninggalkan aspal Jakarta Timur menuju perbatasan ekstrem Cileungsi dan alam liar Jonggol, suhu udara entah mengapa terasa semakin... berbeda.

Jam di layar speedometer motorku menunjukkan pukul 08:30 pagi.

Aku sudah menempuh perjalanan nyaris satu jam penuh menembus kemacetan truk tanah dan bus antar-jemput karyawan pabrik. Di balik jaket kulit sintetisku yang mulai mengelupas di bagian bahu, kemeja flanel kerjaku sudah lembap oleh keringat. Helm proyek putih kebanggaanku dengan stiker 'Budi - PM' terpasang erat di kepala, bertindak sebagai pengganti helm motor standar yang kacanya sudah buram.

Sepanjang perjalanan menembus jalanan berdebu ini, otakku terus melakukan simulasi perhitungan Rencana Anggaran Biaya (RAB).

Sisa uang warisan almarhum Bapak—setelah dipotong seratus juta untuk rencana Down Payment (DP) rumah ini—adalah lima puluh juta rupiah. Itu adalah fixed budget (anggaran mati). Gaji bulananku sudah dikunci rapat oleh insting manajerial Wati untuk operasional kontrakan, susu formula Ryu, SPP Abby, dan yang paling krusial: uang praktikum biologi Dila, adik bungsuku di Semarang. Jika aku meleset menghitung biaya belanja material semen, bata ringan, dan cat pelapis anti-bocor hari ini, aku akan membawa keluargaku ke dalam jurang kebangkrutan yang tak memiliki dasar.

Kutarik tuas gas Vario saat membelok masuk ke sebuah jalan beton kecil yang diapit oleh rimbunnya semak belukar liar.

Sebuah gapura perumahan akhirnya terlihat di ujung jalan. Tulisannya sudah pudar, catnya terkelupas dimakan cuaca, dan beberapa huruf almuniumnya copot sehingga hanya terbaca: P RUMAH N GRIYA A WANG.

Pos satpam di depan gapura tampak kosong melompong. Kaca jendelanya pecah, dan palang pintunya terangkat kaku ke atas layaknya tangan seseorang yang sudah lama menyerah pada nasib.

Aku mengerutkan kening di balik kaca helm. Untuk ukuran perumahan yang berani mematok harga awal ratusan juta di brosurnya belasan tahun lalu, tempat ini terlihat seperti proyek gagal yang ditinggal lari developer-nya sejak krisis moneter. Tidak ada hiruk pikuk khas perumahan kelas menengah. Tidak ada tukang sayur keliling yang berteriak membunyikan mangkok, tidak ada ibu-ibu berdaster yang sedang menyuapi anaknya di teras, tidak ada suara motor matic yang dipanaskan.

Hanya ada keheningan total. Kesunyian yang terasa tebal dan menekan telinga, seolah ada ruang hampa udara yang baru saja dijatuhkan ke atas kompleks perumahan ini.

Aku menyusuri blok demi blok secara perlahan. Ban motorku menggilas ranting kering dan kerikil. Banyak rumah di sini yang tampak tidak berpenghuni. Rumput liar mengambil alih trotoar. Beberapa rumah bahkan tertutup tanaman rambat liar dari atap hingga ke garasi, seakan alam liar Jonggol sedang berusaha menelan kembali sisa peradaban manusia yang sok jagoan mencoba berdiri di atasnya.

Dan di ujung jalan buntu, tepat di sebuah tanah berbentuk hook (sudut), berdirilah target operasiku.

Blok Seram No. 13.

Melihat plakat alamat yang terbuat dari seng berkarat itu, aku hampir tertawa. Blok Seram Nomor Tiga Belas. Siapa pun developer tata kota yang memberi nama blok dan nomor kaveling ini, dia pasti memiliki selera dark comedy yang luar biasa parah, atau dia sedang mabuk saat mengajukan izin ke kelurahan.

Aku mematikan mesin Vario, menurunkan standar ganda, lalu melepas helm putihku perlahan.

Hembusan angin pagi menyapu wajahku. Aneh. Alih-alih mencium bau asap knalpot, debu kemarau, atau bau selokan kering khas perumahan pinggiran, hidungku menangkap aroma yang sangat tidak lazim. Ada bau tanah basah yang sangat kuat, bercampur dengan wangi bunga melati yang tajam, dan... selintasan aroma karamel gosong.

Pasti ada pabrik permen atau pabrik kimia yang buang limbah sembarangan di dekat sini, batinku, merasionalisasi anomali penciuman itu menggunakan standar logika lingkungan industri.

Di depan pagar besi rumah itu yang karatan dan nyaris lepas dari engselnya, seorang pria paruh baya bertubuh kurus sedang berdiri gelisah. Ia mengenakan kemeja batik lengan pendek yang tampak kebesaran, memegang sebuah map plastik bening yang dijepit kuat-kuat di ketiaknya.

Begitu ia mendengar suara motorku dan melihat kedatanganku, pria itu tersentak kaget, seolah ia baru saja melihat hantu di siang bolong.

"Pak Budi?" sapanya ragu-ragu, suaranya sedikit bergetar.

"Betul. Saya Budi," jawabku sambil melangkah mendekat, mengulurkan tangan. "Bapak Pak Jono? Agen properti yang semalam saya WA jam tiga pagi?"

Jono menyambut uluran tanganku. Tangannya basah oleh keringat dingin. Wajahnya pucat pasi, matanya memiliki kantung hitam yang dalam, dan ia terus-menerus melirik ke arah rumah Blok Seram No. 13 di belakangnya dengan gerakan patah-patah layaknya mangsa yang sedang diawasi oleh predator tak kasat mata.

"I-iya, Pak. Saya Jono," katanya gugup, menelan ludah. "Saya jujur... saya nggak nyangka Bapak beneran bakal datang. Saya pikir chat Bapak semalam itu cuma orang iseng, atau... atau..." Ia tidak melanjutkan kalimatnya.

Aku tersenyum miring, memamerkan senyum arogan seorang pria yang merasa dirinya selalu bisa mengendalikan lapangan.

"Saya Project Manager, Pak Jono. Kalau saya bilang jam sembilan pagi saya inspeksi lokasi, maka saya akan datang walau badai salju sekalipun. Waktu adalah uang, dan saya tidak punya banyak waktu sebelum bos saya menelepon menanyakan progress cor beton di Sudirman."

Aku melipat kedua lenganku di dada, menatap lurus ke arah bangunan Tipe 70 yang berdiri suram di balik pagar berkarat itu.

"Jadi, ini barangnya?" tanyaku dengan nada menilai.

Secara visual, rumah ini memang terlihat mengerikan, pantas saja harganya terjun bebas. Fasad luarnya yang dulu mungkin dicat putih kini telah dipenuhi noda hitam kelembapan. Di bawah kusen jendela ruang tamu, jamur hitam tumbuh merambat ke bawah seperti air mata iblis. Rumput liar setinggi paha menutupi seluruh halaman depan, dan atap genteng tanah liatnya tampak menghitam oleh lumut tebal.

"Iya, Pak. Ini rumahnya. Tanah seratus meter persegi, luas bangunan tujuh puluh meter," jelas Jono cepat. Ia menarik selembar kertas fotokopi dari dalam map plastiknya dengan tangan bergetar.

"Ini fotokopi Sertifikat Hak Milik (SHM)-nya, Pak. Atas nama pemilik aslinya langsung, Bapak Herman. Sertifikatnya clear, bebas sengketa bank, PBB lunas. Nanti kalau Bapak memang serius dan deal , kita nggak usah lewat saya lagi transaksinya. Bapak bisa langsung ketemu sama Pak Herman di kantor Notaris untuk Tanda Tangan Akta Jual Beli (AJB) dan serah terima DP."

Aku mengangguk-angguk kecil, mengambil fotokopi sertifikat itu dan membacanya sekilas. Legalitasnya tampak aman. "Bagus kalau gitu. Saya paling malas kalau harus beli rumah oper kredit yang status hukumnya ribet."

Jono mengusap keringat di pelipisnya dengan lengan kemeja batiknya. "Tapi Pak Budi... saya harus tanya sekali lagi sebagai sesama manusia untuk memastikan. Bapak benar-benar yakin mau masuk ke dalam dan beli rumah ini? Bapak... istri Bapak... nggak masalah dengan harganya yang terlalu murah?"

Aku menoleh menatap Jono. Alisku bertaut tajam. "Justru karena murah makanya saya mau, Pak Jono. Saya ini nyari rumah, bukan nyari penderitaan KPR. Aneh gimana maksudnya? Sepi? Ya bagus dong, berarti nggak berisik. Saya paling anti sama tetangga yang hobi nyetel musik dangdut kenceng-kenceng hari Minggu pagi pas saya mau tidur."

"Bukan itu, Pak," bisik Jono, suaranya nyaris seperti desisan ketakutan. Ia mendekat selangkah ke arahku, matanya membesar penuh teror. "Bapak nggak dengar rumornya? Kenapa Pak Herman selaku pemilik aslinya jual rumah ini cuma empat ratus juta untuk tipe tujuh puluh?"

Aku mengangkat bahu. "Utang pinjol? Perusahaan bangkrut? Kalah main slot? Kalau orang lagi Butuh Uang (BU) parah, jual ginjal pun dilakukan, apalagi cuma jual batu bata."

"Bukan, Pak. Pak Herman itu pengusaha kaya raya, rumah aslinya di Menteng," bantah Jono cepat, seolah ingin segera melepaskan beban rahasia di dadanya.

"Rumah ini dulu dia beli buat investasi, niatnya mau disewakan. Selama lima tahun terakhir, sudah ada tiga keluarga berbeda yang ngontrak di sini, Pak Budi. Dan tiga-tiganya... nggak ada yang tahan lebih dari dua bulan."

Lihat selengkapnya