Rumah Kami Sebelum Pindah Dimensi : KPR & Punggung Ayah

PapaDi_YSELnury
Chapter #5

0.5 - KERINGAT DINGIN SANG PEMILIK

Pagi ini, udara di kontrakan paviliun kami terasa lebih padat dari biasanya. Ada campuran aroma nasi uduk yang baru dibeli Wati dari warung depan, bau setrikaan uap yang beradu dengan pelicin pakaian, dan wangi parfum murah yang kusemprotkan ke kemeja batik lengan panjangku.

Hari ini adalah hari Kamis, tepat empat hari sejak inspeksi gila yang kulakukan bersama Pak Jono sang agen properti di Blok Seram No. 13. Dan hari ini, adalah hari penghakiman.

"Pa, sarapan dulu ini telurnya. Nanti masuk angin kalau perut kosong ketemu AC notaris," tegur Wati. Istriku itu sedang sibuk memakaikan bedak ke wajah Ryu yang sudah berseragam kotak-kotak biru khas anak Taman Kanak-Kanak (TK).

Sementara itu, Abby sudah berangkat setengah jam yang lalu dijemput ojek langganan untuk pergi ke SD-nya.

"Iya, Ma. Bentar, Papa lagi nyari materai sepuluh ribu. Kemarin perasaan beli lima lembar taruh di atas kulkas," gumamku sambil mengaduk-aduk tumpukan kertas tagihan di atas kulkas kecil kami yang berdengung keras.

"Materainya udah Mama masukin ke dalam map plastik yang isi fotokopi KTP sama KK kita, Pa," sahut Wati sigap. Ia menepuk pantat Ryu pelan. "Nah, udah ganteng Bos Kecil. Ayo pakai sepatunya. Kita berangkat sekarang."

Wati menoleh ke arah jam dinding yang menunjukkan pukul 07:45 pagi. Jadwal pertemuan kami di kantor Notaris adalah pukul 09:00.

"Kita harus ngebut lho, Pa," kata Wati dengan nada manajerialnya yang selalu berpacu dengan batas waktu. "Jam setengah sembilan kita drop Ryu dulu di TK-nya. Terus langsung tancap gas ke kantor Notaris. Ingat, aku cuma punya waktu sampai jam setengah sebelas maksimal. Jam segitu anak TK udah pada pulang, aku harus jemput Ryu. Ibu guru absennya cerewet kalau ada wali murid yang telat jemput."

"Siap, Bos," jawabku sambil mengunyah separuh telur dadar dan menenggak air putih. "Tenang aja, urusan tanda tangan doang mah cepat. Duit DP seratus jutanya udah di- standby kan di mobile banking kamu, kan, Ma?"

Pertanyaanku membuat gerakan Wati terhenti sesaat. Ia menatapku dengan ekspresi tegang. "Udah, Pa. Seratus juta cash udah siap ditransfer kapan pun. Semalaman aku nggak bisa tidur gara-gara kepikiran duit ini. Ini uang paling besar yang pernah aku pegang seumur hidupku, Pa. Rasanya dada ini nyesek banget harus ngelepas uang warisan Bapak sebegitu gedenya dalam satu kali klik."

Aku mendekat, mengusap bahu istriku yang mengenakan tunik batik andalannya. "Itu bukan dilepas, Ma. Itu ditukar jadi atap, jadi pondasi, jadi tembok buat kamu sama anak-anak. Duit kertas bisa kebakar, tapi tembok bata merah bakal berdiri sampai kita tua."

Wati hanya membuang napas berat, mencoba mengumpulkan keberaniannya, lalu mengangguk.

Pukul 08:50 pagi, setelah menitipkan Ryu di gerbang TK-nya dengan pesan sponsor agar tidak nakal, aku dan Wati memarkirkan motor Vario lecet kami di depan sebuah ruko elit berlantai tiga di kawasan komersial Cibubur.

Sebuah plakat kuningan besar menempel di dinding depan: Kantor Notaris & PPAT Sri Mulyani, S.H., M.Kn.

Begitu kami mendorong pintu kaca tebal itu, hembusan udara dari mesin pendingin sentral ( central AC ) langsung menampar wajah kami. Suhunya disetel layaknya iklim kutub utara, sangat kontras dengan teriknya matahari ibukota di luar sana.

Kami diarahkan oleh resepsionis menuju sebuah ruang meeting besar berdinding kaca di lantai dua. Di dalam sana, di sekeliling meja oval dari kayu mahoni, sudah duduk tiga orang yang akan mengubah jalan hidup keluargaku secara permanen.

Orang pertama adalah sang Notaris sendiri, Ibu Sri, seorang wanita paruh baya dengan kacamata tebal dan setelan blazer rapi. Di sebelahnya, duduk seorang pria berkemeja biru muda berlogo bank swasta ternama.

Aku menyipitkan mata. Wajah pria itu sangat familiar.

"Lho, Mas Reza?" sapaku sedikit terkejut, mengingat wajah petugas analis kredit yang menolak pengajuan tenor dua puluh tahunku di Bank kemarin.

Reza mendongak dari tumpukan berkasnya, lalu tersenyum profesional yang sangat khas. "Ah, selamat pagi, Pak Budi. Bu Wati. Silakan duduk. Betul, Pak. Kebetulan ini wilayah coverage saya untuk pencairan KPR-nya. Senang rasanya melihat Bapak akhirnya menemukan unit rumah yang appraisal-nya masuk dengan budget Bapak."

Aku tersenyum kecut, menarik kursi untuk Wati lalu duduk di sebelahnya. Tentu saja Reza ada di sini. Hari ini bukan cuma sekadar jual beli rumah biasa, hari ini adalah prosesi Akad Kredit. Prosesi sakral di mana aku menyerahkan sisa umur produktifku kepada institusi perbankan.

Lalu, pandanganku beralih ke orang ketiga yang duduk tepat di seberangku.

Pria paruh baya itu adalah Pak Herman. Sang pemilik sah—setidaknya untuk sepuluh menit ke depan—dari rumah Blok Seram No. 13. Aku belum pernah bertatap muka dengannya. Segala urusan negosiasi kulakukan via telepon melalui Pak Jono si agen properti (yang ironisnya malah tidak hadir hari ini karena sedang ada closingan rumah lain).

Dari penampilannya, Pak Herman adalah representasi sempurna dari kelas atas Jakarta. Ia mengenakan kemeja polo Ralph Lauren asli yang disetrika licin, jam tangan otomatis Rolex Submariner melingkar angkuh di pergelangan tangannya, dan bau parfum Bvlgari yang ia pakai cukup kuat untuk menguasai seluruh ruangan, nyaris menyamarkan bau debu jalanan yang menempel di batikku.

Namun, ada sesuatu yang sangat kontras dan salah dari penampilan mewahnya itu.

Wajah Pak Herman pucat pasi. Kantung matanya menghitam dan menggantung dalam, persis seperti orang yang tidak pernah tidur nyenyak selama berbulan-bulan. Meski udara di ruangan ini sangat dingin, ia terus-menerus menyeka keringat sebiji jagung di pelipisnya menggunakan tisu. Gerak-geriknya gelisah luar biasa, dan kakinya tak berhenti bergoyang-goyang di bawah meja kaca, menimbulkan suara ketukan sepatu pantofel yang ritmis.

"Baik, karena semua pihak sudah hadir, Pihak Penjual, Pihak Pembeli, dan Pihak Bank, mari kita mulai prosesinya," ujar Notaris Sri Mulyani, membuka map tebal berwarna merah marun.

"Sebelumnya, saya selaku PPAT ingin mengonfirmasi. Proses ini berjalan sangat cepat, hanya butuh waktu empat hari kerja sejak kesepakatan Bapak berdua. Ini bisa terjadi karena Pak Herman mengurus percepatan checking sertifikat ke BPN (Badan Pertanahan Nasional) dan validasi BPHTB dengan status Priority. Pihak Bank juga memproses Surat Perintah Kerja (SPK) KPR Pak Budi dengan one-day service atas rekomendasi langsung dari relasi Pak Herman. Apakah tidak ada paksaan dalam transaksi yang dipercepat ini?"

"Tidak ada, Bu Notaris," potong Pak Herman cepat, suaranya sedikit bergetar dan parau. Nada bicaranya terdengar seperti seseorang yang sedang diburu waktu sebelum sebuah bom meledak. Ia mencondongkan tubuhnya ke depan. "Sama sekali tidak ada paksaan. Saya hanya... saya hanya ingin urusan aset ini cepat selesai. Saya sedang butuh liquid cash secepatnya untuk... urusan bisnis lain. Biaya jasa Priority Notaris, BPN, dan provisi bank, biar potong dari saya saja semua. Nggak apa-apa."

Di sebelahku, Wati menyikut rusukku dengan sikunya. Keras sekali.

Istriku mencondongkan tubuhnya ke arahku, mendekatkan bibirnya ke telingaku. "Papa," bisik Wati, mata auditornya menyipit curiga mengamati gerak-gerik Pak Herman. Wati sengaja melihat jam tangannya, menunjukkan pukul 09:15. Waktunya sangat mepet. "Itu orang kenapa gelisah banget sih? Jual rumah Tipe 70 cuma empat ratus juta, biaya notaris dan biaya tetek-bengek dia yang tanggung semua, tapi kok mukanya kayak buronan koruptor yang lagi dikejar KPK? Jangan-jangan SHM-nya palsu, Pa? Atau rumahnya lagi disita kejaksaan? Pa, aku belum transfer lho ini!"

Aku menepuk punggung tangan Wati di bawah meja, mencoba menenangkannya tanpa mengalihkan pandangan dari tumpukan berkas.

"Tenang, Ma," bisikku balik. "Kamu dengar sendiri tadi, Notarisnya udah checking ke BPN. Sertifikatnya asli, bersih, nggak diblokir, PBB-nya lunas sampai tahun ini. Pak Herman ini pengusaha kaya beneran. Temannya bos bank."

"Terus kenapa dia kayak orang ketakutan gitu? Kayak mau kesurupan," Wati masih belum puas, insting keibuannya merasa ada bahaya yang mengintai.

Lihat selengkapnya