Euforia memegang salinan Akta Jual Beli (AJB) dari kantor notaris ternyata memiliki umur yang sangat pendek. Umurnya bahkan tidak bertahan lebih dari dua belas jam.
Malam itu, sepulang dari merayakan "kemenangan" dengan makan ayam goreng fast food bapak-bapak tua—sebuah kemewahan yang jarang kami lakukan—kami kembali ke realita kontrakan tiga petak kami di Cibubur. Dan realita, seperti biasa, selalu tahu cara terbaik untuk meninju ulu hatiku.
Pukul delapan malam, saat aku baru saja melepas kemeja batikku, terdengar ketukan keras di pintu depan.
Tok! Tok! Tok!
Wati yang sedang mengelap meja lipat langsung menegang. Ia saling bertukar pandang denganku. Kami berdua tahu persis siapa pemilik irama ketukan yang temponya cepat dan tidak sabaran itu. Itu adalah Ibu Dina, sang pemilik kontrakan paviliun ini, atau yang lebih sering dijuluki oleh para penyewa sebagai "Ibu Negara Pemungut Cukai".
Aku menghela napas, memakai kembali kaus oblongku, dan membuka pintu.
Benar saja. Bu Dina berdiri di sana dengan daster motif macan tutul dan rol rambut yang masih menempel di poninya. Wajahnya ditekuk sempurna, memancarkan aura tagihan yang tidak bisa dinegosiasi. Bagiku, corak macan di dasternya itu jauh lebih menakutkan daripada harimau Sumatra asli, karena harimau tidak menagih uang sewa bulanan.
"Malam, Pak Budi. Bu Wati," sapa Bu Dina tanpa basa-basi, suaranya tajam menembus udara malam yang sumpek. "Saya cuma mau ngingetin. Ini udah tanggal lima belas. Uang sewa bulan ini belum masuk ke rekening saya. Udah telat lima hari dari jatuh tempo lho, Pak."
Aku tersenyum kaku, menggaruk tengkukku yang tiba-tiba terasa gatal. "I-iya, Bu Dina. Malam. Maaf sebelumnya, bulan ini memang ada pengeluaran mendadak yang lumayan besar."
Wati muncul dari belakangku, mengambil alih diplomasi. Sebagai lulusan Manajemen Bisnis, Wati tahu cara bernegosiasi dengan kreditor.
"Begini, Bu Dina," kata Wati dengan nada lembut tapi taktis. "Kami sekeluarga rencananya memang mau pindah rumah akhir bulan ini. Uang tabungan kami kemarin baru saja disetor habis untuk bayar DP ke notaris. Sisa uang di rekening sekarang sudah ada pos-nya masing-masing dan nggak bisa diganggu gugat sama sekali. Kalau Ibu berkenan, boleh nggak sewa bulan ini kami bayar setengah dulu? Nanti pas kami serah terima kunci keluar di akhir bulan, kami lunasi sisanya."
Mata Bu Dina langsung membulat. Alisnya yang digambar tebal dengan pensil alis murah tampak naik.
"Wah, nggak bisa gitu dong, Bu Wati!" tolak Bu Dina cepat, suaranya naik satu oktaf. "Aturan di kontrakan saya ini bayar di depan, bukan di belakang! Lagian, kemarin baru aja ada keponakan saya dari kampung yang mau kerja di pabrik sini, dia lagi nyari kontrakan kosong. Kalau Bapak sama Ibu emang udah nggak sanggup bayar full bulan ini, ya mendingan dikosongin aja dari sekarang. Kasih kunci ke saya."
Aku dan Wati terdiam. Ancaman pengusiran itu dilontarkan dengan sangat kasual, seolah kami ini hanyalah debu yang menempel di terasnya.
"Bu Dina, tolong kebijaksanaannya," selaku, mencoba menekan egoku. "Beri kami waktu sampai akhir bulan ini saja. Tanggal tiga puluh satu, kami pasti sudah angkat kaki dari sini. Saya jamin. Saya cuma minta waktu dua minggu lagi buat beresin rumah baru kami biar layak ditempati."
Bu Dina mendengus, melipat tangannya di dada. Ia menatap ke dalam kontrakan kami yang sempit, melihat kardus-kardus yang sudah mulai kami tumpuk di sudut ruangan.
"Dua minggu. Tanggal tiga puluh satu harus udah bersih. Lewat dari tanggal itu, barang-barang Bapak Ibu saya keluarin paksa ke teras. Saya nggak mau tahu," ancam Bu Dina final, lalu membalikkan badan dan berjalan pergi dengan langkah menghentak.
Aku menutup pintu perlahan.
Klik. Suara gerendel pintu yang kukunci terasa seperti suara pelatuk pistol yang ditarik.
Aku membalikkan badan, menatap Wati yang kini merosot duduk di atas kasur lantai. Wajah istriku pucat.
"Pa," bisik Wati, suaranya bergetar. "Uang di rekening kita tinggal lima puluh juta pas. Itu sudah buat belanja material: semen, cat, keramik, baja ringan, sama kabel listrik. Kalau kita potong dua juta buat bayar kontrakan Bu Dina bulan ini... kita nggak bakal bisa beli keramik buat kamar anak-anak. Terus kalau kita harus pindah akhir bulan ini... rumah Blok Seram itu emang udah bisa ditinggalin? Atapnya masih bocor, Pa! Plafonnya jebol!"
Aku berjalan mendekat, duduk di sebelah Wati, dan memegang tangannya yang terasa dingin. Beban di punggungku mendadak bertambah berkali-kali lipat. Kini, bukan cuma soal menyelesaikan renovasi, tapi kami berpacu dengan bom waktu.
Empat belas hari. Aku punya waktu tepat empat belas hari untuk menyulap bangkai rumah Tipe 70 itu menjadi tempat yang tidak akan membocorkan air hujan ke kepala anak-anakku.
"Bisa, Ma," kataku, memaksakan nada suara penuh keyakinan layaknya seorang Jenderal yang menjanjikan kemenangan pada pasukannya yang terluka. "Malam ini juga, Papa berangkat ke sana bawa alat pertukangan. Mulai detik ini, Papa bakal lembur ngaduk semen tiap malam. Akhir bulan ini, rumah itu pasti udah layak huni. Papa jamin."
Di tengah ketegangan yang menyesakkan dada itu, tiba-tiba Abby menyeruak masuk dari arah dapur kecil kami.
Anak sulungku itu mengabaikan aura krisis yang sedang menguar dari orang tuanya. Ia berjalan santai sambil membawa selembar kertas fotokopian yang agak lecek, dan di tangan kirinya, ia menggenggam erat tablet kesayangannya yang layarnya sudah retak di ujung.
"Ma, Pa," panggil Abby, menyodorkan kertas fotokopian itu ke pangkuan Wati. "Tadi di sekolah dikasih surat edaran. Tiga bulan lagi ada acara Persami Pramuka. Perkemahan Sabtu Minggu di Cibubur. Aku mau ikut ya! Boleh ya? Nanti bayarnya dicicil dari sekarang ke wali kelas."
Aku dan Wati saling bertukar pandang. Kata "bayar" dan "dicicil" di tengah situasi krisis ini rasanya seperti ada orang yang sengaja menaburkan garam ke atas luka terbuka.
Wati mengambil kertas itu, membaca nominal biaya Persami yang tertera di sana. Keningnya langsung berkerut dalam. Ia menatap Abby dengan tatapan mengevaluasi, khas seorang manajer yang sedang menilai proposal pengajuan dana dari divisi yang kurang produktif.
"Persami? Kakak yakin mau ikut?" tanya Wati dengan nada curiga. "Ini acaranya di lapangan terbuka lho, Kak. Tidur di tenda, banyak nyamuk, mandi ngantri, belum lagi kalau malam dingin dan becek. Kakak kan biasa tidur pakai kipas angin. Nanti kalau Kakak masuk angin atau tipes gimana? Biaya dokternya lebih mahal dari biaya Persami-nya lho."
"Ih, Mama mah underestimate aku banget!" protes Abby, memajukan bibirnya. "Aku kan udah gede, Ma. Lagian ini mandatory (wajib) tau buat nilai ekskul. Lagian seru, bisa kumpul sama temen-temen, masak mie instan pake nesting bareng-bareng."
Wati menghela napas. Ia menatapku meminta dukungan, tapi aku hanya mengangkat alis, menyerahkan keputusan padanya. Kalau urusan mendidik kedisiplinan anak, Wati adalah menteri pertahanannya.
"Boleh ikut," putus Wati akhirnya, yang membuat wajah Abby langsung cerah. "TAPI, ada syaratnya."
"Apa syaratnya, Ma? Aku janji bakal beresin tempat tidur tiap hari deh!"
"Bukan itu," Wati menunjuk tablet di tangan Abby dengan dagunya. "Mama perhatiin, Screen Time Kakak belakangan ini gila-gilaan. Tidur kemalaman gara-gara main gadget terus. Kalau Kakak mau uang Persami ini Mama yang bayarin, mulai besok jam main tabletnya dikurangin. Habis Isya, tablet harus ditaruh di atas kulkas. Nggak ada alasan ngerjain tugas, ngedit video, atau main game. Titik."
Mendengar syarat itu, wajah cerah Abby langsung luntur, digantikan oleh ekspresi horor seolah Wati baru saja menyuruhnya memakan sayur pare mentah.
"Ma! Ya nggak bisa gitu dong!" protes Abby panik, memeluk tabletnya seolah melindungi anaknya sendiri. "Habis Isya itu justru prime time-nya traffic algoritma tahu! Kalau aku nggak upload video atau live streaming jam segitu, engagement rate aku bisa drop parah!"
Aku yang sejak tadi diam, akhirnya tak bisa menahan tawa kecil. Kepalaku yang tadi nyaris meledak memikirkan uang kontrakan dan semen, sedikit terhibur oleh tingkah laku generasi Alpha di depanku ini.
"Emangnya follower kamu udah berapa sih, Kak, sampai mikirin algoritma segala?" godaku sambil tersenyum.
Abby menatapku dengan tatapan tersinggung yang sangat serius. Ia membusungkan dadanya yang rata.