Rumah Kami Sebelum Pindah Dimensi : KPR & Punggung Ayah

PapaDi_YSELnury
Chapter #7

0.7: TAGIHAN DARI SEMARANG

Pukul 05:30 pagi.

Alarm dari smartphone-ku yang layarnya retak menjerit nyaring, menyanyikan nada bawaan pabrik yang rasanya seperti bor gigi dokter gigi yang menembus langsung ke gendang telingaku.

Aku membuka mata. Atau setidaknya, aku berusaha membuka mata. Kelopak mataku terasa seperti dilem menggunakan perekat epoksi.

Saat aku mencoba menggerakkan bahu untuk mematikan alarm, tulang belikatku berbunyi keras sekali. Rasanya seperti tubuhku baru saja mengajukan surat pengunduran diri massal. Tapi sayang sekali, tulang punggungku tidak punya hak istimewa untuk resign selama tagihan SPP Abby dan cicilan bank bulan ini belum lunas. Aku harus tetap bangun.

"Aaargh..." rintihku tertahan, menggigit bibir bawahku kuat-kuat agar tidak membangunkan Wati dan anak-anak yang masih terlelap.

Secara medis, penumpukan asam laktat di jaringan otot akibat aktivitas fisik ekstrem yang tidak biasa dilakukan disebut Delayed Onset Muscle Soreness (DOMS). Secara bahasa kuli bangunan, ini namanya "badan remuk". Semalam, pada shift malam pertamaku sepulang dari Notaris, aku menghabiskan waktu nyaris lima jam berturut-turut untuk membabat ilalang, mengaduk pasir, semen, dan menambal plesteran dinding Blok Seram No. 13 hingga pukul dua pagi.

Sebagai pria berusia empat puluh tahun yang sehari-harinya hanya memegang mouse komputer dan sesekali memanjat scaffolding untuk inspeksi visual proyek, otot-ototku jelas melakukan demonstrasi besar-besaran pagi ini.

Aku memaksakan diri duduk di atas kasur lantai tipis. Tulang punggungku berderak berbunyi krek layaknya engsel pintu tua yang kekurangan pelumas.

Dengan gerakan pelan dan kaku layaknya robot yang kehabisan baterai, aku merogoh tas kerjaku. Tanganku mencari-cari sebuah benda berbentuk pipih bundar berwarna hijau tua.

Balsem Otot Geliga. Benda pusaka wajib bagi setiap kelas pekerja di ibukota.

Aku membuka kaus singletku perlahan, lalu mencolek balsem yang berbau mentol dan camphor menyengat itu. Dengan susah payah, aku melintir lenganku ke belakang, berusaha mengoleskan balsem panas itu ke area tulang belikatku sendiri sambil meringis menahan perih.

"Sini, Papa duduknya agak putar dikit."

Sebuah suara memecah keheningan fajar.

Aku menoleh kaget. Wati berdiri di ambang pintu kamar dengan daster pudar andalannya. Rambutnya masih sedikit berantakan. Ia berjalan mendekat tanpa banyak bicara, mengambil alih Balsem Geliga itu dari tanganku.

Wati duduk bersila di belakangku, lalu mulai memijat bahu dan punggungku dengan balsem panas tersebut. Jemari Wati yang biasanya lincah memencet tombol kalkulator, kini menekan titik-titik asam laktat di punggungku tanpa ampun.

"Aduh, Ma! Pelan-pelan! Itu punggung suamimu, bukan adonan pempek!" protesku sambil mendesis menahan perih yang bercampur panas.

"Ini udah pelan, Pa," sahut Wati tak acuh, tapi tekanan jarinya sedikit melembut. "Papa semalam pamit berangkat dari kontrakan jam setengah sepuluh malam bawa ember cat sama cetok. Terus Abang baru pulang jam setengah tiga pagi. Tadi pas Abang pulas mendengkur, aku perhatiin baju Abang bau apek debu campur bau tanah basah yang aneh banget. Kayak bau bunga melati layu."

Wati menghela napas panjang, menempelkan telapak tangannya di bahuku.

"Baru hari pertama, Pa. Papa sadar nggak, tidur Papa malam ini cuma tiga jam? Manusia itu butuh waktu supaya organ dalamnya bisa istirahat. Kalau Papa maksain kerja kayak orang gila begini selama tiga belas hari sampai kita diusir dari kontrakan Bu Dina... Papa bisa tumbang. Kena serangan jantung."

"Nggak bakal, Ma," bantahku, mencoba memutar leherku yang mulai terasa hangat. "Ini cuma kaget di hari pertama doang. Besok-besok juga ototnya udah adaptasi. Lagian, Papa tadi malam sekalian babat rumput ilalang setinggi paha di halaman depan, makanya baju Papa bau tanah basah begitu. Wajar."

Wati tidak menjawab lagi. Ia menutup balsem itu, lalu beranjak menuju dapur kecil kami.

Terdengar suara gemerincing sendok beradu dengan gelas kaca, disusul suara kompor gas yang dinyalakan. Aroma mentol dari balsem di punggungku kini perlahan bercampur dengan aroma harum jahe bakar dan gula merah yang menguar dari arah dapur.

Sepuluh menit kemudian, Wati kembali membawa sebuah mug besar yang mengepulkan uap panas.

"Nih, diminum mumpung masih panas," kata Wati, menyodorkan mug itu ke tanganku. "Wedang jahe merah geprek campur gula aren. Tadi malam aku sengaja siapin di kulkas, tinggal direbus pagi ini. Biar angin di punggung Papa rontok."

Aku menerima mug itu. Hangatnya menjalar ke telapak tanganku yang masih kaku. Kutempelkan ujung mug ke bibir, menyeruput cairan manis pedas itu perlahan. Rasa hangat jahe langsung mengalir ke kerongkongan, turun ke lambung, memberikan sensasi nyaman yang seketika mengusir sisa-sisa hawa dingin malam tadi.

"Makasih, Ma. Enak banget," pujiku tulus.

Lihat selengkapnya