Pukul 20:45 malam.
Jalanan menuju Cileungsi selalu terasa seperti simulasi jalur off-road pedalaman di malam hari. Minimnya penerangan jalan umum, ditambah lubang-lubang aspal seukuran kawah meteor bekas gilasan ban truk tronton pengangkut tanah, membuat setiap meter perjalanan adalah penyiksaan tulang-tulangku.
Tulang ekorku menjerit protes setiap kali ban Vario-ku yang shockbreaker-nya sudah mati menghantam aspal hancur. Tapi, tulang ekorku harus sadar diri bahwa cicilan KPR bank dengan bunga floating tidak pernah menerima surat keterangan sakit dari klinik BPJS tingkat pertama. Apalagi setelah sisa tabungan melayang tiga juta rupiah sore tadi, ditransfer paksa demi menyelamatkan nasib kuliah Dila, adik bungsuku di Semarang.
Malam ini adalah malam keduaku bekerja sebagai kuli tunggal di rumah ini. Rasa lelah dari shift siangku sebagai Project Manager di kawasan Mega Kuningan masih menempel di pundak. Siang tadi, aku mengenakan kemeja rapi, memegang laser pointer, dan meneriaki para sub-kontraktor karena plesteran lobi gedung apartemen mewah yang kurang rapi. Malam ini, aku hanyalah seorang pria paruh baya berjaket kulit sintetis terkelupas yang sedang menghitung sisa koin di kantong jaketnya.
Sebelum benar-benar masuk ke kawasan perumahan mati itu, aku sempat mampir sebentar di warteg pinggir jalan raya Jonggol. Aku hanya memesan sepiring nasi rames dengan lauk telur dadar kering, orek tempe yang bumbunya terlalu manis, dan segelas es teh manis. Aku memakannya dengan kecepatan kilat, nyaris tanpa dikunyah, dikelilingi oleh supir truk dan kuli bangunan sungguhan yang menatapku dengan ekor mata. Mungkin mereka heran melihat pria dengan helm proyek putih berlabel "PM" makan seganas orang yang belum bertemu nasi tiga hari.
"Berapa, Bu?" tanyaku sambil meletakkan gelas es teh yang sudah kosong melompong.
"Tiga belas ribu, Pak," jawab ibu warteg tanpa menoleh dari sinetron azab di TV tabung kecilnya.
Aku merogoh saku, mengeluarkan selembar sepuluh ribuan lecek dan tiga koin seribuan. Sambil melangkah keluar dari warteg, otakku secara otomatis kembali mengkalibrasi Rencana Anggaran Biaya (RAB) di kepalaku. Sisa uang di dompetku sekarang tepat dua ratus empat belas ribu rupiah. Uang itu harus cukup untuk beli bensin Vario sampai hari gajian minggu depan, dan yang paling penting untuk membeli material tambahan malam ini.
Aku membelokkan Honda Vario lecetku masuk ke gapura P RUMAH N GRIYA A WANG yang huruf-huruf besinya sudah berkarat dan rontok.
Blok Seram No. 13 menyambutku dengan kesunyiannya.
Aku mematikan mesin Vario. Suara jangkrik yang tadinya sayup-sayup terdengar riuh dari arah rawa di belakang perumahan, mendadak berhenti total begitu ban depan motorku menyentuh lantai teras rumah ini. Seolah-olah ada saklar raksasa yang mematikan pita suara jutaan serangga itu. Seolah-olah mereka tahu ada predator tak kasat mata yang sedang berkuasa di rumah ini.
Aku tidak peduli. Selama predator itu tidak menagih iuran kebersihan dan keamanan RT bulanan, aku tidak akan ambil pusing. Lagipula, hantu mana yang berani menakut-nakuti bapak-bapak beranak dua yang sedang dikejar batas waktu diusir dari kontrakan? Kalau mereka mau unjuk gigi, antre di belakang bank.
Aku mengeluarkan gembok dari pagar karatan, membukanya dengan bunyi Teng! yang bergema memecah keheningan, lalu menuntun motorku masuk.
Begitu pintu utama kubuka, hawa pengap khas rumah yang lama ditinggalkan langsung menyergap paru-paruku. Aku langsung menyalakan lampu kuning 15 watt yang kubawa kemarin. Pemandangannya masih sama persis. Debu tebal, sisa gundukan pasir di sudut, dan Lemari TV Tabung Jati raksasa yang membeku di tengah ruang tamu seperti nisan kuburan kayu raksasa.
Aku menghampiri dinding ruang tengah yang semalam kutambal dengan susah payah melawan anomali gravitasi gila. Aku menyorotkan senter dari smartphone-ku yang layarnya retak ke arah tambalan itu.
Retakannya sudah tertutup rapi. Semen Tiga Roda mahal yang kugunakan semalam telah mengering sempurna, mengikat susunan bata merah yang sempat hancur. Warnanya abu-abu terang, kontras dengan dinding sekitarnya yang menghitam karena jamur, tapi strukturnya kokoh.
"Alhamdulillah. Bagian ini aman," gumamku puas, menepuk dinding itu pelan dengan telapak tanganku yang kasar. "Seenggaknya gravitasi di rumah ini lagi nggak kumat."
Aku menoleh ke arah Lemari TV Tabung Jati itu. Layar cembungnya memantulkan cahaya bohlam kuningku.