Jantungku berdegup kencang. Refleksku bekerja. Hawa dingin merayap naik dari tumit hingga ke tengkukku. Bulu kudukku berdiri serentak. Ini adalah pemandangan klasik dari film horor Suzzanna yang sering ditonton Ibuku. Setan yang marah yang meminta tumbal.
Tapi kali ini, otakku gagal memproses ketakutan mistis itu. Kenapa? Karena bau yang menyertai cairan merah itu bukanlah bau amis darah manusia, bukan bau karat besi, apalagi bau bangkai tikus mati.
Hidungku mengendus udara dengan tajam, mencoba mengenali partikel bau yang menginvasi ruangan. Bau ini sangat spesifik. Sangat kuat. Sangat manis. Dan sangat tidak wajar, tidak logis, dan tidak relevan berada di dalam sebuah rumah kosong berdebu di ujung Cileungsi.
Bau gula aren yang dimasak terlalu lama di atas tungku kayu bakar. Bau manis karamel yang pekat, lengket, dan gosong.
Aku menatap cairan merah kental yang kini membentuk genangan kecil sebesar telapak tangan di atas lantai semen. Cairan itu sangat kental, melar saat menetes, dan memantulkan cahaya bohlam kuning dari ruang tamu dengan kilau yang berminyak.
"Apa-apaan ini...?" gumamku pelan, kebingungan setengah mati. Otak insinyurku yang sudah kelelahan tingkat dewa kini dipaksa melakukan senam akrobatik untuk mencari logika fisika, biologi, atau kimia di balik fenomena gila ini.
Apakah ada sarang lebah madu raksasa mutan di dalam dinding bata ini? Apakah pemilik rumah lama yang kabur itu menyembunyikan selusin tong sirup Marjan di atas plafon dan kini wadahnya bocor merembes ke dalam struktur bata? Ataukah ini getah pohon langka yang bereaksi dengan kalsium di dalam beton?
Sambil mengernyitkan dahi dengan ekspresi jijik bercampur penasaran ilmiah, aku mengambil ujung cetok bajaku dari dalam ember. Aku melangkah mendekat, lalu mencolek genangan cairan lengket di dinding itu. Cairan merah gelap itu menempel di ujung besi cetokku, melar seperti keju mozzarella panas yang terbuat dari darah.
Aku mendekatkan ujung cetok itu ke hidungku.
Ya. Tidak salah lagi. Bau karamel yang sangat menyengat, sangat manis sampai membuat rahangku ngilu, berpadu dengan bau kapur dari semen curahku, menghasilkan aroma memualkan yang membuatku ingin muntah.
Tiba-tiba, fenomena ini memutuskan untuk meningkatkan eskalasinya.
Dari arah ruang tamu, terdengar suara Lemari TV Tabung Jati itu bergetar pelan.
Bzzzt... Bzzzt... Lampu bohlam kuning 15 watt di depanku mulai berkedip redup. Udara di dalam kamar anakku ini mendadak turun drastis dalam hitungan detik, berubah menjadi sedingin ruang penyimpanan daging freezer di supermarket. Napasku mulai menghasilkan kabut putih tipis di udara.
Hawa merinding kembali merayapi sekujur tubuhku. Insting bertahan hidup dari otakku menjerit keras: Lari! Lari sekarang, Budi! Tinggalkan rumah gila ini, naik Vario-mu, peluk istrimu, dan jangan pernah kembali lagi! Biarkan bank menyita rumah iblis ini!
Tapi, sedetik kemudian, sebuah kejadian di depan mataku membunuh insting lari itu seketika, dan menggantinya dengan emosi lain yang jauh lebih mematikan bagi akal sehat: Kemarahan kelas pekerja.
Di bawah sorotan senter smartphone-ku, aku melihat adukan semen curahku yang menempel susah payah di dinding mulai... meleleh.
Cairan karamel berdarah aneh itu tampaknya tidak hanya lengket, tapi memiliki reaksi kimia yang sangat korosif. Ia menghancurkan struktur semen murahanku dari dalam! Tambalanku yang kubuat selama satu jam penuh dengan mengorbankan otot bahuku, mulai menggelembung, retak, dan rontok satu per satu ke lantai dengan bunyi plak... plak... yang basah dan menjijikkan.
Di titik itulah, urat sabarku sebagai kuli berdasi, sebagai suami yang tertekan, sebagai ayah yang miskin, putus total tanpa sisa.
Aku tidak lagi takut pada setan berdarah karamel. Aku tidak peduli jika tembok ini adalah portal menuju neraka ketujuh. Yang aku pedulikan saat ini adalah: Hasil kerja kerasku selama satu jam terakhir hancur sia-sia, dan material yang kubeli pakai sisa uang sakuku meleleh jadi sampah!
"WOI!!!"
Teriakanku menggelegar dahsyat, memantul di dinding kamar kosong itu, memecah keheningan malam perumahan terbengkalai. Suaraku lebih keras dari guntur.
"Setan mana pun yang lagi main-main di dalam tembok ini, dengerin aku!" bentakku beringas.
Aku mengepalkan tanganku yang memegang cetok erat-erat hingga buku-buku jariku memutih. Aku menunjuk tepat ke arah retakan bata yang terus mengucurkan darah karamel korosif itu. Wajahku memerah padam karena amarah yang memuncak. Napasku memburu seperti banteng terluka.