Pukul 12:30 Siang. Hari Rabu. Tepat empat belas hari sebelum tenggat waktu pengusiran dari paviliun Ibu Dina si Induk Semang jatuh tempo.
Secara teknis, psikologis, dan medis, aku seharusnya sudah berada di bangsal psikiatri Rumah Sakit Jiwa Dharmawangsa hari ini. Atau setidaknya, sedang duduk bersila di depan seorang ustaz ruqyah profesional untuk membersihkan jiwaku dari sisa-sisa kejadian mistis semalam.
Setelah 'kemenangan' absurdku di Blok Seram No. 13 tadi malam. Saat aku dengan beringas menyumbat dinding yang memuntahkan cairan karamel berdarah menggunakan semen curah seharga lima belas ribu sekilo. Perlahan Insting survival-ku mulai menyusul kesadaranku pagi ini.
Semalam, adrenalin dan amarah kuli kasarku memang menang. Aku pulang dengan perasaan congkak seolah baru saja menaklukkan naga. Tapi siang ini, saat aku berdiri di depan cermin wastafel toilet direksi proyek apartemen Mega Kuningan, kengerian itu akhirnya merayap masuk.
Matahari bersinar terik di luar, tapi bayanganku di cermin terlihat seperti pria yang baru saja menatap langsung ke dalam gerbang neraka. Kantung mataku menghitam dan menggantung lemas seperti dompetku di akhir bulan.
Tepat setelah aku mengunyah habis bekal nasi putih dan telur dadar sisa sarapan buatan Wati, logika dan egoku melakukan reboot secara paksa. Keras kepalanya seorang pria kelas pekerja yang dikejar tagihan kembali mengambil alih sistem sarafku.
"Nggak ada yang namanya hantu, Budi," kataku pada cermin, suaraku menggema pelan di dalam toilet berlantai marmer itu. Aku membuka keran, membiarkan air dingin mengalir, lalu mengusap wajahku yang kusam dengan kasar.
"Cairan lengket itu... itu pasti gas metana. Ya, gas metana dari septic tank tua yang bocor dan terjebak di rongga bata selama bertahun-tahun. Lalu gas itu bereaksi secara kimiawi sama mineral dari semen curah murahan yang udah kadaluarsa itu," aku terus meracau, merangkai jaring kebohongan ilmiah yang sangat rapuh.
"Itu fenomena alam biasa! Namanya Swamp Gas. Gas rawa! Cileungsi kan dulunya rawa. Gas rawa kalau kena tekanan udara bisa nyala ungu sendiri, namanya Will-o'-the-wisp! Bau manisnya? Itu... itu dari getah pohon karet yang tertimbun di bawah fondasi dan terfermentasi. Masuk akal! Sangat masuk akal secara ilmu sipil dan geologi!"
Sebuah pembenaran yang sangat sistematis, terstruktur, dan dungu.
Aku mengarang teori Gas Rawa itu sepenuhnya dari nol, menggabungkan ingatan samar-samar tentang artikel majalah National Geographic yang pernah kubaca di ruang tunggu dokter gigi bertahun-tahun lalu, dengan ilmu cocoklogi khas bapak-bapak di pos ronda.
Mana ada septic tank yang bau kotorannya berubah jadi bau karamel macchiato? Mana ada gas rawa yang bisa melelehkan semen secara instan?
Aku tahu teori ini memiliki kecacatan logika yang tinggi. Tapi aku memaksakan diriku untuk memercayainya. Karena jika aku melepaskan teori Gas Rawa itu dan mengakui bahwa aku baru saja menang berkelahi dengan entitas dimensi lain menggunakan semen murahan, maka seluruh fondasi hidupku akan runtuh. Aku harus tetap menjadi Insinyur yang rasional, agar Wati tidak kehilanganku.
Trrrt... Trrrt...
Ponselku yang layarnya retak bergetar hebat di dalam saku celana bahan kerjaku. Nama "Polda Rumah Tangga (Wati)" berkedip di layar. Aku buru-buru menarik napas panjang, menetralkan ekspresi panik di wajahku, dan mengangkatnya.
"Halo, Ma? Tumben jam istirahat nelpon. Ada apa? Ryu nggak rewel kan makan siangnya?" sapaku dengan nada serileks mungkin.
"Ryu aman, Pa, lagi main balok," suara Wati terdengar cepat dan bersemangat dari seberang sana. "Eh, Papa! Mama bawa kabar bagus banget! Papa inget kan Mama lagi mantengin flash sale di aplikasi oranye dari bulan lalu buat ngisi ruang tamu rumah baru kita?"
Jantungku tiba-tiba berdetak satu ketukan lebih cepat. "Iya... inget. Kenapa, Ma?"
"Dapet dong! Mama berhasil checkout Sofa L minimalis warna Scandinavian Grey idaman Mama! Diskonnya gila-gilaan, Pa, dari harga empat juta jadi cuma sejuta delapan ratus! Pakai paylater cicilan enam bulan, bunganya nol persen! Tokonya di Bogor, jadi ongkirnya juga murah!" jerit Wati kegirangan.
"Alhamdulillah," balasku lemas. Kepalaku tiba-tiba pening membayangkan cicilan paylater baru yang diam-diam menyusup ke dalam struktur RAB bulananku. "Tapi, Ma... sofa L itu kan lumayan besar ukurannya..."
"Nah, itu dia! Ukurannya dua setengah meter kali satu setengah. Makanya, posisinya harus pas, Pa. Nggak bisa sembarangan. Mama udah ngukur-ngukur dari foto ruang tamu yang Papa kirim waktu itu. Sofanya harus ditaruh menempel di dinding ruang tengah, persis menghadap ke arah pintu masuk biar feng shui-nya dapet dan tamu langsung lihat."
Darahku mendadak berhenti mengalir ke ujung jari.