WUSSS!
Udara terbelah oleh ayunan kepalan besi raksasa itu. Lintasannya sempurna. Momentumnya maksimal. Jika itu menghantam dinding bata, batanya pasti hancur berantakan.
Namun, kepala palu godamku tidak pernah menyentuh permukaan kaca TV tersebut.
Tepat saat palu godamku berada sekitar dua sentimeter dari layar kaca, sebuah fenomena yang mematahkan seluruh hukum fisika Isaac Newton dan Albert Einstein terjadi dalam sepersekian detik.
Udara di depan TV itu mendadak mengeras.
Layar kaca yang tadinya gelap gulita tiba-tiba memancarkan kilatan cahaya statis berwarna ungu neon yang sangat terang, menyilaukan mataku. Dari permukaan TV dan panel kayunya, muncul sekumpulan pola geometris berbentuk heksagonal semi-transparan yang saling mengunci satu sama lain, membentuk sebuah perisai medan gaya energi.
Itu adalah sebuah Force Field.
BZAAAAAAAP-DHUAAAR!!!
Bunyi yang dihasilkan bukanlah suara kaca pecah atau kayu retak. Bunyinya seperti suara trafo listrik tegangan tinggi yang meledak tepat di samping telingaku, bercampur dengan suara gong raksasa yang dipukul di dalam ruangan hampa.
Momentum energi kinetik dari ayunan palu godamku yang seberat ratusan kilogram gaya itu, dibalikkan dan dipantulkan kembali kepadaku dengan persentase 100% tanpa adanya redaman sedikit pun. Hukum Kekekalan Energi sedang mengejekku secara langsung.
Dampaknya sangat brutal.
Kedua pergelangan tanganku terasa seperti dihantam oleh kereta peluru Shinkansen yang sedang melaju kencang. Tulang-tulangku menjerit karena beban pantulan yang ekstrem. Gagang kayu di tanganku bergetar dengan frekuensi gila yang membuat tanganku mati rasa seketika.
Palu godam itu memental balik ke arahku dengan kecepatan yang lebih mengerikan, menarik tubuhku bersamanya.
"A-akhhh!"
Tubuhku yang memiliki berat delapan puluh lima kilogram terangkat dari lantai, terlempar ke belakang melayang di udara, layaknya boneka kain yang ditendang oleh raksasa.
Aku melayang sejauh dua meter, melewati tumpukan sisa pasir, dan menghantam dinding bata ruang tamu yang keras dengan punggungku lebih dulu.
Brakkk!
Semua udara di dalam paru-paruku terdesak keluar secara instan. Pandanganku berubah menjadi putih selama beberapa detik. Palu godam sialan seharga seratus dua puluh ribu itu terlepas dari genggamanku yang lumpuh, jatuh berdenting di lantai keramik. Tubuhku melorot jatuh ke lantai, meringkuk seperti janin yang kedinginan.
"U-uhuk... hhk... aakhh..."
Aku terbatuk keras, memegangi dadaku yang terasa sesak. Tulang rusukku nyeri bukan main, tapi untungnya tidak ada yang patah. Pergelangan tanganku berdenyut-denyut panas, membengkak seketika. Kepalaku pening, dunia terasa berputar. Telingaku berdenging panjang, menyisakan suara ngiiiing bernada tinggi yang menutupi suara lainnya.
Dengan susah payah, aku memaksa mataku untuk terbuka, mengedipkan debu dari pelupuk mataku.
Melalui pandanganku yang buram, aku melihatnya.
Lemari Meja TV Tabung Jati itu masih berdiri membeku di tempatnya, tak bergeser walau hanya dalam skala milimeter. Pola heksagonal berwarna ungu neon itu perlahan-lahan memudar dari udara di sekitarnya, menyusut kembali masuk ke dalam pori-pori kayu jati dan layar kacanya yang kembali gelap dan membisu.
Benda itu baru saja mempertahankan teritorialnya. Ia baru saja mendemonstrasikan pertahanan absolutnya kepada entitas biologis rapuh bernama manusia.
Aku terbaring di atas lantai berdebu itu selama nyaris lima menit penuh. Berusaha mengembalikan ritme napasku yang kacau.