Hari Kamis. Tiga belas hari menuju eksekusi pengusiran dari paviliun Ibu Dina si Induk Semang.
Siang itu, cuaca ibukota sedang tidak bersahabat, seolah matahari Jakarta memindahkan jaraknya menjadi hanya beberapa kilometer di atas ubun-ubun siapa saja yang berani berjalan di luar ruangan tanpa pelindung. Namun, panasnya aspal proyek Mega Kuningan yang sedang kuinjak dengan sepatu safety saat melakukan inspeksi lapangan pengecoran lobi, tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan panasnya dering telepon yang mendadak bergetar brutal di saku celana kerjaku.
Polda Rumah Tangga (Wati) Calling...
Nama yang berkedip di layar retak ponselku itu seketika membuat langkah kakiku terhenti mendadak. Sepatu berdebu abu-abu yang kukenakan seolah menempel kuat pada lantai beton basah. Jantungku memompa darah dua kali lipat lebih cepat.
Sebagai seorang suami yang sudah nyaris sepuluh tahun mengarungi bahtera rumah tangga, aku memiliki sensor bahaya domestik yang sangat akurat. Apalagi, istriku Wati adalah seorang lulusan S1 Manajemen dari sebuah universitas swasta ternama.
Banyak orang meremehkan gelar manajemen, tapi mereka tidak tahu bahwa insting Wati terhadap arus kas (cash flow) jauh lebih tajam, lebih presisi, dan lebih kejam daripada gabungan tiga auditor pajak dari kementerian keuangan. Tidak ada satupun rupiah yang keluar masuk dari rekening kami yang bisa lolos dari pantauan radar mutasinya.
Wati sangat jarang—nyaris tidak pernah—meneleponku di tengah jam sibuk proyek (pukul dua siang), kecuali ada dua hal darurat yang terjadi: Anak kami tiba-tiba masuk UGD, atau ada malapetaka finansial yang baru saja terdeteksi oleh layar mobile banking-nya.
Mengingat Abby dan Ryu pagi tadi sehat walafiat, riang gembira menyantap sarapan telur dadar dan berangkat sekolah, maka hanya tersisa satu kemungkinan.
Dan kemungkinan itu langsung membuat keringat dingin sebesar biji jagung mengucur deras di leher belakangku, menembus kerah kemeja flanelku.
Tiga juta rupiah. Transfer diam-diam ke rekening Dila dua hari yang lalu.
Sialan. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) versi rumah tanggaku pasti baru saja melakukan audit mutasi rekening bulanan.
Dengan tangan sedikit gemetar dan menarik napas panjang ala narapidana yang melangkah masuk ke ruang interogasi, aku menggeser ikon hijau di layar ponselku.
"Halo, Ma? Tumben telepon jam segini. Ada apa? Ryu udah pulang TK?" sapaku dengan nada seramah dan senormal mungkin. Suaraku kubuat sedikit lebih berat, mencoba memancarkan aura 'suami pekerja keras yang sedang sangat sibuk mencari nafkah di bawah terik matahari'.
"Papa Budi," suara Wati di seberang sana terdengar sangat tenang. Terlalu tenang. Ini adalah jenis ketenangan sebelum badai level lima menyapu daratan. "Mama baru aja buka m-banking buat bayar tagihan listrik kontrakan bulan ini. Mama iseng ngecek mutasi sekalian mau lihat sisa dana cadangan buat material rumah Cileungsi kita."
Aku menelan ludah. Tenggorokanku terasa seperti diisi oleh segenggam pasir silika kering. Di dunia konstruksi, aku bisa berdebat urat leher dengan arsitek arogan manapun soal mekanika tanah, tapi berhadapan dengan sidang buku kas Wati adalah level kengerian psikologis yang sama sekali berbeda.
"Oh... gitu. Aman kan, Ma saldonya?" pancingku hati-hati, mencoba bermain bodoh.
"Papa Budi sayang," nada suaranya turun satu oktaf, berubah menjadi desisan mematikan yang bisa membekukan darah alien dari dimensi manapun. "Bisa tolong jelasin ke Mama, kenapa saldo tabungan darurat kita tiba-tiba berkurang tiga juta rupiah tadi malam? Ada transfer keluar ke rekening atas nama Dila Puspitasari. Coba jelasin pelan-pelan."
Skakmat.
Insting survival pria beristriku langsung mengambil alih. Di momen seperti ini, kebohongan tambahan hanya akan menjadi jalan tol menuju hukuman tidur di luar rumah selama sebulan. Aku harus jujur, tapi dengan sedikit balutan manipulasi empati.
"I-itu, Ma... semalam Dila nelpon Papa sambil nangis sesenggukan," jawabku hati-hati, memelankan suaraku dan berjalan menjauh dari area mesin mixer agar kuli-kuli lain tidak mendengar bos mereka sedang disidang. "Dia butuh banget buat bayar uang seragam, alat-alat medis, sama pendaftaran ujian praktik profesi Ners-nya."
"Tiga juta, Bang? Tanpa ngomong ke Mama dulu?" potong Wati cepat.
"Deadline-nya kemarin, Ma!" sergahku, membiarkan keputusasaan menguasai suaraku. "Kalau nggak dibayar saat itu juga, dia nggak bisa ikut praktik profesi di Rumah Sakit Kariadi bulan depan. Dia bisa telat lulus setahun, Ma. Papa panik, Papa nggak tega nolak. Bapak kan udah nggak ada, siapa lagi yang biayain dia jadi perawat kalau bukan kita kakaknya?"
Terdengar helaan napas panjang dan sangat berat dari seberang telepon. Rasa marah Wati sepertinya bertabrakan dengan rasa empatinya yang tulus. Wati tahu betul betapa pentingnya pendidikan perawat Dila bagi keluarga kami. Wati juga yang sering membawakan Dila oleh-oleh kalau kami sedang menjenguk ke Semarang. Tapi sebagai lulusan S1 Manajemen yang memegang sabuk hitam dalam perencanaan keuangan keluarga, simpati tidak bisa digunakan untuk membayar tukang bangunan.
"Mama ngerti, Pa. Mama juga sayang banget sama Dila. Mama dukung dia jadi Ners," nada suara Wati melemah, kemarahannya sedikit surut, namun ketegasannya sebagai Menteri Keuangan tetap berdiri kokoh bak pilar baja. "Tapi Papa sadar kan, sisa tabungan kita sekarang benar-benar nol besar?"
Aku terdiam, memejamkan mata sambil mendengarkan vonis dari istriku.
"Kita cuma pegang cash buat makan sehari-hari sama ongkos bensin Papa sampai gajian minggu depan," lanjut Wati dengan nada lelah. "Kalau ada apa-apa sama renovasi rumah di Cileungsi... kita udah nggak punya dana talangan buat beli material. Mama nggak mau tau ya, Pa. Papa harus puter otak. Mama nggak mau rumah itu masih berantakan pas kita pindah. Anak-anak mau tidur di mana?"
"Rumah aman, Ma," dustaku dengan pelumas kepanikan, meluncur begitu saja dari lidahku. "Papa bisa handle semuanya pakai sisa material kemarin. Jangan khawatir. Rumah Blok Seram itu sebentar lagi mulus. Sofa L Mama bulan depan pasti bisa masuk ke ruang tamu yang cantik."