Rumah Kami Sebelum Pindah Dimensi : KPR & Punggung Ayah

PapaDi_YSELnury
Chapter #13

0.13 - LORONG TANPA UJUNG YANG MELANGGAR IMB

Non-Euclidean Geometry. Anomali ruang.

Rumah Blok Seram No. 13 baru saja memutuskan untuk mengubah parameter dimensi fisiknya. Gencatan senjata dengan TV Tabung di depan mungkin berhasil, tapi sistem anomali di rumah ini rupanya tidak hanya berpusat pada benda itu. Struktur rumah ini sendiri adalah sebuah organisme dimensi yang mematikan.

"Nggak mungkin... nggak mungkin..." suaraku bergetar. Keringat dingin mengucur deras di pelipisku. Bau karamel kembali tercium.

Aku mulai berlari. Aku berlari sekuat tenaga ke arah ruang tamu. Sepatu boots bekasku berdentum keras menghantam lantai keramik. Dak! Dak! Dak!

Aku berlari selama nyaris satu menit penuh. Paru-paruku terbakar. Jika dihitung secara logis, aku seharusnya sudah menabrak dinding rumah tetangga di seberang jalan.

Tapi saat aku berhenti dan terengah-engah... pintu depan itu masih berada tepat empat meter di depanku. Begitu juga kamar mandi di belakangku, yang kini terlihat hanya seperti titik hitam kecil di ujung terowongan tanpa batas.

Dinding di sebelah kiri dan kananku mulai terasa menyempit. Cat putih kusamnya seolah bergerak-gerak, bernapas, mengamati kepanikanku seperti mikroskop mengamati bakteri. Kesunyian di lorong panjang ini sangat absolut, hingga aku bisa mendengar suara detak jantungku sendiri yang berdegup layaknya drum konser rock.

Pikiranku mulai hancur. Ketakutan merobek paksa pertahanan logika yang kubangun.

Aku berhadapan dengan sesuatu yang menentang semua hukum desain arsitektur yang kupelajari di bangku kuliah empat tahun lamanya. Ruang tidak bisa melar. Jarak tidak bisa menipu. s = v * t. (Jarak adalah Kecepatan dikali Waktu). Jika aku bergerak dengan kecepatan konstan selama satu menit, jaraknya harus bertambah. HUKUM ALAM TIDAK BISA DIBANTAH!

"WOI!!!" aku menjerit histeris, suaraku menggema ratusan kali di sepanjang lorong tak berujung itu, menciptakan efek echo yang menyeramkan.

"INI RUMAH TIPE TUJUH PULUH! LU DENGER GAK?! TIPE TUJUH PULUH!" aku berteriak frustasi pada dinding di sebelahku.

Aku memukul dinding bata di sebelah kananku dengan kepalan tanganku hingga lecet.

"TANAHKU CUMA SERATUS METER PERSEGI! DARI MANA DATANGNYA LORONG DUA KILOMETER INI, BANGSAT?! PBB-NYA BAYAR KE SIAPA?! AKU BISA DIDENDA PEMDA KALAU KETAHUAN PUNYA LORONG SEPANJANG INI TANPA IMB!“

Aku berlari sambil berteriak,

“TELEVISI SIALAN! PLESTER DINDING SEPANJANG INI BUTUH SEMEN DAN PASIR BERSAK-SAK! BUDGET DARI MANA?!"

Ini adalah tingkat denial dan kemarahan tertinggi dari seorang pria yang ditekan oleh sistem kapitalisme dan KPR. Alih-alih takut dimakan oleh monster dimensi, aku malah memikirkan pelanggaran Izin Mendirikan Bangunan (IMB) dan Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) dari anomali ruang ini dan dana yang harus aku habiskan untuk memperbaikinya.

Napasku nyaris habis. Lorong berlapis cat kusam ini seolah hidup, terus memanjang dan mendistorsi hukum fisika di depan mataku. Tulang ekorku mati rasa. Paru-paruku terbakar.

Di titik ini, rasanya lebih mudah untuk menyerah. Berbaring saja di atas ubin sedingin es ini, memejamkan mata, dan membiarkan anomali sialan ini menelanku hidup-hidup ke galaksi antah berantah. Toh, di dimensi lain mungkin aku tidak perlu lagi pusing memikirkan bunga floating KPR. Mati terdengar seperti opsi resign yang cukup menggiurkan.

Tapi, saat kelopak mataku perlahan menutup, suara melengking Wati di telepon siang tadi tiba-tiba meledak di dalam kepalaku.

"Papa Budi sayang, bisa tolong jelasin ke Mama, kenapa saldo tabungan darurat kita tiba-tiba berkurang tiga juta rupiah tadi malam? Ada transfer keluar ke rekening atas nama Dila Puspitasari. Coba jelasin pelan-pelan"

Mataku mendadak terbuka lebar. Keringat dingin yang sekarang menetes di pelipisku bukan lagi karena teror alien, melainkan murni karena terror seorang wanita lulusan S1 Manajemen.

Logika insinyurku langsung menghitung probabilitas terburuk. Kalau aku mati ditelan lorong dimensi ini sekarang, Wati pasti akan mengambil alih ponselku. Dia akan mengecek history m-banking-ku. Dia akan tahu aku diam-diam memakai semen curah yang tidak masuk spesifikasi. Dan yang paling mengerikan... aku akan meninggalkan Wati sendirian untuk menghadapi debt collector bank setiap tanggal lima belas.

Lihat selengkapnya