Rumah Kami Sebelum Pindah Dimensi : KPR & Punggung Ayah

PapaDi_YSELnury
Chapter #14

0.14 - ARSITEKTUR KASIH SAYANG

Hari Minggu. Delapan hari sebelum tenggat waktu pengusiran dari paviliun Ibu Dina jatuh tempo.

Bagi sebagian besar pekerja kantoran atau pegawai negeri di ibukota, Minggu pagi adalah sebuah oase. Sebuah waktu yang suci di mana alarm ponsel dimatikan paksa, jalur Sudirman ditutup untuk Car Free Day yang dipenuhi pesepeda berharga puluhan juta, dan aroma roti panggang perlahan menguar dari dapur-dapur rumah kelas menengah ke atas.

Minggu adalah hari istirahat, hari penebusan lelah.

Namun bagiku, sang Insinyur yang sedang terjebak di antara dua siksaan yang berbeda. Dimana yang satu KPR dan yang lainnya renovasi dimensi lain. Hari Minggu pagi hanyalah sebuah jeda penyiksaan yang terlalu singkat sebelum cambuk realita kembali diayunkan ke punggungku.

Aku membuka mata perlahan saat cahaya matahari pagi yang panas menyusup masuk melewati celah ventilasi kontrakan kami yang kotor berdebu. Mataku terasa lengket, seolah direkatkan oleh lem pipa PVC. Kulirik jam dinding plastik yang menempel miring di atas pintu.

Pukul 07:30 pagi.

Aku menghela napas panjang. Ini adalah rekor tidur terpanjangku dalam satu minggu terakhir: Lima jam penuh. Sebuah kemewahan yang tidak terkira bagi kuli shift ganda sepertiku.

Semalam, sepulang dari renovasi rumah di Blok Seram No. 13 dan merenung menahan amarah di teras gelap itu, aku memacu Vario-ku seperti orang linglung yang kehilangan arah. Tiba di kontrakan Cibubur pukul setengah tiga pagi, aku membuka pintu dengan sangat perlahan agar tak berderit, lalu langsung ambruk di atas kasur lipat tipis yang digelar di ruang depan.

Aku bahkan tidak punya sisa tenaga untuk sekadar mandi atau mengganti kaus oblongku yang masih berbau apak campuran kapur semen curah dan keringat asam. Otakku terlalu lelah untuk memproses pentingnya kebersihan badan dan bebas bau badan, dan tubuhku terlalu hancur untuk sekadar mengambil air digayung bentuk love di kamar mandi.

Aku mencoba bergerak untuk bangun.

KREK.

Sebuah letupan suara yang sangat tidak menyenangkan terdengar dari dasar tulang belakangku, tepat di area persendian Lumbar L4 dan L5. Aku benci tahu istilah ini yang terus diucapkan tukang urut setiap aku minta dipijit.

Aku mendesis pelan, mengertakkan rahang menahan sakit. Rasanya seperti ada seseorang yang diam-diam menyuntikkan adukan semen cor basah ke dalam sumsum tulangku selama aku tidur, lalu membiarkannya mengeras sempurna menjadi beton pagi ini.

“Badan remuk” tahap ekstrem. Otot punggung, lengan, dan pergelangan tanganku semuanya berkolaborasi dalam paduan suara mengirimkan sinyal rasa sakit tingkat tinggi ke sistem saraf pusatku. Mengaduk puluhan kilo pasir dan semen sambil bernegosiasi dengan entitas dimensi lain terbukti bukanlah rutinitas yang disarankan untuk bapak-bapak usia empat puluh tahun dengan pola makan ala kadarnya.

Dengan bertumpu pada kedua sikuku, aku memaksakan diri untuk duduk. Kepalaku langsung pening, dunia terasa berputar lambat. Tekanan darahku pasti kumat lagi.

Saat pandanganku mulai fokus, hal pertama yang kulihat di ruang depan kontrakan itu adalah dua pasang mata bulat yang sedang menatapku dari jarak dekat.

Abby, putri sulungku yang baru kelas 6 SD, sedang duduk bersila di atas karpet hanya berjarak setengah meter dari kasurku. Ia masih memakai piyama kelincinya yang kebesaran. Di sebelahnya, Ryu, sang jagoan kecil yang baru masuk TK, berjongkok sambil memegang sebuah mobil pemadam kebakaran plastik berwarna merah di tangan kanannya.

Mereka berdua terdiam, menatapku dengan ekspresi yang sangat sulit diartikan. Ada campuran antara rasa penasaran, bingung, dan... rasa kasihan yang polos.

Tatapanku dan tatapan Abby saling bertemu dan terkunci.

Hening menyelimuti ruang depan yang sempit itu. Kipas angin Cosmos di sudut ruangan berputar patah-patah, suaranya terdengar mendominasi.

Aku baru menyadari pemandangan seperti apa yang sedang kuberikan pada anak-anakku pagi ini. Aku duduk di atas kasur tipis dengan rambut kusut masai, wajah berminyak dan kotor, kantung mata hitam legam seperti orang kurang gizi, dan kaus oblong putih yang sudah berubah warna menjadi abu-abu dekil karena noda semen yang mengerak.

Tanganku gemetar. Bukan karena sakit, tapi karena sebuah pukulan psikologis yang telak menghantam egoku sebagai seorang kepala keluarga.

Aku adalah seorang pahlawan di mata mereka berdua. Bagi Ryu, aku adalah Superman yang bisa memperbaiki mainannya yang patah. Bagi Abby, aku adalah pelindung yang selalu menanyakan tugas matematikanya.

Tapi pagi ini, aku terlihat persis seperti gembel gelandangan pinggir jalan yang kebetulan nyasar tidur di ruang tamu mereka.

Ke mana perginya Papa yang selalu wangi parfum murahan setiap pagi? Ke mana perginya pria gagah berhelm putih yang selalu dibanggakan Abby pada teman-temannya sebagai "Project Manager Gedung Bertingkat"?

Semua wibawa itu hancur, terkikis habis oleh kerasnya perlawanan terhadap KPR dan material bangunan sisa.

Lihat selengkapnya