Rumah Kami Sebelum Pindah Dimensi : KPR & Punggung Ayah

PapaDi_YSELnury
Chapter #15

0.15: CINCIN YANG TERGADAI

Senin pagi. Tepat tujuh hari sebelum kami secara resmi dan paksa diusir dari kontrakan paviliun Ibu Rina.

Hari ini, alam semesta dan tubuhku sepakat untuk melakukan pemberontakan. Sesuatu yang sudah diprediksi oleh Wati sejak malam pertama shift gandaku, akhirnya terjadi juga.

Pukul 05:00 subuh. Aku terbangun bukan karena bunyi sound horeg tetangga laknat yang menyiksa, melainkan karena rasa dingin yang luar biasa menusuk hingga ke sumsum tulang.

Aku menggigil hebat di atas kasur lantai. Gigiku bergemeretak tanpa bisa kukendalikan. Padahal, kipas angin Cosmos di sudut ruangan dalam keadaan mati, dan aku sudah tidur menggunakan kaus tebal berlapis selimut bermotif macan tutul milik Wati.

Kucoba mengangkat tangan kananku untuk menarik ujung selimut agar menutupi leher, namun tanganku terasa seperti terbuat dari jeli yang dibekukan. Berat, ngilu, dan mati rasa. Kepalaku berdenyut kencang seirama dengan detak jantungku, pandanganku berkunang-kunang di tengah remangnya kamar.

"Ma..." panggilku pelan. Suaraku keluar lebih mirip seperti rintihan kucing terjepit. Tenggorokanku kering seperti amplas kasar.

Wati yang tidur di sebelahku, dan yang selalu memiliki radar sensitif terhadap kejanggalan di rumahnya, langsung membuka mata. Ia menoleh, menatapku dengan kening berkerut.

"Kenapa, Pa? Tumben jam segini udah manggil. Ada yang sakit?" tanya Wati, suaranya masih serak karena baru bangun tidur.

Wati duduk, menyalakan lampu tidur kecil di sebelah bantalnya. Cahaya kuning redup itu langsung mengekspos kondisiku.

Wati tersentak kaget. Matanya yang tajam membesar. "Ya Allah, Pa! Muka Papa pucat banget kayak mayat!" serunya panik.

Dengan gerakan cepat, tangan Wati mendarat di dahiku. Sedetik kemudian, ia langsung menarik tangannya seolah baru saja menyentuh panci panas di atas kompor.

"Astaga, panas banget! Papa demam tinggi ini! Badan Papa menggigil tapi keringatnya segede-gede jagung!" cecar Wati, nada paniknya bercampur dengan nada seorang komandan yang sedang memarahi prajuritnya yang ceroboh.

"Udah Mama bilang kan? Udah Mama bilangin berkali-kali! Badan manusia itu ada batasnya, Bang! Papa siang panas-panasan dijemur di proyek Sudirman, malamnya kedinginan di rumah kosong Cileungsi itu, terus pulangnya jam tiga pagi, kena angin malam Jonggol yang jahatnya minta ampun! Robot aja turun mesin kalau digeber begini, apalagi Papa yang umurnya udah masuk kepala empat!"

Aku hanya bisa memejamkan mata, membiarkan omelan Wati membombardir telingaku. Aku tidak punya tenaga untuk membantah. Semua yang dikatakannya adalah fakta yang tak terbantahkan. Omelan istri terkadang lebih ampuh dari obat parasetamol dosis tinggi.

"Bentar, Mama bikinin teh manis hangat sama ambil obat penurun panas di kotak P3K," kata Wati sambil bergegas bangkit dari kasur. "Hari ini Papa izin nggak masuk kerja ke kantor. Titik."

"J-jangan, Ma," tolakku dengan suara gemetar, memaksakan diri membuka mata. "Hari ini... schedule penting. Pengecoran basement... harus ada Project Manager yang tanda tangan approval mutunya... kalau nggak, owner bisa ngamuk..."

Wati menghentikan langkahnya di ambang pintu kamar. Ia berbalik, menatapku dengan tatapan mematikan khas golongan darah ISTJ yang marah karena logikanya ditantang.

"Pa," panggil Wati rendah, suaranya sangat dingin, mengalahkan suhu demamku. "Papa mau owner apartemen itu ngamuk gara-gara ngecor basement telat sehari, atau Papa mau anak-anak jadi yatim hari ini juga gara-gara bapaknya mati kelelahan di lapangan?!"

Aku terdiam.

"Papa pikir owner proyek itu peduli kalau Papa mati?" Wati melanjutkan serangannya tanpa ampun. Dadanya naik turun menahan emosi yang meluap. "Mereka cuma bakal kirim karangan bunga duka cita seharga sejuta, ngasih santunan alakadarnya, terus besoknya mereka bakal pasang lowongan kerja cari Project Manager baru buat gantiin Papa! Sementara Mama? Kak Abby? Dek Ryu? Kita mau digantiin siapa, Pa? Siapa yang mau bayar KPR rumah hantu itu kalau Papa mati?!"

Air mata mulai menggenang di pelupuk mata Wati. Omelan panjangnya pagi ini bukan sekadar kemarahan karena aku tidak patuh, melainkan manifestasi dari ketakutan terdalam seorang istri kelas pekerja yang sangat bergantung pada punggung suaminya.

"Udah, istirahat!" pungkas Wati final, mengusap kasar ujung matanya, lalu menghilang ke arah dapur kontrakan.

Aku memejamkan mata, menelan ludah yang terasa perih. Perkataan Wati menghantam dadaku lebih keras dari palu godam mana pun. Ambisi dan arogansiku untuk menanggung beban seluruh keluarga sendirian, tanpa sadar telah membuatku menjadi pria paling egois di mata istriku.

Setengah jam kemudian, setelah Wati memaksaku menelan dua butir parasetamol dan meminum segelas penuh teh manis hangat, aku perlahan-lahan kehilangan kesadaran. Obat itu bekerja, memaksa tubuhku yang rusak ini untuk melakukan shut down guna proses perbaikan internal.

Aku tertidur pulas tanpa mimpi, melupakan sejenak tagihan, semen, dan suara ketukan paralon di Blok Seram No. 13.

Pukul 11:30 Siang.

Aku terbangun dengan sensasi lengket di sekujur tubuhku. Kaus oblongku basah kuyup oleh keringat, menempel di kulit seperti plastik. Namun anehnya, tubuhku terasa jauh lebih ringan. Rasa dingin yang menusuk tulang sudah hilang, digantikan oleh suhu tubuh yang perlahan kembali normal, meski kepalaku masih sedikit berdenyut.

Parasetamol dan teh manis Wati telah menjalankan tugasnya dengan baik. Demamku turun.

Aku memaksa diri duduk bersandar di dinding. Suasana kontrakan sangat sepi. Abby dan Ryu pasti sedang berada di sekolahnya masing-masing. Hanya ada suara dengungan kipas angin yang menyala pelan di depanku.

"Udah bangun, Bang?"

Aku menoleh. Wati sedang duduk bersila di atas karpet ruang depan, tepat di dekat TV tabung kami. Di depannya terhampar beberapa buku tulis lecek yang berfungsi sebagai buku kas harian, kalkulator saku yang tombol-tombolnya sudah pudar, dan sebuah kotak besi kecil tempat ia biasa menyimpan surat-surat penting.

"Udah mendingan, Ma," kataku dengan suara parau. Aku meraih gelas air putih di sebelah bantalku dan menegaknya habis. "Kepala udah nggak seberat tadi pagi. Makasih ya obatnya."

Lihat selengkapnya