Rumah Kami Sebelum Pindah Dimensi : KPR & Punggung Ayah

PapaDi_YSELnury
Chapter #16

0.16: PASUKAN TURUN GUNUNG


Senin Malam. Tujuh hari menuju eksekusi pengusiran dari paviliun Ibu Rina.

Pukul 19:00 WIB.

Aku berdiri mematung di halaman depan Blok Seram No. 13. Kunci gembok berkarat sudah berada di tanganku, namun selama lima menit terakhir, aku hanya berani menatap pintu kayu kamper utama itu dari jarak tiga meter.

Terus terang, nyaliku belum sepenuhnya pulih. Ingatan tentang dentuman keras dari dalam dinding lorong, cetakan tangan raksasa yang menonjol dari plesteran semen, dan hembusan napas berbau karamel gosong dari wastafel dapur beberapa malam lalu masih terekam dengan resolusi 4K di dalam otakku.

Jika bukan karena ancaman Wati pagi tadi—yang telah menggadaikan cincin Mas Kawin kami demi membiayai sisa material rumah ini—aku mungkin akan memilih tidur di musala proyek Sudirman daripada kembali ke sarang anomali dimensi ini.

Tapi malam ini berbeda. Aku tidak datang ke medan perang ini sendirian. Sesuai instruksi Wati, aku dilarang masuk ke dalam rumah sebelum "Pasukan Inti" tiba.

Sebuah sorot lampu kuning dari arah jalan beton yang gelap memecah lamunanku. Suara mesin motor dua tak yang bising terdengar mendekat. Sebuah Bajaj biru berbahan bakar gas merayap pelan menyusuri blok perumahan mati ini, lalu berhenti tepat di depan pagar karatan Blok Seram No. 13.

"Awas, Dek Ryu, pelan-pelan turunnya. Jangan injak genangan air, nanti sepatunya kotor!"

Suara lantang nan presisi itu menggelegar, langsung membelah aura mistis dan kesunyian mencekam yang biasanya menyelimuti rumah ini. Itu adalah suara Wati. Menteri Keuangan, Panglima Logistik, dan penguasa mutlak hidupku.

Aku buru-buru menghampiri Bajaj tersebut. Wati turun lebih dulu, mengenakan setelan celana training panjang dan kaus oblong yang sudah agak pudar. Di tangan kanan dan kirinya, ia menenteng dua tas belanja lipat berukuran besar yang tampak sangat berat.

Di belakang Wati, muncullah anak sulungku, Abby. Anak perempuan berusia sepuluh tahun itu turun dengan wajah ditekuk, mengenakan celana jeans selutut dan kaus oversize. Tangan kirinya memegang erat sebuah tablet Android berukuran delapan inci yang layarnya sudah retak parah menyerupai peta retakan Grand Canyon.

Dan yang terakhir, Ryu, anak bungsuku yang berumur lima tahun, melompat turun dengan antusiasme yang salah tempat. Ia memakai jaket parasut kecil dan memeluk erat mobil-mobilan pemadam kebakaran plastik miliknya.

"Papa!" seru Ryu, berlari kecil menghampiriku lalu menabrakkan kepalanya ke pahaku. "Papa nggak jadi hantu lagi! Kata Mama malam ini kita mau kemah di rumah balu ya?"

Aku tersenyum lebar, rasa hangat yang luar biasa seketika menyapu dadaku, mengusir sisa-sisa hawa dingin dari rumah rongsokan di belakangku. Aku berlutut, mengacak-acak rambut Ryu yang berbau sampo melon.

"Bukan kemah, Bos Kecil. Kita mau ngecat rumah baru. Biar kamar Ryu sama Kak Abby cepet jadi," balasku.

"Ih, Ma, debunya nggak estetik banget sih di sini!" protes Abby sambil mengibas-ngibaskan tangan di depan hidungnya, menatap ilalang dan teras rumah yang kotor. "Gelap lagi. Emang di dalem ada sinyal internet? Kalau aku nggak bisa login buat ngecek engagement videoku hari ini, algoritma aku bisa ancur lebur lho, Pa!"

Aku tertawa kecil mendengar ocehan Gen Alpha itu. "Nggak usah mikirin algoritma dulu malam ini, Kak. Lagian ini handphone Papa udah Papa tethering hotspot -nya, nanti Kakak numpang Wi-Fi Papa aja kalau mau buka YouTube."

Wati menyerahkan salah satu tas belanja yang berat itu kepadaku setelah membayar ongkos Bajaj. "Udah, jangan banyak ngobrol di luar. Pamali malam-malam. Ayo masuk. Mama bawa logistik buat amunisi kita malam ini."

Aku memutar kunci, membuka gembok pagar, lalu membuka pintu utama. Aku melangkah masuk lebih dulu, menyalakan sakelar. Bohlam 15 watt berwarna kuning menyala, menerangi ruang tamu yang berdebu.

Begitu Wati, Abby, dan Ryu melangkah masuk melewati ambang pintu... sebuah keajaiban yang tidak bisa dihitung dengan rumus fisika manapun terjadi.

Hawa dingin yang menusuk tulang, yang selalu menyiksaku setiap kali aku membuka pintu ini sendirian, mendadak lenyap. Bau melati sintetik dan aroma karamel gosong yang pekat itu seolah ditiup pergi oleh sebuah badai tak kasat mata, digantikan oleh aroma harum semur jengkol, rendang daging, dan wangi pelembut pakaian dari baju Wati.

Aku menoleh ke arah Lemari TV Tabung Jati raksasa di sudut ruangan. Benda itu masih berada di posisinya. Namun, wujudnya tidak lagi berupa Lemari Meja TV Jati kuno yang menakutkan. Dua malam yang lalu, setelah insiden pantulan palu godam, aku memutuskan untuk meminimalkan teror psikologis pada diriku sendiri. Aku telah menutupi seluruh permukaan meja dan layar TV cembung itu menggunakan lembaran-lembaran koran bekas dan kardus mi instan yang diselotip asal-asalan.

Kini, benda itu hanya terlihat seperti tumpukan barang rongsokan tak berbentuk yang ditutupi kertas kusam. Tidak ada celah untuk melihat kayunya, apalagi layar kacanya.


Benda yang tempo hari mementalkan palu godamku dengan Force Field statis itu, kini terlihat... sangat biasa. Tidak ada aura mengancam, tidak ada rasa berat di udara.

Rumah ini, entitas apa pun yang bersarang di dalamnya, sepertinya memutuskan untuk "menunduk" dan bersembunyi. Entah karena mereka takut pada keramaian, atau mungkin, setan Cileungsi dan alien dimensi sekalipun tahu bahwa menantang seorang ibu rumah tangga yang sedang marah adalah tindakan bunuh diri.

"Ya ampun, Pa," omel Wati, matanya langsung memindai setiap sudut ruangan seperti radar pendeteksi kecacatan. "Ini debu tebalnya udah kayak gurun pasir! Terus itu, semen sisa di lantai kok nggak disapu? Pantesan Papa sakit, sirkulasi udaranya kotor begini!"

Wati meletakkan tas belanjanya di area yang agak bersih, lalu mulai mengeluarkan isinya. Senjata pamungkas andalan ibu-ibu Indonesia: Rantang Tupperware susun empat, termos nasi, sebotol besar es teh manis, dan setumpuk koran bekas.

"Kak Abby, Dek Ryu, jangan duduk di lantai!" perintah Wati tegas. "Pa, gelar terpalnya sekarang. Sama itu, tutupin TV kayu raksasa yang nggak guna itu pakai plastik atau koran, biar nggak kena cipratan cat dinding."

Aku mengangguk patuh bagaikan kuli harian yang baru digaji. Segala teror di kepalaku menguap. Suara omelan Wati adalah musik paling menenangkan yang pernah kudengar.

Aku mengambil segulung terpal biru tebal berukuran empat kali enam meter dari sudut ruangan, lalu membentangkannya di tengah ruang tamu. Namun, karena rumah ini memiliki desain ventilasi cross-circulation yang aneh, angin malam yang masuk dari arah lorong dapur berhembus cukup kencang, membuat ujung-ujung terpal itu terus terlipat dan beterbangan.

"Sial, anginnya kenceng bener," rutukku pelan.

Aku merogoh tas perkakasku, mengambil segulung tali tambang plastik berwarna kuning. Niatku adalah mengikat keempat ujung terpal itu ke pilar kusen jendela dan ke pangkal terali besi berkarat di dekat pintu agar terpalnya tegang dan tidak bergeser saat kami mengecat nanti.

Aku berlutut di dekat terali, melingkarkan tali tambang itu, dan membuat simpul mati ala kuli bangunan biasa. Kutarik kuat-kuat.

Lihat selengkapnya