Hari Selasa. Enam hari sebelum Bu Rina si pemilik kontrakan resmi mengeksekusi barang-barang kami ke teras depan.
Tepat pukul 23:00 WIB, roda Honda Vario lecetku berhenti di depan paviliun kontrakan Cibubur.
Aku mematikan mesin, melepas helm proyek putihku dengan gerakan yang sangat pelan, lalu menghela napas panjang.
Sesuai janjiku pada Wati dan "Pakta Integritas" yang kami sepakati hari Minggu kemarin setelah insiden tergadainya perhiasan Mas Kawin. Aku tidak lagi bekerja sendirian di Blok Seram No. 13 hingga dini hari. Maksimal pukul sepuluh malam, aku sudah harus mencuci tangan dari sisa semen, mengunci gembok pagar, dan melaju pulang.
Secara teori, pengurangan jam kerja ini seharusnya mengembalikan waktu tidur nyenyak yang diidam-idamkan oleh istriku. Secara teori, aku seharusnya bisa bangun pagi keesokan harinya dengan tubuh yang lebih segar untuk.
Namun, realita kelas pekerja yang sedang diburu deadline pengusiran tidak pernah seindah teori medis.
Aku mendorong pintu depan kontrakan yang tidak dikunci.
Cklek.
Pemandangan yang menyambutku di ruang tamu atau lebih tepatnya, apa yang tersisa dari ruang tamu kami, langsung membuat sisa-sisa energiku menguap ke udara.
Ruangan berukuran tiga kali enam meter itu kini lebih mirip gudang logistik distributor sembako yang baru saja dirampok. Berpuluh-puluh kardus bekas mi instan, air mineral, dan minyak goreng bertumpuk setinggi pinggang orang dewasa. Beberapa kardus sudah ditutup rapat dengan lakban cokelat tebal dan diberi label menggunakan spidol permanen: 'Baju Papa', 'Buku Resep Mama', 'Mainan Ryu', 'Perabot Dapur Jangan Dibanting'.
Di tengah lautan kardus itu, Wati sedang duduk bersila di atas lantai keramik. Ia mengenakan kaus oblong pudar kesayangannya, dengan peluh membasahi dahi dan lehernya. Tangannya dengan lincah membungkus lusinan piring kaca dan gelas beling menggunakan lembaran koran bekas, lalu menatanya hati-hati ke dalam sebuah kardus tebal.
"Udah pulang, Pa" sapa Wati tanpa menoleh, konsentrasinya penuh pada gelas kaca di tangannya.
"Udah, Ma. Sesuai jadwal," jawabku serak, melangkah masuk sambil menghindari tumpukan kardus Rice Cooker. "Tadi siang Papa udah pesen semen Tiga Roda yang asli dari toko bangunan kenalan Papa di proyek. Besok sore dikirim langsung ke Cileungsi. Nanti hari Kamis atau Jumat, Papa bawa dua orang kuli harian proyek buat bantu ngebut plester sisa tembok belakang yang bolong."
"Bagus," Wati mengangguk puas. "Kalau pakai semen bagus dan ada yang bantuin ngaduk, kerjanya pasti lebih cepet. Papa nggak usah adu nyali sendirian lagi malam-malam."
Aku meletakkan ransel kerjaku di atas kardus bertuliskan 'Buku Abby'. Mataku memindai ruangan.
Ada yang aneh.
Sesuatu yang besar, empuk, dan biasanya memakan sepertiga luas ruang depan kami, mendadak hilang.
"Ma, kasur lantai kita yang tebal itu mana?" tanyaku bingung.
Biasanya, kasur busa berbalut seprai motif macan tutul itu selalu tergelar rapi di depan TV tabung, siap menyambut tulang punggungku yang hancur sepulang kerja.
Wati menyelesaikan bungkusan piring terakhirnya, lalu menatapku dengan wajah datar tanpa dosa.
"Udah Mama gulung siang tadi, Pa," jawab Wati santai. Ia menunjuk ke sudut ruangan di dekat lemari pakaian. "Tuh, udah Mama ikat kuat-kuat pakai tali rafia rangkap tiga, terus Mama bungkus pakai plastik bening gede sisa laundry-an biar nggak kena debu pas diangkut ke mobil pick-up hari Minggu nanti."
Mataku membulat. Aku menatap gulungan kasur raksasa yang sudah terikat mati itu layaknya menatap artefak berharga yang baru saja dikurung di dalam peti kaca museum.
"Digulung? Terus malam ini... kita tidur di mana, Ma?" tanyaku dengan suara bergetar, ngeri membayangkan harus membaringkan tulang belakangku yang sedang radang asam laktat ini ke atas lantai keramik yang keras dan dingin.
Wati menghela napas, menepuk lantai keramik di sebelahnya.
"Ya di bawah sini lah, Pa. Pindah rumah itu ada seninya. Barang-barang besar yang paling menuh-menuhin tempat harus di-packing dari jauh-jauh hari biar kita lega geraknya. Lagian, sisa waktu kita di sini tinggal menghitung hari. Masa mau buka gulungan kasur tiap malam terus pagi diikat lagi? Capek tenaga."
Aku menelan ludah yang terasa perih. Logika Wati, seperti biasa, sangat absolut dan tidak bisa dibantah. Memang, mengikat kasur busa tebal sendirian adalah pekerjaan yang menguras keringat. Wati yang sudah bersusah payah melakukannya siang tadi tidak mungkin mau disuruh membukanya kembali.
"Terus... nggak ada alas sama sekali?" protesku lemah, mencari belas kasihan.
"Ada. Itu, di belakang pintu," Wati menunjuk dengan dagunya. "Mama sisain tikar plastik lipat yang warna biru. Sama bantal kepala kita berdua. Udah, gelar aja tikarnya di depan TV situ. Anak-anak biarin aja tidur di kamar mereka dulu, kasur kapuk mereka belum Mama bungkus."
Aku menatap tikar plastik biru yang disandarkan di dinding. Tikar itu tipisnya nyaris transparan. Ketebalannya mungkin tidak lebih dari dua milimeter. Membaringkan tubuh remuk dari proyek ke atas tikar plastik itu sama saja dengan tidur langsung di atas aspal jalanan.
Tapi aku adalah kuli berdasi yang sudah kehilangan hak veto sejak insiden mutasi tiga juta rupiah itu.