Hari Kamis. Empat hari sebelum Bu Rina si pemilik kontrakan resmi mengeksekusi barang-barang kami ke jalanan aspal Cibubur.
Pukul 20:00 WIB.
Aku berdiri merentangkan tangan di atas kursi kayu reyot di ruang tengah Blok Seram No. 13. Tangan kananku memegang kuas cat yang masih basah oleh cairan berwarna hijau mint. Wati yang memilih warna ini tempo hari. Katanya warna hijau itu bisa bikin hati adem, biar sumpeknya rumah ini agak berkurang. Sebuah ironi yang membuatku ingin tertawa miris, karena rumah rongsokan ini tanpa dicat hijau pun sudah sering membuat bulu kudukku berdiri kedinginan.
Malam ini, suasana rumah terasa anteng sekali. Terlalu anteng, malah.
"Tumben kau diam," gumamku pelan, mengoleskan cat hijau ke sudut pertemuan antara tembok dan plafon pelan-pelan supaya tidak meluber. "Baguslah kalau begitu. Cukup sudah melihat istriku menggadai cincin, aku tidak butuh drama tambahan dari alien atau demit Cileungsi minggu ini. Otakku sudah penuh."
Aku turun dari kursi, mundur beberapa langkah untuk menilai hasil sapuan kuasku di bawah cahaya bohlam 15 watt.
"Lumayan. Tidak kalah dengan kerjaan tukang harian. Besok malam tinggal ditimpa lapisan kedua, selesailah urusan mengecat ini," evaluasiku sendiri. Aku menghela napas panjang saat teringat anggaran beli keramik yang hangus buat membayar kemah praktikum adikku, Dila. "Kamar anak-anak terpaksa aku kasih semen poles sajalah sementara. Yang penting tidak becek."
Tiba-tiba, sebuah ritme suara elektronik yang sangat familiar, suara yang selalu sukses membuat jantung bapak-bapak di akhir bulan berdegup kencang, memecah kesunyian rumah itu.
Tit... Tit... Tit... Tit...
Gerakanku terhenti. Kuas di tanganku menggantung di udara.
Aku memutar badan. Suaranya bukan dari dalam tembok atau dari dapur belakang. Suara itu asalnya dari tembok depan luar rumah, tepat di sebelah jendela ruang tamu.
Itu suara alarm meteran listrik prabayar PLN.
"Loh? Kenapa lagi ini?" Alisku berkerut jadi satu.
Aku menaruh kuas sembarangan ke atas kaleng cat, lalu jalan cepat keluar menuju teras. Aku mendongak, menatap kotak meteran listrik biru yang menempel di tembok berjamur. Angka digital warna merah di layarnya berkedip-kedip cepat sekali, membuat mataku perih.
002.15 kWh
"Lah! Dua koma lima belas?!" seru aku refleks, mataku melotot.
Aku mengucek mata kasar-kasar, takutnya korneaku sudah sedikit error karena kebanyakan mencium bau tiner cat. Tapi angkanya tidak berubah. Sisa setrum di rumah ini nyaris nol mutlak.
"Pintar betul PLN ini mencari duit," dengusku sinis.
Otak logisku langsung berputar. Tadi siang, pas jam istirahat makan siang di proyek Sudirman, aku sengaja mampir ke minimarket untuk membeli pulsa token listrik seratus ribu rupiah khusus buat rumah ini. Untuk daya 1300 VA, uang seratus ribu itu seharusnya dapat sekitar 69 kWh.
Dan sore tadi, jam enam pas aku baru sampai di sini, aku sendiri yang memencet dua puluh digit angka token itu ke meterannya. Aku ingat betul layarnya menunjukkan angka 71.50 kWh (ditambah sisa pulsa lama).
Sekarang baru jam delapan lewat seperempat. Artinya, baru dua jam berlalu sejak pulsa seratus ribu itu masuk!
"Halo, PLN? Ini meterannya yang rusak atau rumah aku dicolok diam-diam sama tukang las gaib?" tanyaku sarkas pada kotak plastik itu.
Di rumah rongsokan ini, satu-satunya benda elektronik yang menyedot listrik itu cuma satu buah bohlam 15 watt yang menyala di ruang tamu. Tidak ada AC, tidak ada kulkas, tidak ada pompa air karena aku memakai air PDAM langsung.
Bohlam 15 watt itu butuh waktu ratusan hari menyala terus-menerus untuk bisa menghabiskan daya 70 kWh. Menghabiskan daya sebesar itu dalam waktu dua jam itu... tidak masuk di akal.
Tit... Tit... Tit... Tit...
Suara alarm itu makin membuat telingaku penging. Aku memencet sembarang tombol di meteran untuk membisukan suaranya sementara.
"Korslet ini mah," gumamku akhirnya, menemukan satu-satunya alasan teknis yang masuk di akal orang proyek. "Pasti ada kabel utama di atas plafon yang insulasinya digigit tikus sawah sampai telanjang, terus tembaganya menempel ke baja ringan atau bocor mengalir langsung ke tanah. Arusnya terbuang sia-sia."
Memikirkan ada kabel telanjang dan korsleting sebesar itu di rumah yang bakal ditempati anak istriku, membuat darahku mendidih. Korsleting begini bahaya sekali, bisa memicu percikan api lalu rumahnya kebakaran pas kami sedang tertidur nanti.
"Sialan. Nambah kerjaan saja," rutukku, balik kanan masuk ke dalam rumah.
Aku menyambar senter kecil dari tas perkakas, terus menarik kursi reyot tadi ke tengah ruang tamu. Aku harus memastikan instalasinya aman malam ini juga.
Aku naik ke atas kursi. Tepat di atasku, ada manhole, lubang kotak buat mengecek plafon, di plafon gypsum.
Kudorong penutup manhole itu ke atas. Klotak. Segumpal debu asbes tebal, jaring laba-laba, plus kotoran cicak kering langsung rontok menimpa mukaku.
"Uhuk! Uhuk! Asem betul," aku terbatuk-batuk, mengibaskan udara kotor di depan hidung sambil mengutuk-ngutuk developer lama rumah ini yang bikin ventilasi asal-asalan.