Rumah Kami Sebelum Pindah Dimensi : KPR & Punggung Ayah

PapaDi_YSELnury
Chapter #19

0.19: POLISI KECIL BERSAPU LIDI


Jumat Malam. Tiga hari menuju hari pembalasan bagi tumpukan kardus di kontrakan kami.

Pukul 21:00 WIB.

Aku sedang berjongkok di ruang depan kontrakan Cibubur, dikelilingi oleh benteng-benteng kardus yang tingginya sudah melewati bahuku. Tanganku yang sudah kapalan ini sibuk melilitkan lakban cokelat pada sebuah kardus berisi setumpuk buku teknik sipil milikku dan beberapa novel lama Wati. Suara srek-srek dari lakban yang kutarik menjadi satu-satunya musik latar di ruangan yang pengap ini.

Sejak insiden "Token Listrik yang Disedot TV" kemarin malam, suasana hatiku sedang tidak keruan. Aku merasa seperti sedang bertanding tinju melawan lawan yang tidak kelihatan. Logika insinyurku terus-menerus mencari jawaban tentang ke mana perginya daya listrik 70 kWh dalam dua jam di Blok Seram, sementara dompetku mulai berteriak minta tolong karena pengeluaran tak terduga.

"Papa, jangan melamun terus. Itu lakbannya miring-miring, nanti kardusnya jebol pas diangkat kuli angkut," tegur Wati yang sedang sibuk menyortir pakaian di sudut lain.

"Iya, Ma. Papa cuma terpikir soal instalasi di Blok Seram itu. Rasanya tidak tenang kalau belum kupanggil tukang listrik ahli buat mengecek ulang. Bahaya kalau korsletnya makin parah," jawabku, mencoba menormalkan suaraku yang agak serak.

"Sudahlah, Pa. Besok Sabtu kan Papa bawa kuli harian ke sana. Sekalian saja suruh mereka cek jalur kabel di plafon itu. Sekarang fokus dulu kemasi barang-barang kita ini. Hari Senin itu sebentar lagi datangnya," sahut Wati tanpa menoleh, tangannya lincah melipat daster.

Aku mengangguk, lalu pandanganku beralih ke arah pintu kamar anak-anak yang sedikit terbuka. Sejak tadi, aku merasa ada yang aneh dengan Abby dan Ryu. Biasanya, di jam-jam seperti ini, mereka akan ribut memperebutkan remote TV atau setidaknya Ryu akan merengek minta dibuatkan susu cokelat sebelum tidur.

Tapi malam ini, kamar itu sunyi. Terlalu sunyi untuk ukuran dua anak kecil yang biasanya tidak bisa diam.

Penasaran, aku bangkit berdiri perlahan. Tulang punggungku berderak protes, memberikan sensasi ngilu yang sudah jadi "makanan" harianku. Aku melangkah pelan, menghindari tumpukan kardus Indomie, dan mengintip ke dalam kamar mereka.

Di dalam, lampu kamar sudah dimatikan. Namun, ada pendaran cahaya kehijauan yang remang-remang memancar dari sudut kasur lantai mereka. Aku melihat siluet Abby dan Ryu sedang duduk berhadapan. Posisi mereka sangat tegang, kaku, seolah sedang melakukan rapat rahasia tingkat tinggi di tengah kegelapan.

Lalu, aku mendengar suara ketukan yang berirama.

Tuk... Tuk-tuk-tuk... Tuk...

Abby mengetukkan jarinya ke atas permukaan layar tablet retaknya. Ryu, dengan mata yang bulat penuh konsentrasi, membalas ketukan itu dengan mengetukkan ujung mainan mobil pemadam kebakarannya ke dipan kayu kasur.

Tuk-tuk... Tuk... Tuk-tuk-tuk...

Aku mengernyitkan kening. "Bah, apa pula yang kalian mainkan gelap-gelapan begini?" tanyaku sambil mendorong pintu lebih lebar.

Kedua anakku itu terlonjak kaget. Abby langsung mendekap tabletnya ke dada, seolah-olah aku baru saja memergokinya sedang meretas bank sentral. Sementara Ryu buru-buru menyembunyikan mobil pemadamnya di balik bantal. Wajah mereka berdua pucat, keringat sebesar biji jagung terlihat di pelipis Ryu meski kipas angin menyala.

"E-eh, Papa... tidak ada, Pa. Tidak main apa-apa," sahut Abby gelagapan. Suaranya sedikit bergetar, nada yang biasa ia gunakan kalau sedang menyembunyikan nilai ulangan matematika yang jelek.

Aku masuk ke dalam kamar, menyalakan lampu utama. Tring. Cahaya terang seketika menyinari kamar berukuran dua setengah meter itu. Aku menatap mereka dengan tatapan menyelidik.

"Kenapa kalian gelap-gelapan? Tadi Papa dengar suara ketukan. Macam kode rahasia saja kelihatannya. Kalian sedang main detektif-detektifan ya?" tanyaku, mencoba mencairkan suasana yang entah kenapa terasa sangat mencekam di dalam kamar ini.

Abby melirik Ryu sekilas, seolah berkomunikasi lewat mata, lalu menatapku kembali dengan senyum yang sangat dipaksakan.

"I-iya, Pa! Ini lho, kami lagi latihan buat Persami besok! Kakak kan sudah Penggalang, jadi Kakak lagi ngajarin Adek Sandi Morse dasar. Kata pembina Pramuka, kalau kita tersesat di hutan atau dalam bahaya, kita harus bisa komunikasi pakai sandi biar tidak ketahuan... orang jahat."

Aku tertawa kecil, meskipun ada bagian dari otak teknisku yang merasa ritme ketukan tadi terlalu... kompleks untuk sekadar latihan anak SD.

"Pramuka ya? Baguslah kalau begitu. Jadi tadi itu huruf apa? SOS? Atau 'Papa Ganteng'?" godaku.

"Bukan, Pa! Tadi itu... huruf... huruf buat 'Jagoan'!" sahut Ryu dengan semangat yang mendadak meledak, wajahnya yang tadi pucat kini memerah antusias. "Adek lagi latihan jadi jagoan, Pa! Adek mau bantu Kakak jagain rumah baru kita nanti dari monster... eh, dari maling!"

Lihat selengkapnya