Rumah Kami Sebelum Pindah Dimensi : KPR & Punggung Ayah

PapaDi_YSELnury
Chapter #20

0.20: PASUKAN BANTUAN TIBA


Sabtu pagi. Dua hari menuju hari Senin, hari di mana truk pick-up sewaan kami akan datang untuk mengangkut seluruh sisa harga diri dan perabotan kami dari Cibubur.

Pukul 08:30 WIB.

Sinar matahari pagi di Cileungsi terasa lebih menyengat dari biasanya, menembus debu-debu yang beterbangan di halaman depan Blok Seram No. 13. Namun, suasana di halaman rumah rongsokan itu tidak sesepi biasanya. Pagi ini, suara mesin motor Vario-ku ditemani oleh deru dua motor Supra lawas yang knalpotnya sudah keropos.

"Alhamdulillah! Sampai juga kita. Ini rumahnya, Pak Budi?"

Suara lantang itu datang dari Slamet, salah satu mandor tukang senior yang biasa bekerja di bawah arahanku di proyek Sudirman. Slamet adalah orang Jawa tulen yang sudah belasan tahun mengaduk semen. Di belakangnya, berdiri Parto, anak buah Slamet yang lebih muda, badannya gempal dan kulitnya hitam legam karena sering berjemur di atas lantai tiga puluh lima.

Aku turun dari motor, melepas helm putihku. "Iya, Met. Ini 'proyek pribadi' aku. Maaf ya, aku tarik kalian di hari libur begini ke Cileungsi. Tapi memang waktunya sudah mepet sekali. Senin depan aku sudah harus angkut barang ke sini," jelasku sambil menjabat tangan kasar mereka berdua.

Slamet melepas topi rimba kusamnya, matanya memicing menatap bangunan Blok Seram No. 13 dari pagar depan. Ia terdiam sejenak, hidungnya kembang kempis seperti sedang mencium sesuatu di udara.

"Rumahnya... kok hawanya begini ya, Pak?" gumam Slamet pelan.

Jantungku berdegup sedikit lebih kencang. "Begini gimana, Met?"

"Adem. Tapi ademnya bukan kayak kena angin, Pak. Kayak... kayak kita masuk ke dalem gedung tua yang nggak pernah dibuka jendelanya," jawab Slamet, menggaruk tengkuknya. "Tapi ya sudahlah, mungkin karena banyak ilalangnya ini. Ayo, To, turunin alat. Jangan kelamaan bengong, kasihan Pak Budi kejar setoran."

Parto segera menurunkan dua buah tas karung berisi cetok, palu, jidar aluminium, dan ember cor. Aku merasa lega luar biasa. Melihat dua sosok profesional ini berdiri di depanku, beban di pundakku seolah berkurang lima puluh kilogram. Arogansiku sebagai insinyur yang ingin mengerjakan semuanya sendiri memang sudah luntur, digantikan oleh rasa syukur karena tidak harus berhadapan dengan tembok berhantu itu sendirian hari ini.

Tak lama kemudian, sebuah truk engkel berwarna kuning berhenti di depan pagar. Di bak belakangnya, tertumpuk rapi dua puluh sak semen dengan logo tiga lingkaran merah yang sangat kukenal.

Semen Tiga Roda.

Melihat logo itu, hatiku mendadak perih. Aku teringat jari manis Wati yang kini kosong tanpa cincin Mas Kawin. Uang delapan belas juta hasil gadai perhiasan itu kini mewujud dalam bentuk tumpukan semen kualitas premium ini. Ini bukan sekadar material bangunan; ini adalah pengorbanan istriku yang harus kubayar lunas dengan hasil kerja yang sempurna.

"Met, To, denger ya," instruksiku sambil membantu mereka menurunkan sak semen ke teras. "Target kita hari ini cuma dua. Pertama, selesaikan plesteran dan acian di dinding belakang yang masih bolong-bolong. Kedua, aku mau kalian bantu aku buat lantai semen poles di dua kamar tidur. Aku nggak pakai keramik dulu karena dananya tidak cukup. Yang penting lantainya rata, mulus, dan tidak berdebu."

"Siap, Pak Budi. Kalau semennya pakai Tiga Roda mah enak, Pak. Tarikannya enteng, nggak gampang retak rambut," sahut Slamet sambil mulai merobek sak semen pertama.

Kami bertiga mulai bekerja. Aku mengambil peran sebagai pembantu tukang,sesuatu yang mungkin akan ditertawakan oleh bawahanku di proyek jika mereka melihatnya. Aku mengaduk pasir dan semen, membawa ember-ember cor yang berat, dan sesekali membantu memegang jidar aluminium untuk memastikan kelurusan dinding.

Suara gesekan cetok baja ke dinding bata mulai memenuhi rumah. Srek... srek... srek...

Suasana bekerja bertiga ini jauh lebih menyenangkan daripada bekerja sendirian dalam kegelapan. Obrolan khas kuli tentang harga beras, kelakuan anak di kampung, dan gosip proyek Sudirman membuat waktu berjalan terasa sangat cepat. Rumah Blok Seram No. 13 seolah-olah "menahan diri" untuk tidak menunjukkan keanehannya. Lemari TV Tabung Jati itu tetap membisu di sudut, tertutup lembaran plastik besar yang kupasang supaya tidak terkena cipratan semen.

Namun, sekitar pukul sebelas siang, saat matahari tepat berada di atas kepala, sebuah kejadian kecil terjadi.

Parto sedang mengerjakan plesteran di bagian bawah dinding ruang tengah, dekat dengan TV kayu tersebut. Tiba-tiba, ia menghentikan gerakannya.

"Pak Budi... Met... ini adukannya kok jadi aneh?" tanya Parto, suaranya terdengar bingung.

Aku dan Slamet menoleh serempak. Parto sedang mengaduk sisa semen di dalam ember kecilnya.

"Aneh gimana, To? Kebanyakan air?" tanya Slamet.

"Bukan. Tadi aku ambil adukan yang baru Pak Budi kasih. Pas mau kutempel ke dinding, tiba-tiba semennya jadi kenyal kayak karet. Ditarik nggak mau lepas dari cetok," jelas Parto, mencoba mencungkil gumpalan semen di embernya.

Aku segera mendekat. Bulu kudukku mulai merinding. Aku teringat insiden "Semen Karamel" di malam kedua. Aku mengambil secolek semen dari ember Parto. Teksturnya memang aneh, elastis, dan... hidungku menangkap aroma manis yang samar. Sangat tipis, tapi ada.

Slamet ikut mendekat, ia mencium bau itu juga. Ia menatapku dengan tatapan yang sulit diartikan. Slamet adalah orang desa yang kental dengan kepercayaan mistis.

"Pak Budi... rumah ini... bekas apa dulu?" tanya Slamet pelan.

Aku menelan ludah. "Bekas orang pindah tugas saja, Met. Kenapa?"

Slamet terdiam sejenak, lalu ia mengambil botol air mineral miliknya, menggumamkan doa singkat, lalu memercikkannya ke dalam adukan semen Parto. "Mungkin pasirnya ada yang nggak bersih, To. Campur lagi aja pakai semen baru yang masih kering. Jangan banyak mikir, dzikir aja dalem hati."

Lihat selengkapnya