Minggu Malam, pukul 22:30 WIB. Kurang dari delapan jam menuju hari Senin, hari di mana sejarah baru (atau penderitaan baru) keluarga Budi Setiawan akan dimulai.
Kontrakan paviliun di Cibubur ini sudah tidak lagi terasa seperti sebuah rumah. Kamar-kamar yang biasanya riuh oleh suara siaran televisi atau rengekan Ryu yang minta dibuatkan susu, kini berubah menjadi lorong-lorong sunyi yang dipenuhi gema. Dinding-dindingnya kosong melompong, hanya menyisakan noda-noda pudar berbentuk kotak di tempat kalender atau foto pernikahan kami dulu pernah menggantung.
Semua sudah masuk ke dalam kardus. Lima tahun kehidupan, keringat, dan air mata kami di bawah atap ini telah dipadatkan secara paksa menjadi empat puluh tiga kotak karton bekas mi instan dan air mineral. Kardus-kardus itu ditumpuk setinggi dada orang dewasa di ruang depan, membentuk barikade yang membuat ruang gerak kami nyaris tidak ada.
Aku duduk bersila di atas tikar plastik biru yang tipis, bersandar pada salah satu kardus berat yang berisi tumpukan buku diktat teknik sipilku. Tubuhku rasanya sudah bukan milikku lagi. Punggungku mati rasa, jemariku kasar dan kapalan akibat memoles semen seharian penuh kemarin di Cileungsi, dan mataku terasa seperti ditaburi pasir karena kurang tidur selama seminggu terakhir.
Wati duduk di sampingku. Kaus oblong pudar kesayangannya basah oleh keringat di bagian punggung. Ia baru saja selesai melakban kardus terakhir yang berisi peralatan mandi dan beberapa lembar handuk.
"Selesai, Pa," hembus Wati pelan. Ia menyandarkan kepalanya ke bahuku. Suaranya terdengar sangat lelah, namun ada nada kelegaan yang terselip di sana. "Tinggal barang-barang kecil yang besok pagi masuk ransel."
"Alhamdulillah. Besok jam tujuh pagi, truk pick-up Pak Slamet sudah sampai di depan gang. Kita angkut semua, langsung bablas ke Cileungsi," jawabku, secara refleks mengelus punggung tangan kirinya yang sedang beristirahat di atas pahaku.
Gerakanku terhenti sejenak saat ibu jariku mengusap jari manisnya. Rasa sesak itu kembali mencengkeram dadaku. Jari manis itu terasa kosong tanpa kehadiran cincin Mas Kawin kami. Kulit di sekitar pangkal jarinya terlihat sedikit lebih pucat, mencetak jejak melingkar dari perhiasan emas yang kini entah sedang tergeletak di brankas Pegadaian cabang mana.
"Ma, Papa janji," bisikku pelan, memecah keheningan di antara desingan kipas angin tua kami. "Begitu kita sudah tenang di sana, begitu katering pesanan proyek Papa yang kamu pegang nanti sudah lancar, Papa tebus lagi cincinmu. Papa tidak akan biarkan mahar kita berlama-lama disekolahkan."
Wati tersenyum tipis, menatapku dengan matanya yang dihiasi kantung hitam. "Sudahlah, Pa. Jangan dibahas terus, nanti malah jadi beban pikiran. Emas itu cuma barang mati. Yang penting kita berempat selamat sampai di sana, dan Papa tidak perlu lagi kerja rodi jadi kuli siluman setiap malam."
Aku mengangguk, mencoba menelan rasa gengsiku sebagai kepala keluarga. Pandanganku beralih ke pintu kamar anak-anak yang tertutup rapat.
"Anak-anak sudah tidur, Ma?" tanyaku.
"Tadi sih bilangnya sudah mengantuk. Tapi Kak Abby dari tadi sore masih pegang tablet retaknya terus. Katanya mau menyelesaikan urusan 'grinding level' terakhir pakai Wi-Fi kontrakan sebelum pindah. Mama biarkan sajalah malam ini, kasihan dia. Besok-besok mungkin sinyal internet di rumah Cileungsi itu jelek," sahut Wati sambil memijat pelipisnya.
Aku tersenyum tipis. "Ya, biarlah. Seminggu ini mereka sudah cukup kooperatif tidak banyak mengeluh soal rumah berantakan."
Aku memejamkan mata, mencoba menikmati sisa-sisa kedamaian di malam terakhir ini. Pikiranku melayang pada lantai semen poles yang sudah kubuat dengan susah payah di kamar mereka kemarin. Lantai itu sudah keras sekarang. Siap diinjak. Siap menjadi fondasi baru bagi anak-anakku.
Setidaknya, lantai semen buatanku jauh lebih logis dan bisa dikendalikan daripada meteran listrik PLN yang bisa tersedot habis dalam dua jam.
Tiba-tiba, keheningan malam itu robek oleh sebuah keributan yang luar biasa keras dari dalam kamar anak-anak.
BRAK! KLOTAK-KLOTAK!
Suara barang-barang plastik berjatuhan dengan kasar ke atas lantai, disusul oleh suara dentuman tumpul seolah ada tubuh yang membentur dipan kayu.
"MAMAAA! PAPAAA!"
Jeritan Ryu pecah. Suara anak bungsu itu melengking tinggi, penuh dengan kepanikan dan ketakutan. Disusul oleh suara langkah kaki yang berlarian acak di dalam ruangan sempit berukuran dua setengah meter itu.
BAM! BAM! BAM!
Adrenalinku meledak seketika. Rasa ngilu di punggungku lenyap tanpa sisa, tergantikan oleh insting seorang ayah yang mencium bahaya bagi keluarganya. Otak insinyurku langsung membunyikan alarm tanda bahaya: Ada maling masuk lewat plafon? Atau ular kobra yang naik dari saluran air kamar mandi?!
Aku melompat berdiri, nyaris menendang tumpukan kardus di depanku hingga rubuh.
"Abby! Ryu!" teriakku, suaraku parau dan menggelegar mengalahkan suara kipas angin.
Aku berlari menerjang kardus menuju pintu kamar mereka. Wati mengikuti tepat di belakangku, ia menjerit panik memanggil nama anak-anaknya, wajahnya pias seketika.
Tanganku mencengkeram gagang pintu dan memutarnya dengan kasar. Sialan, pintunya terkunci dari dalam! Sejak kapan anak-anak ini mengunci pintu dari dalam?
"Abby! Buka pintunya, Nak! Ada apa di dalam?!" teriakku sambil menggedor kayu tripleks pintu itu dengan kepalan tangan.
Tidak ada jawaban suara manusia, hanya terdengar suara grasak-grusuk yang brutal, suara napas yang terengah-engah, dan suara sabetan keras yang memukul lantai. Whosh! Prak!