Rumah Kami Sebelum Pindah Dimensi : KPR & Punggung Ayah

PapaDi_YSELnury
Chapter #22

0.22: HARI PINDAHAN DAN BENDA YANG MENOLAK BERGESER


Senin Pagi, pukul 07:15 WIB.

Hari yang ditunggu-tunggu sekaligus ditakuti oleh setiap penyewa kontrakan di ibu kota akhirnya tiba. Hari Pindahan.

Matahari baru saja naik setinggi galah, memancarkan cahaya kuning pucat yang menembus kabut tipis polusi di langit Cibubur. Di depan gang paviliun kontrakan kami, sebuah truk engkel berwarna kuning kusam dengan bak kayu yang tinggi sudah terparkir mantap. Mesin dieselnya menderu pelan namun berat, mengeluarkan getaran yang terasa sampai ke telapak kakiku, disusul kepulan asap hitam tipis dari knalpotnya yang sudah termakan karat.

"Ayo, To! Angkat yang berat-berat dulu! Lemari baju taruh paling depan nempel ke kepala truk, ganjal pakai kardus Indomie biar kayunya tidak lecet pas direm!" teriak Pak Slamet, memberikan instruksi tegas pada Parto, kuli bongkar muat andalannya.

Aku berdiri di ambang pintu kontrakan yang kini sudah melompong. Kosong.

Lima tahun. Selama lima tahun aku, Wati, dan anak-anak berteduh di bawah atap asbes ini. Di ruangan sempit berukuran tiga kali enam meter inilah Ryu belajar merangkak hingga lututnya kapalan, dan di sini pula Abby menangis meraung-raung saat pertama kali jatuh dari sepeda roda dua.

Kini, yang tersisa hanyalah jejak-jejak pudar di dinding. Bekas tempelan poster belajar perkalian milik Abby masih membekas kotak karena perbedaan warna cat, dan noda krayon di pojok bawah dekat pintu yang pernah dibuat Ryu saat dia masih berumur tiga tahun kini terlihat jelas. Rasanya ada sebagian kecil dari jiwaku yang tertinggal di lantai keramik retak ini.

"Papa? Sudah semua, kan? Tidak ada yang tertinggal di laci atau di pojok dapur?"

Suara Wati membuyarkan lamunanku. Istriku itu menghampiriku sambil menggendong tas ransel besar berisi dokumen-dokumen penting keluarga seperti ijazah, akta kelahiran, dan tentu saja, setumpuk tebal berkas fotokopi perjanjian KPR (Kredit Pemilikan Rumah) dengan pihak bank.

Aku menoleh, menatapnya. Wajah Wati terlihat sangat lelah, lingkaran hitam di bawah matanya tidak bisa disembunyikan meski ia mencoba tersenyum antusias.

"Sudah, Ma. Sudah aku cek tiga kali dari depan sampai belakang. Sampai kolong wastafel kamar mandi pun sudah bersih aku sapu," jawabku, mengusap keringat di dahiku sendiri.

"Ya sudah. Ayo. Pak Slamet sudah mau jalan. Nanti keburu siang, jalan raya Transyogi macetnya amit-amit kalau sudah jam berangkat kerja," ajak Wati.

Aku melangkah keluar, menarik pintu kayu kontrakan itu untuk terakhir kalinya. Cklek. Suara kunci yang berputar itu terdengar seperti sebuah titik final dari sebuah babak kehidupan.

Aku berjalan menuju rumah induk di depan, menyerahkan kunci itu kepada Ibu Rina yang berdiri dengan daster batiknya. Wajah datarnya seperti biasa, tidak banyak ekspresi.

"Kuncinya, Bu Rina. Terima kasih banyak ya, sudah memberikan kami tumpangan selama lima tahun ini. Maaf kalau selama ini kami ada salah atau telat bayar beberapa hari," kataku sambil menyalami tangannya dengan takzim.

"Sama-sama, Budi. Semoga sukses di rumah barunya ya. Hati-hati di jalan, jaga anak istri," sahut Bu Rina. Untuk pertama kalinya selama lima tahun, aku melihat ada sedikit guratan senyum tulus di wajah ibu kontrakan yang terkenal galak itu. Kami berdua sama-sama tahu bahwa hubungan penyewa dan pemilik ini sudah berakhir, menyisakan kelegaan di satu sisi dan doa baik di sisi lain.

Aku berjalan menuju Honda Vario lecetku. Wati naik dan duduk di belakang, sementara Ryu duduk di depan, terjepit di antara aku dan setang motor. Ryu memegang erat mainan robot pemadam kebakarannya.

Sementara Abby, dia merengek ingin duduk di dalam kabin depan truk bersama Pak Slamet dan Parto. Alasannya? Agar dia bisa menjaga kardus berisi baju-baju "estetik"-nya, dan karena kabin truk posisinya lebih tinggi jadi dia bisa merekam jalanan untuk bahan konten video CapCut-nya nanti. Di tangannya, "Tablet Grand Canyon" yang layarnya retak itu masih tergenggam aman, meskipun baterainya aku yakin sudah tidak penuh lagi.

"Bismillah... jalan, Pak Slamet!" seruku sambil memberikan isyarat tangan.

Iring-iringan kecil itu pun bergerak. Truk engkel kuning yang sarat muatan itu bergoyang-goyang saat melewati polisi tidur di gang sempit, disusul olehku yang memacu motor tepat di belakangnya.

Perjalanan dari Cibubur menuju Cileungsi sebenarnya tidak terlalu jauh jika ditarik garis lurus di Google Maps. Namun, bagiku, perjalanan pagi ini terasa seperti menyeberangi sebuah samudera ketidakpastian. Setiap meter aspal jalanan yang kami lewati terasa membawa kami semakin jauh dari kenyamanan hidup menyewa, menuju kerasnya realita menjadi pemilik rumah.

Angin pagi menerpa wajahku, membawa serta debu knalpot dari truk-truk tronton besar yang mengangkut material bangunan dan tanah merah. Di tengah kebisingan lalu lintas jalan raya itu, pikiranku melayang pada lembaran dokumen KPR di dalam tas Wati.

Lima belas tahun.

Angka itu terus berputar-putar di dalam kepalaku seperti kaset kusut. Di kantorku, lima belas tahun adalah waktu yang cukup untuk membangun tiga gedung pencakar langit dari nol sampai serah terima. Tapi di hidupku, lima belas tahun adalah waktu yang menahanku sebagai tawanan bank.

Petugas bank beberapa hari lalu sempat menatap wajahku dan slip gajiku dengan kerutan di dahi, seolah menimbang-nimbang apakah ginjal dan jantung bapak-bapak berumur empat puluh tahun sepertiku ini masih sanggup memompa darah untuk membayar cicilan sampai usiaku menyentuh lima puluh lima tahun nanti.

Memiliki rumah di Jakarta coret dengan status "Pejuang KPR" di usia kepala empat itu rasanya seperti balapan lari melawan waktu yang curang. Setiap kali aku memikirkan tanda tanganku di atas meterai itu, rasanya seperti aku sedang menjaminkan sisa masa mudaku, tulang punggungku, dan waktu tidurku demi sepetak tanah dan bangunan bata di pinggiran kota.

Tapi sudahlah. Nasi sudah menjadi bubur, dan buburnya sudah telanjur kubeli.

"Papa, itu gerbangnya!" teriak Ryu, suaranya teredam oleh deru angin, tangan kecilnya menunjuk ke arah gapura beton yang catnya sudah mengelupas bertuliskan: P RUMAH N GRIYA A WANG.

Hatiku mencelos. Kami sudah sampai.

Truk Pak Slamet berbelok perlahan, roda-rodanya yang botak melindas jalanan beton kompleks yang sudah banyak yang retak dan amblas ditumbuhi rumput liar. Deretan rumah-rumah kosong yang ditinggalkan pemiliknya menyambut kami bagaikan barisan gigi ompong.

Di ujung blok, Blok Seram No. 13 sudah menunggu.

Dari kejauhan, rumah itu terlihat jauh lebih layak daripada saat pertama kali aku membelinya. Cat hijau mint di bagian depan yang kukerjakan malam-malam kemarin terlihat segar di bawah sinar matahari pagi. Namun, tetap saja, rumah itu berdiri sendirian di tengah ilalang yang mengelilingi batas pagarnya, memberikan kesan terisolasi yang sedikit membuat bulu kudukku meremang.

Truk berhenti tepat di depan pagar karatan yang gemboknya sudah kubuka kemarin. Pak Slamet dan Parto melompat turun dari kabin, meregangkan otot mereka yang kaku.

"Papa, tolong bantu Pak Slamet buka pintu baknya. Mama mau ajak anak-anak masuk dulu buat ngecek debu," kata Wati sambil turun dari motor, menepuk-nepuk celananya yang berdebu.

Lihat selengkapnya