Rumah Kami Sebelum Pindah Dimensi : KPR & Punggung Ayah

PapaDi_YSELnury
Chapter #23

0.23: LIMA BELAS MENIT MENUJU LIMA BELAS TAHUN


Senin Malam, pukul 23:00 WIB. Malam pertama di Blok Seram No. 13.

Air kotor bercampur sisa sabun cuci piring menetes perlahan menimpa hidungku.

Tes... Tes...

Aku mengusap wajahku dengan punggung lengan kanan yang memegang kunci Inggris, meninggalkan noda oli dan debu hitam melintang di pipiku. Kaus kutang putihku sudah tidak lagi berwarna putih; warnanya kini lebih menyerupai lap pel lantai kelurahan. Keringat mengucur deras dari dahi, membasahi alis, dan menggenang di rongga mataku hingga terasa perih.

Aku sedang berbaring telentang di atas lantai dapur yang belum sepenuhnya diaci halus, tubuhku menelusup ke bawah kolong meja dapur cor-coran yang sempit dan gelap. Udara di bawah sini terasa sangat pengap, terjebak di antara bau semen baru dan aroma apak dari pipa PVC (paralon) murahan peninggalan pemilik lama.

"Keras kepala sekali kau ini, paralon," desisku pelan, menempelkan gigi-gigi kunci Inggris ke mur sambungan leher angsa wastafel yang mampet itu.

Aku mengerahkan tenaga dari otot bahu dan lengan bawahku, memutar kunci itu berlawanan arah jarum jam.

Krek. Logam beradu dengan plastik keras, tapi mur itu menolak berputar barang satu milimeter pun. Ia terkunci mati oleh kerak sisa semen atau mungkin kapur air tanah yang sudah menumpuk menahun.

Otot lenganku menjerit. Tulang belakangku—yang sudah disiksa seharian penuh memindahkan empat puluh tiga kardus Indomie dan lemari jati seberat dosa—kini mengirimkan sinyal rasa sakit yang menjalar dari pinggang hingga ke pangkal leher. Tubuh Insinyur berusia empat puluh tahun ini benar-benar sedang dipaksa beroperasi jauh melampaui batas rancang bangunnya.

Aku melepaskan cengkeramanku, membiarkan kunci Inggris itu jatuh berdenting ke lantai dengan bunyi klang yang nyaring.

"Papa? Kenapa bunyinya keras begitu? Pipa airnya jangan sampai pecah lho ya! Nanti malah banjir dapur kita semalaman!" tegur Wati dari arah ruang depan. Suaranya terdengar melengking memecah kesunyian malam Cileungsi, penuh dengan kepanikan khas ibu rumah tangga yang sedang dilanda stres pindahan.

"Nggak pecah, Ma! Kuncinya yang jatuh!" balasku berteriak dari bawah kolong.

Aku menarik tubuhku keluar dari bawah meja dapur, menggeser punggungku perlahan di atas lantai semen. Aku bangkit duduk, lalu bersandar pada dinding bata yang baru selesai kuplester kemarin. Napasku terengah-engah, dadaku naik turun memompa oksigen panas ke dalam paru-paru.

Aku menatap sisa air yang masih menggenang di dalam wastafel stainless steel itu. Ini baru hari pertama. Bahkan hitungannya baru belasan jam sejak kami memutar kunci pintu depan. Namun, rumah ini seolah-olah sudah mulai menguji kewarasanku dengan masalah-masalah teknis yang sepele namun sangat menyita emosi.

Kutinggalkan sejenak urusan perpipaan itu, lalu berjalan tertatih menuju ruang tamu.

Pemandangan di ruang tamu Blok Seram No. 13 malam ini adalah definisi dari kekacauan yang terorganisir. Kardus-kardus menumpuk membentuk labirin abstrak setinggi dada orang dewasa. Di sela-sela tumpukan itu, sebuah karpet plastik bermotif kayu dibentangkan sebagai oase darurat untuk kami beristirahat.

Cahaya dari satu-satunya bohlam 15 watt yang menyala di tengah ruangan memancarkan warna kuning pucat, menciptakan bayangan-bayangan panjang dari tumpukan kardus yang merayap ke dinding.

Di sudut ruangan, dekat jendela depan, Lemari TV Tabung Jati peninggalan pemilik lama itu berdiri membisu. Benda super berat yang tadi siang membuat Pak Slamet dan Parto menyerah kalah itu masih ada di posisinya, menutupi satu-satunya stopkontak yang ada di dinding itu. Debu tebal di layar kaca cembungnya memantulkan cahaya bohlam, membuatnya terlihat seperti sebuah mata buta berukuran besar yang sedang mengawasi kami di tengah malam.

Wati sedang duduk bersila di atas karpet plastik. Ia mengipasi wajah dan lehernya dengan selembar buku tulis lecek yang biasa ia gunakan untuk mencatat pengeluaran. Kausnya basah oleh keringat, rambutnya dicepol asal-asalan menggunakan karet gelang. Di pangkuannya, tergeletak dompet tebal berisi sisa uang tunai yang semakin menipis.

Aku berjalan menghampirinya, lalu menjatuhkan tubuhku duduk di sebelahnya. Tulang-tulangku bergemeretak lega.

"Istirahat dulu, Ma. Jangan diforsir. Besok kan masih panjang waktunya buat beresin piring sama baju," kataku pelan, meraih sebotol air mineral setengah kosong yang tergeletak di dekat kakinya dan menegaknya hingga habis.

Wati menghela napas panjang, menghentikan gerakan kipasnya. Ia menoleh menatapku. Tatapan tajamnya yang biasa mengomel kini melembut saat melihat wajahku yang cemong oleh debu dan oli. Ia mengulurkan tangannya, mengusap noda hitam di dahi kiriku dengan ibu jarinya.

"Papa yang harusnya istirahat," bisik Wati, suaranya terdengar parau. "Muka Papa sudah pucat pasi begitu. Keran mampet itu biarkan saja dulu sampai besok pagi. Besok kita bisa panggil tukang ledeng komplek atau Mama cuci piringnya pakai air galon dulu saja di kamar mandi depan."

Aku tersenyum tipis, menggelengkan kepala. "Nggak apa-apa, Ma. Papa ini insinyur, masa kalah sama paralon leher angsa. Gengsi dong sama ijazah ITB. Biar Papa atur sebentar lagi, pasti bisa kebuka dratnya."

Wati hanya tersenyum getir mendengar leluconku yang garing. Ia lalu menyandarkan kepalanya ke bahuku. Udara malam ini memang sangat panas dan pengap, namun ajaibnya, aku tidak keberatan dengan suhu tubuhnya yang bersandar padaku.

Ada rasa damai yang aneh menyelimuti momen ini. Di tengah lautan kardus Indomie, di tengah bau cat baru dan keringat, di bawah ancaman tagihan KPR bulan depan... kami berdua duduk di lantai rumah kami sendiri.

Bukan rumah kontrakan Ibu Rina. Bukan paviliun yang sewa bulanannya mencekik. Ini adalah rumah yang namanya tercantum resmi di atas sertifikat dengan huruf tebal: BUDI SETIAWAN.

Aku menoleh ke arah kamar belakang yang tidak berpintu.

Di atas kasur kapuk yang digelar langsung di atas lantai semen poles, Ryu tertidur pulas dengan posisi telentang. Tangan kirinya memegang erat robot pemadam kebakarannya, sementara mulutnya sedikit terbuka, mengeluarkan dengkuran halus khas anak kecil yang kelelahan bermain.

Lihat selengkapnya