Cit.. cit... cit...
Kicauan kutilang kembali terdengar bersahut-sahutan, mungkin sudah yang ke-30 kalinya pagi ini.
Seorang wanita paruh baya keluar dari ruangan apartemennya membawa tumpukan pakaian kotor dengan langkah yang tersendat-sendat, menuju ke arah laundry room apartemen. Di waktu yang sama, wanita lainnya sedang berada di balkon apartment, mengangkat jemurannya yang sudah kering dari semalam. Ada juga seorang pria setengah baya yang tengah memandikan burung peliharaannya sambil bersiul ria.
Semua ini menunjukkan aktivitas pagi yang sedang berlangsung di salah satu apartemen, kala matahari sudah naik ke permukaan menyapa dunia.
Sebaliknya, di salah satu kamar apartemen yang dihuni oleh seorang mahasiswi, belum terdengar tanda-tanda adanya aktivitas fisik, hanya meninggalkan suara alarm ponsel yang sudah berbunyi lebih dari satu kali.
Hari ini hari Sabtu, dan hari ini kampus Hana diliburkan. Tidak mau menyia-nyiakan kesempatan untuk tidur lebih lama, malam harinya Hana tidur lebih larut. Akibatnya, dia baru terbangun saat tetangga-tetangga di apartemennya sudah ribut melakukan aktivitas mereka masing-masing.
Setelah matanya terbuka, Hana bangun perlahan dari posisi tidurnya, ia meregangkan tubuh dan menyisir rambutnya dengan jari-jari tangan, matanya berkedip pelan. Jam sudah menunjukkan pukul 08.17 saat ia mengecek ponselnya. Hana duduk di tepi kasur selama beberapa menit sebelum ia beranjak untuk membuka jendela kamarnya dan menghirup udara segar pagi itu.
Dari jendela, Hana melihat banyak orang yang berlalu-lalang di depan gedung apartemennya, termasuk tukang bubur ayam langganannya yang sedang mangkal dan melayani beberapa pelanggan.
"Mang!" Seru Hana dari jendela, menyapa tukang bubur ayam langganannya sambil tersenyum lebar.
"Mau sarapan neng?" Balas pria itu dari bawah.
"Iya! Sebentar saya turun ke bawah."
"Oke, siap!"
Hana duduk di depan cermin, membiarkan jendela kamarnya tetap terbuka, agar udara pagi yang segar masuk secara perlahan. Setelah menyisir rambutnya hingga rapi, ia menguncirnya sebelum beranjak menuju kamar mandi untuk mencuci muka.
Tak lama kemudian, Hana keluar dengan cardigan yang telah dikenakan dan masker menutupi sebagian wajahnya. Ia mengunci pintu apartemennya, lalu baru saja hendak melangkah ketika pintu di sebelahnya ikut terbuka.
Seorang gadis keluar sambil membawa mangkuk di tangannya. “Eh, Hana.”
Hana menoleh. “Mau beli bubur juga?”
Tetangganya mengangkat mangkuk yang dibawanya sedikit lebih tinggi. “Iya nih, kebetulan banget.”
Hana tersenyum kecil, “Aku juga.”
“Ya sudah, bareng aja.”
“Boleh.”
Mereka berjalan berdampingan menuju tangga apartemen. Setelah turun dari apartemen, keduanya menyeberang jalan menuju penjual bubur ayam yang sudah bertahun-tahun berjualan di depan apartemen mereka tersebut. Keduanya membawa mangkuk kosong untuk dibawa pulang.
“Pagi mang.” Sapa Hana
“Pagi neng, hari ini agak telat ya?”
“Hehe iya, kesiangan bangunnya. Bubur ayamnya 2 ya mang, nih mangkoknya.”
Mereka menyerahkan mangkuk yang sudah mereka bawa dari apartemen.
Sambil menunggu pesanan, mereka duduk di salah satu meja sambil berbincang santai, obrolan yang biasa saja. Tidak sampai 15 menit menunggu, pesanan mereka sudah siap disajikan di mangkuk masing-masing.
“Makasih mang. Nih uangnya.” Hana menyerahkan dua lembar uang 5 ribu.
“Terima kasih kembali, neng.”
“Yuk.” Hana menoleh kepada tetangganya yang masih terduduk.
“Duluan aja Hana, aku mau makan di sini, sambil nungguin paket aku bentar lagi nyampe.”
“Oke kalau gitu, duluan ya.”
Sesampainya di bilik apartemen, gadis itu langsung menuju dapur. Ia memindahkan bubur ayam dari plastik ke dalam mangkuk, lalu menutupnya dengan tudung. Setelah itu, ia beranjak ke kamar mandi. Ia ingin menikmati buburnya setelah tubuhnya kembali segar.
Takut bubur ayamnya keburu dingin, Hana tak berlama-lama di kamar mandi. Setelah berpakaian, ia membalut kepalanya dengan handuk, membiarkan rambutnya yang masih basah. Ia kemudian mengambil kembali bubur ayam yang tadi ditutupnya dan membawanya ke ruang TV.
Sambil menyantap bubur, Hana menyalakan televisi. Sesekali, tangannya meraih ponsel di sampingnya, memeriksa apakah ada panggilan atau pesan yang masuk.
Selain pesan dari Ibunya, tidak ada pesan yang terlalu penting. Masih mengunyah, Hana menaruh sendoknya dan menjeda sebentar kegiatan makannya. Ia gerakkan jarinya untuk membalas pesan sang Ibu.
[Ruang obrolan: Mama🤍]
“Nak, uang bulanan untuk bulan ini sudah ditransfer papa ya. Uang bulanan sebelumnya juga cukup aja, kan?”
“Iya ma, makasih. Uang dari bulan kemaren juga masih sisa kok, aman aja.”
Hanya sebuah pesan singkat, jadi Hana tidak perlu membalasnya panjang-panjang. Kembali ia teruskan menyantap bubur ayamnya.
Tak lama, ia menyelesaikan sarapan telatnya. Lalu Hana bangkit ke dapur, langsung mencuci mangkuk yang baru saja dipakainya, sekalian dengan piring kotor yang lain. Diliriknya jam yang tergantung di dapur, baru jam 11.
Tiba-tiba Hana teringat pada tugas Literature Review yang diberikan dosen Metodologi Penelitian beberapa hari lalu. Ia belum ada menyentuh tugas itu sejak kemarin.
Setelah selesai mencuci piring dan menyusunnya kembali di rak, Hana bergegas menuju kamar. Ia duduk di depan meja belajar, menyalakan laptop, lalu menyiapkan beberapa jurnal yang sebelumnya telah disimpannya. Beberapa lembar catatan dan buku materi kuliah turut ia letakkan di atas meja sebagai bahan referensi.
Tanpa banyak membuang waktu, Hana mulai membaca jurnal-jurnal tersebut dan mencatat poin-poin penting yang sekiranya diperlukan. Sesekali ia berhenti untuk mencari referensi lain atau merapikan kalimat yang telah ditulisnya. Pekerjaan itu membuatnya hampir tidak menyadari waktu yang terus berjalan.
Tiga jam berlalu.
Hana masih berkutat di depan laptop.
Setelah memastikan seluruh pembahasan telah tersusun dan sitasinya tidak ada yang terlewat, ia membaca ulang tulisannya dari awal hingga akhir. Beberapa bagian sempat diperbaikinya sebelum akhirnya ia menyandarkan punggung ke kursi.
Setelah hampir empat jam mengerjakannya tanpa banyak beranjak dari meja, tugas Literature Review itu akhirnya selesai.
Kini tugasnya telah selesai. Tak ada lagi beban yang menggantung di pundaknya, dan untuk pertama kalinya sejak tadi pagi, Hana bisa bernapas sedikit lebih lega. Ia meregangkan tubuh di kursinya, mengangkat kedua tangan tinggi-tinggi sebelum menyandarkan punggungnya kembali. Tangannya kemudian meraih ponsel yang tergeletak di samping laptop.
Pukul dua siang.
“Masih siang”, gumamnya pelan.
Hana menatap sekeliling kamarnya. Setelah menyelesaikan tugasnya, ia sebenarnya masih memiliki banyak waktu luang. Tak ada tugas lagi yang perlu segera dikerjakan, dan untuk sementara tidak ada pula urusan lain yang mendesak.
Pandangannya kembali menyapu seluruh apartemen. Entah sejak kapan tempat itu mulai terasa sedikit berantakan.
Tapi bukan dalam keadaan kotor. Sebenarnya, Hana cukup rajin menjaga kebersihan apartemennya. Menyapu dan mengepel sudah menjadi rutinitas yang ia lakukan setiap minggu. Namun, bersih bukan berarti selalu rapi. Beberapa barang yang sudah lama tidak digunakan mulai menumpuk di sudut-sudut ruangan. Pajangan yang awalnya tertata rapi mulai dipenuhi debu tipis, begitu pula beberapa figura dan perabotan yang jarang disentuh.
“Sepertinya sudah waktunya membereskan semuanya.”
Hana bangkit dari kursinya, dan berjalan keluar kamar. Ia melihat ke sekeliling ruangan apartemen, tangannya diletakkan di pinggang, lalu ia mengambil napas panjang.
"Baiklah.. waktunya bersih-bersih!”
Hana menguncir rambutnya dan memulai dari mengikat plastik sampah yang sudah penuh, lalu menggantinya dengan plastik yang baru. Sampahnya ia taruh sementara di sudut ruangan untuk dibuang ke bawah setelah ia selesai membereskan apartemennya nanti.
Hana lalu beralih ke barang-barang yang sudah dipenuhi debu. Satu per satu figura yang terpajang di atas rak diturunkannya, kemudian dilap dengan kain hingga permukaannya kembali bersih. Pajangan-pajangan lain ikut dipindahkan sementara dari tempatnya agar bagian rak yang tertutup selama ini bisa dibersihkan.
Pekerjaan yang sebenarnya sederhana itu ternyata membuatnya semakin menyadari betapa banyak barang yang sudah tidak lagi memiliki tempat semestinya.
Hana mengambil beberapa kardus kosong dari tempat penyimpanan. Ia kemudian duduk di lantai dan mulai memilah barang-barang yang selama ini hanya memenuhi ruang.
Barang yang masih digunakan dikembalikan ke tempatnya. Sedangkan barang yang sudah tidak lagi diperlukan dimasukkan ke dalam kardus. Beberapa benda membuatnya berhenti lebih lama, sekadar untuk mengingat kapan terakhir kali benda itu digunakan.
Ada yang langsung ia masukkan ke dalam kardus tanpa pikir panjang.
Ada pula yang perlu ditatapnya beberapa saat sebelum akhirnya ia memutuskan bahwa benda itu memang sudah tidak lagi ia butuhkan.
“Ini juga masih disimpan buat apa, sih?” gumamnya ketika menemukan sebuah barang yang bahkan sudah hampir hilang dari ingatannya.
Waktu berlalu tanpa terasa. Kardus-kardus yang semula kosong perlahan terisi, sementara beberapa sudut ruangan mulai terlihat lebih lapang.
Setelah urusan memilah barang selesai, Hana mulai menata ulang beberapa pajangan dan perabotan. Figura yang sebelumnya diletakkan berjajar kini ia atur dengan jarak yang lebih renggang. Beberapa pajangan dipindahkan ke tempat lain agar rak tidak terlihat terlalu penuh. Walaupun tidak pernah diungkapkannya, Hana sangat menyukai kegiatan menyusun dan menata barang-barangnya seperti ini, ia selalu melakukannya sembari bersenandung kecil.
Hana mundur beberapa langkah untuk mengamati susunannya. Setelah puas dengan bagian itu, ia beralih ke kamar tidur.
Sprei yang telah digunakan beberapa hari dilepasnya dari kasur, kemudian dimasukkan ke dalam keranjang cucian kotor. Sarung bantal dan sarung guling menyusul. Selimut yang selama ini terlipat di ujung tempat tidur turut ia ambil, begitu pula bantal dan guling yang hendak dicucinya nanti.
Semua cucian itu untuk sementara dibiarkan di dalam keranjang. Ia belum berniat mencucinya sekarang. Yang penting, semuanya sudah dipisahkan dari barang-barang yang masih bersih.
Kini, hampir seluruh barang yang ingin dibereskannya sudah tertata rapi.
Hana berdiri di tengah ruang apartemen dan mengamati sekali lagi sekelilingnya. Setelah pekerjaan merapikan selesai, barulah ia mengambil sapu.
Bagian lantai sebenarnya sudah cukup bersih karena memang rutin disapu setiap minggu. Namun, kali ini ia ingin membersihkannya dengan lebih menyeluruh. Ia menyapu dari satu sudut ke sudut lainnya, memastikan tidak ada debu atau kotoran yang tertinggal di bawah perabot.
Sesekali ia berhenti untuk membersihkan bagian yang sulit dijangkau. Debu tipis di sepanjang sudut dinding, bagian bawah rak, hingga celah-celah sempit yang biasanya luput dari sapu ikut dibersihkannya.
Barulah setelah semuanya selesai, ia mengambil alat pel.
Air bersih dituangkannya ke dalam ember, kemudian kain pel dicelupkan dan diperas hingga tidak terlalu basah. Hana mulai mengepel lantai dari bagian dalam ruangan menuju pintu keluar, meninggalkan permukaan lantai yang perlahan tampak lebih bersih.
Beberapa saat kemudian, ia berdiri di dekat pintu sambil memperhatikan apartemennya.
Tidak ada lagi barang berserakan. Rak-rak sudah tertata, pajangan kembali pada tempatnya, sampah telah terkumpul, dan lantai yang tadi terasa kusam kini tampak lebih bersih.
Hana mengembuskan napas panjang.
Akhirnya selesai juga.
Selama berberes-beres, gadis itu tak sekalipun mengecek waktu. Ia mengambil ponsel dari sakunya dan menatap jam di ponselnya.
Ternyata sudah tiga jam telah berlalu sejak ia mulai membereskan apartemen. Karena sekarang semuanya sudah rapi dan semua sampah sudah terkumpul, Hana hendak turun ke bawah untuk membuang sampah. Ia membuka pintu apartemen dengan tangan kiri memeluk kardus, dan plastik sampah berada di tangan kanannya.
Di lorong apartemen, ia berpapasan dengan beberapa tetangganya. Mereka bertegur sapa seperti biasa, dan bahkan ada yang menawarkan bantuan kepada Hana untuk membawa kardus yang ada di tangannya. Tetapi, Hana yang merasa bisa melakukannya pun menolak tawaran itu dengan lembut dan lanjut menuruni tangga apartemen.
Kini Hana sudah sampai di bagian belakang gedung apartemen, tempat pembuangan sampah. Ia membuka plastik sampah yang ia bawa dan memilah sampah-sampah untuk dibuang ke tempat sampah yang sesuai dengan jenis sampahnya. Selesai membuang sampah, ia meletakkan kardus barang bekas di atas tumpukan kardus lainnya yang berada di samping tempat sampah.
Saat meletakkan kardus, samar-samar Hana mendengarkan suara seperti rintihan atau rengekan makhluk hidup, tetapi dirinya tidak begitu yakin.
“Anak kucing?” batinnya.
Hana berjalan mendekati satu kardus yang ia curigai sebagai sumber datangnya suara tersebut. Kardus itu memiliki ukuran yang sedikit lebih besar dari kardus lainnya yang ada di sana, dan bagian atasnya tidak terlalu tertutup dengan rapat.
Saat Hana perlahan membuka kardus tersebut, tangan Hana tiba-tiba berhenti bergerak bersamaan dengan tubuhnya. Suara yang tadi ia dengar samar kini menyeruak masuk menyapa indra pendengarannya. Hana tidak akan pernah menyangka, di dalam kardus yang berkumpul dengan tumpukan sampah, dia akan menemukan seorang bayi, bayi manusia.
Dengan tangan yang sedikit bergetar, gadis itu mulai meraba tubuh mungil sang bayi. Tubuhnya hanya dibalut oleh kain merah yang sedikit lusuh. Pikiran Hana berhenti sesaat, wajah manusia kecil yang ada di hadapannya ini sedikit membiru.
Segera menyadarkan dirinya, Hana mengangkat kardus tersebut dan berlari menuju rumah sakit yang jaraknya tidak sampai 10 menit dari apartemen Hana.
Dalam perjalanan menuju rumah sakit, tentu ada yang menatap gadis itu heran. Bagaimana tidak? Ia berlari dengan kunciran rambutnya yang sudah sedikit kendur dan acak-acakan. Tubuhnya tergopoh-gopoh, wajahnya dipenuhi dengan keringat dan rasa cemas. Serta kardus besar yang berada di tangannya, cukup menyita perhatian orang-orang yang melihatnya.
Akhirnya Hana sampai di depan IGD. Segera ia meminta pertolongan pada perawat yang berada di lobby IGD saat itu.
Setelah menyerahkan bayinya, Hana masih berdiri diam menatap sang bayi yang kini sudah dibawa pergi oleh beberapa perawat untuk ditangani.
Tiba-tiba, suara seseorang menyadarkan lamunannya. Hana menoleh dan mendapati seorang perawat memanggilnya ke meja resepsionis untuk dimintai keterangan. Hana mengaku bahwa dia bukanlah wali ataupun orang tua si bayi, ia hanya tak sengaja menemukan bayi itu di area sekitar apartemennya saat membuang sampah. Sang perawat mengangguk paham dan meminta Hana untuk duduk di kursi tunggu rumah sakit.
Setelah berbicara dengan Hana, pihak rumah sakit menghubungi polisi untuk melaporkan temuan bayi yang tidak diketahui asal-usulnya ini.
Polisi akhirnya datang, mereka meminta keterangan dari pihak rumah sakit berkaitan kondisi sang bayi dan juga meminta penjelasan dari Hana, saksi yang menemukan bayi ini. Setelah selesai dengan pihak rumah sakit, polisi menghampiri Hana yang sedari tadi masih duduk di kursi tunggu dengan pandangan menatap kosong ke depan, sedangkan pikirannya entah berada di mana.
“Dengan Mbak Hanara?”
Lagi-lagi, suara seseorang membuyarkan lamunan Hana.
“Iya, saya sendiri..” Hana segera bangkit dari duduknya, menatap polisi dengan perasaan yang sedikit cemas.
“Tidak apa-apa, silakan duduk. Kami dari kepolisian, ingin mendengar pernyataan dari mbak Hanara, tidak akan memakan waktu lama.”
Hana berusaha untuk merilekskan tubuh dan pikirannya, ia kembali duduk dan memberikan pernyataan kepada polisi dengan hati yang sudah lebih tenang.
Percakapan tidak berlangsung lama, polisi hanya melontarkan beberapa pertanyaan yang diperlukan; seperti lokasi ditemukannya bayi, waktu penemuan, dan juga identitas Hana sendiri.
Pihak kepolisian juga tidak menetap lama di rumah sakit. Segera setelah mereka mendapatkan informasi yang dibutuhkan, mereka langsung kembali ke kantor untuk memproses masalah ini.
Setelah kepergian polisi, Hana masih menetap di rumah sakit, dan belum akan pulang sampai dokter memberi tahu kondisi sang bayi setelah diperiksa. Karena jujur saja, walaupun ia tidak mengetahui apa-apa mengenai bayi itu, ia tetap tidak tenang karena dia adalah orang pertama yang menemukan bayinya.
Hampir setengah jam berlalu sebelum dokter akhirnya keluar dari ruangan pemeriksaan. Hana yang menyadari kehadiran dokter langsung bergegas menghampirinya. Ia menanyakan keadaan sang bayi.
"Bagaimana keadaan bayinya, dok..?" Nada suaranya menyiratkan kegelisahan.
"Untuk saat ini, kami masih perlu memantau kondisi bayinya. Mungkin harus menginap di rumah sakit kurang lebih satu malam. Jadi mbak sekarang diperbolehkan untuk pulang terlebih dahulu.”
Menanggapi kalimat sang dokter, Hana mengangguk.
"..Saya mengerti."
"Tapi karena mbak adalah saksi yang menemukan bayinya, jadi mungkin setelah ini akan ada petugas yang menghubungi."