Rumah Kardus

Sera Althea
Chapter #2

Bab 2 - Kedatangan Papa Dadakan

Kriit! kriit!

Terdengar suara meja yang berdecit, menandakan kesibukan persiapan orientasi mahasiswa baru di Universitas Tanah Air yang sudah berjalan selama 2 minggu.

Di sudut gedung fakultas Ilmu Sosial, terdapat satu ruangan dengan cahaya lampu yang menyala. Sejak pagi buta, sudah ada seseorang yang sibuk menghiasi ruangan itu. Alasannya sederhana, karena tinggal menghitung hari sampai acara penyambutan klub untuk mahasiswa baru tiba. Tak lupa ia menyiapkan pin nama bertuliskan ‘Zevandra Putra’ untuk dipakai minggu depan.

Tangannya meraih sebuah handphone berwarna hitam di atas meja, lalu ia mulai membuka grup chat dan melihat kontak dengan nama "Hanara" yang akhir-akhir ini menyita perhatiannya.

"Hari ini dia bakal datang ga, ya? Aku hubungi aja, deh," pikir Zevan dalam hati. Ia mengirim pesan singkat untuk menanyakan kehadiran gadis itu. Ia mengharapkan seluruh pengurus klub untuk hadir, termasuk Hanara yang merangkap sebagai pembawa acara.

[Chat room: Hanara]

“Hanara, hari ini masih sibuk? Ga bisa dateng ke klub, ya?”

“Pin namamu ada sama aku, kamu bisa ambil kapan?”

“Jualan sapu nggak laku-laku, jangan lupa hubungi aku :D”

Matanya menatap pesan yang belum terbaca. Sudah seminggu sejak Zevan terakhir kali bertemu dengannya. Akhir-akhir ini, adik tingkatnya itu sering izin dengan alasan yang tidak jelas, padahal selama ini kolom centang pada kertas presensi atas nama ‘Hanara’ tak pernah kosong.

“Akhirnya selesai juga, Gusti... Aduh, pinggangku jadi encok nih, habis angkat yang berat-berat. Rapi ga rapi, yang penting kelar dulu, deh,” keluhnya usai menaruh boks terakhir di atas rak. Pemuda itu merasa lega sekaligus gugup untuk menghadapi acara penyambutan nanti.

Ia berusaha menepis kegundahannya dengan meyakinkan diri semua akan berjalan lancar. Tiba-tiba, ia merasakan getaran notifikasi dari sakunya. Zevan merogoh kantung celananya untuk mengambil handphonenya, raut wajahnya yang semula datar seketika berseri-seri, sesuatu yang ia tunggu-tunggu akhirnya tiba.

[Chat Room: Hanara]

“Halo kak, maaf saya baru bisa balas.”

“Mau ketemuan besok di kafe depan kampus?


“Akhirnya kamu balas juga, keburu lumutan aku nunggunya, nih, haha.”

“Gimana kalau jam 1 sekalian makan siang?


“Boleh kak. Sampai ketemu besok, ya.”

Zevan menghela napas lega karena ganjalan di hatinya sudah menghilang. Malam ini ia merasa bisa tidur nyenyak karena masalah yang ada sudah terselesaikan, paling tidak, itulah yang ia pikirkan. Ia tak tahu akan ada sesuatu yang besar menanti dirinya.


~~~


“Huee! Huee!”

Kegelapan malam belum sepenuhnya hilang, namun rengekan bayi sudah menggema di kamar gadis itu sejak 30 menit yang lalu. Dalam keadaan setengah sadar, ia mengayun tubuh Senja dalam dekapannya sambil bernyanyi kecil, menenangkan rewelnya yang tak berkesudahan.

“Gimana ya… Senja nggak bisa ditinggal…” Ia bergumam setengah khawatir, “Gimana aku ketemu sama kak Zevan hari ini, dong?”

Sudut matanya melirik ke arah kain jarik miliknya yang ia temukan belum lama ini. Setelah berpikir sejenak, ia memutuskan akan membawa Senja dengan menggendongnya menggunakan kain itu dengan berbekal teknik yang sudah ia pelajari dari perawat.

Waktu demi waktu berlalu, tak sadar Hana ikut terlelap dalam mimpi di samping Senja. Kini semburat matahari sudah benar-benar berada di puncaknya. Perlahan, Hana membuka matanya, disambut oleh sinar mentari yang melewati tirai di jendela dan suara kecil Senja yang masih tertidur di atas boks bayi. Ia mendongak ke arah jam dinding dan mendapati waktu yang telah dijanjikan untuk pertemuan mereka hampir tiba.

“Eh, sudah jam segini?! Gawat! aku ketiduran!” tuturnya dengan tergesa-gesa sembari menyiapkan diri. Hanya tersisa 10 menit, Hana berlari kecil sambil menggendong Senja yang mengenakan baju bergambar jerapah lengkap dengan bando yang ia beli kemarin saat berbelanja.

Disisi lain, Zevan baru saja memarkirkan motornya dan menunggu di depan kafe. Tak lama kemudian, ia melihat sosok yang ia kenali berlari ke arahnya. Namun, ada sebuah kejanggalan, ia memicingkan mata dan melihat seorang bayi dalam dekapan gadis itu.

“Hana!” Teriak Zevan setelah melihat siluetnya dari kejauhan.

“Sudah nunggu lama, kak?” Tanya Hana sembari mengatur napasnya yang semula tak beraturan.

Zevan menatap Hana dan Senja bergantian, raut kebingungan terukir di wajahnya. Ia tak menyangka adik tingkat yang selama ini ia kenal tiba-tiba membawa seorang bayi.

“Aku baru sampai kok. Ngomong-ngomong... siapa makhluk lucu imut nan menggemaskan itu? Adik kamu?” Zevan menghujani Senja dengan tatapan gemas, menahan diri untuk tidak mencubit pipinya.

“Oh… ini… Senja, kak. Dia… bukan adik saya...” Ucapnya dengan suara yang semakin memelan, sedikit ragu untuk menjelaskan situasi sebenarnya.

Zevan dapat melihat raut wajah adik tingkatnya yang terlihat kurang nyaman. “Oh gitu, ya udah yuk kita masuk ke dalam, kalau kelamaan berjemur disini nanti jadi ikan kering.” Zevan memutuskan untuk tak bertanya lebih lanjut karena tak ingin membuat Hana merasa tak nyaman. Akhirnya, mereka berdua berjalan menuju ke dalam kafe. Zevan membukakan pintu untuk Hanara dan mempersilakannya masuk.

Udara dingin langsung menerpa mereka, diiringi musik jazz lembut yang mengalun di sepanjang ruangan. Hana berjalan menuju meja yang terhindar dari terpaan langsung AC, khawatir Senja akan kedinginan. Zevan mengikutinya dari belakang dan langsung menarik kursi dengan lembut agar Hana yang sedang menggendong Senja bisa duduk dengan nyaman. Kemudian, salah seorang pelayan menghampiri mereka dan menyodorkan dua buku menu kedai itu.

“Hana mau pesan apa? Disini aku sering pesan ayam geprek.”

“Saya mau nasi goreng dan air putih aja, kak.” Jawab Hana dengan menunjuk menu bertuliskan ‘Paket nasi goreng + air mineral’.

“Ung..” terdengar rintihan dari Senja dengan wajah yang memerah. Belum sempat memanggil pelayan untuk memesan, tiba-tiba mereka berdua mencium bau menyengat yang tak lain dan tak bukan berasal dari Senja.

“Hm? Kamu ada cium bau ga? Kayaknya aku nyium bau yang familiar, deh..” Zevan mengendus dan langsung mengenali bau tak sedap itu.

Mendengar ucapan kakak tingkatnya itu, Hana langsung mengecek bagian popok Senja. Benar saja, popok bayi mungil itu kini lebih berat dan penuh dari biasanya.

“Sepertinya… Senja buang air besar, kak.” Ujar gadis itu bingung.

“Kamu ada bawa popok?”

“...”

“Jangan bilang...”

“Saya… engga bawa kak…”

“...”

Zevan terdiam membisu, ia tidak menyangka akan kembali mengalami hal ini dalam hidupnya setelah sekian lama. Sebagai anak sulung dari 3 bersaudara, dari dulu, mengurus bayi dan mengganti popok sudah menjadi makanannya sehari-hari.

“Serius..? Waduh, jangan sampai kita makan sambil nyium aroma itu. Mau aku beliin popok dulu?” Tanya Zevan dengan sedikit panik.

“E-eh… Engga usah, kak! Apartemen saya dekat dari sini, kok! Kalau lari kayaknya bisa keburu, sebelum popoknya bocor….” jawab gadis itu yang kini sudah berdiri, hendak pergi meninggalkan Zevan sendiri karena terlalu panik.

“Oke deh, kalau gitu aku temenin ya.” Balas Zevan terburu.

Keduanya segera pergi menuju luar cafe sambil membawa barang mereka dengan terburu-buru. Bagaikan dirasuki harimau, mereka berlari sekencang mungkin menuju apartemen sampai-sampai melupakan makan siang mereka. Hana merogoh kunci rumah dan membuka pintu, Zevan segera mencuci tangannya di wastafel sebelum dengan sigap menggendong Senja, kemudian menaruhnya dengan lembut di atas mat yang memang dikhususkan untuk mengganti popok.

“Hana, biar aku yang bersihin Senja, kamu ambil aja popoknya.” Ucap Zevan sembari melepas popok yang sudah penuh dan mengambil tisu basah untuk mengelap Senja, sementara Hana mengambil popok baru di meja dengan terburu-buru. 

“Ini kak, biar saya aja yang ganti popoknya.”

“Gapapa, aku aja sekalian.”

Hana diam-diam memerhatikan Zevan yang sedang membersihkan Senja dengan sangat telaten, seperti seseorang yang sudah melakukan hal ini berulang kali. 

“Kakak jago banget ya bersihinnya, saya aja kadang masih kewalahan.”

“Hahaha, soalnya aku punya dua adik. Kalau keluarga lagi datang dan bawa bayi atau anak kecil, biasanya juga aku yang urus dan ajak main. Mau ga mau jadi terbiasa, hehe.”

Setelah selesai, Senja tertidur pulas. Akhirnya badai kepanikan telah berlalu dan berganti dengan suasana canggung yang perlahan menyelimuti mereka. Hana meneguk ludah, dengan gelisah berusaha memecahkan keheningan sembari mencuri pandang ke arah Zevan.

“Kak, sebenarnya, sejak minggu lalu saya tidak bisa ikut kegiatan klub karena sibuk mengurus Senja. Dan.. Senja saya dapat dari kardus di samping apartemen dekat pembuangan. Saya nggak tega, jadi saya bawa pulang.” Ujarnya dengan penuh keraguan. “Saya minta maaf karena nggak ada kabar dan nggak bisa dihubungi.” Hana merengkuh lengannya sendiri, nampak penyesalan dalam wajahnya yang merunduk.

Zevan mendengarkan dengan seksama dan berusaha mencerna setiap kata yang dilontarkan Hana padanya. Ia sama sekali tidak marah, malah ia merasa kasihan melihat Hana yang kerepotan sendirian. Hana yang ia kenal memang seseorang yang seperti malaikat, namun ia tidak menyangka kebaikannya akan berjalan sejauh ini.

Pikiran Zevan melayang ke masa lalu ketika ia pertama kali bertemu Hana, ia tak bisa melupakan mata gadis itu yang memerah karena menangisi seekor kucing yang tertabrak motor di depan matanya. Zevan yang kala itu menuju parkiran seusai kelas, tak sengaja melihat kejadian itu, ia tak bisa meninggalkannya begitu saja.

“Eh? Permisi, dek. Kucingnya masih hidup? Mau aku bantu? Ayo kita bawa ke dokter.” Ujarnya sambil menepuk pelan bahu gadis itu.

“Hiks.. hiks.. kak, tolongin kucingnya..” 

Akhirnya Zevan memberinya tumpangan untuk mengobati hewan Malang itu. Untunglah mereka berdua tepat waktu sehingga kucing tersebut bisa terselamatkan.

Kini, ia merasa seperti deja vu. “Yah, memang begini Hana yang kukenal.” Ungkapnya dalam hati.

“Hana, aku tau tempat babycare yang jadi langganan keluargaku, kalau kamu lagi sibuk, gimana kalau titipin Senja disana?”

“Makasih sarannya kak, tapi saya nggak tega nitipin Senja ke orang lain karena dia tanggung jawab saya.”

Lihat selengkapnya