Tik, tik, tik.
“Eh? Hujan? Huff… Untunglah aku sampai di apartemen tepat waktu,” ungkap Hana lega menatap langit yang menggelap dibalik jendela kamarnya yang telah berembun, padahal bulan belum menampakkan wujudnya.
Ia melangkahkan kakinya menuju boks bayi berwarna putih di sudut kamarnya, mendapati Senja yang terbangun dan menatapnya dengan kedua mata bulatnya.
“Kebangun, ya? Hujannya memang agak deras kali ini. Gapapa, ayo sini, Mama gendong,” ucap gadis itu sembari mengangkat bayinya dan menepuk-nepuk punggungnya lembut, lalu pergi ke ruang tengah untuk menghabiskan waktu dengan Senja yang kini sudah berusia 3 minggu.
Rabu sore, menandakan acara penyambutan mahasiswa baru telah berakhir, bahkan selesai lebih awal, sehingga gadis itu bisa menjemput Senja dari babycare sebelum malam tiba.
Hana duduk di sofa tepat di samping jendela yang menampilkan suasana kota yang lembab, sambil sesekali membelai rambut putranya. Senja menggeliat lembut di dekapan Hana, mengeluarkan bunyi refleks seakan merespon suara hujan.
“Baru pertama dengar, ya? Menenangkan, kan? Mama juga suka sekali hujan,” ungkap Hana yang kini sudah mulai terbiasa dengan panggilan barunya, ‘Mama’.
Duk, Duk!
“Suara apa itu..? Apakah ada orang yang baru datang?” gumamnya. Suara itu melewati depan pintu apartemen gadis berambut pendek itu dengan hentakan yang cukup keras.
Padahal seharusnya langkah kaki akan teredam pada lantai beton gedung apartemen. Namun, Hana mengenalinya, itu adalah suara orang yang menyeret troli khusus yang hanya bisa digunakan oleh penghuni apartemen.
Ia tidak ingat akan ada penghuni yang akan pindah atau menempati kamar, karena biasanya pemilik apartemen akan memberikan informasi jauh-jauh hari pada penghuni kamar lainnya jika ada tetangga baru. Ditambah lagi, kamar di lantai 3 tempat Hana tinggal sudah terisi semua.
Dengan was-was Hana meletakkan Senja pada playmat bayi yang telah ia siapkan di ruang tengah.
“Tunggu sebentar, ya, Senja.” ucap Hana sebelum bangkit menuju pintu masuk apartemennya.
Ketika ia membuka pintu, terdengar samar suara obrolan dari depan kamar sebelah gadis itu.
“Terima kasih ya, Nak. Pasti lelah ya membawa semua barang ini,” ucap seorang wanita paruh baya dengan lembut.
“Ah, tidak kok, Nek. Sudah sepatutnya saya membantu penghuni apartemen disini. Kalau begini mah, kecil,” balas seorang pria bertubuh tegap dengan seragam biru yang berdiri di depannya. “Kalau gitu, saya pamit dulu ya, Nek. Kalau ada apa-apa, hubungi saja ke nomor yang biasanya, ya,” lanjut pria itu sebelum pergi menuruni tangga dan menghilang, meninggalkan wanita paruh baya yang juga berbalik badan sebelum menutup pintu apartemennya.
“Ah, ternyata Nenek Ika sudah pulang!” kata Hana, dengan nada semangat namun tidak terlalu nyaring. Ia tidak bisa menutupi rasa bahagianya karena Nenek Mariska, atau yang lebih dikenal sebagai Nenek Ika, baru saja pulang setelah satu bulan penuh berada di kampung halamannya.
Beliau merupakan tetangga Hana yang sangat ia sayangi, salah satu orang yang memperdulikan gadis itu dikala ia baru pertama kali menginjakkan kaki di gedung apartemen ini.
Sejujurnya, ia sangat ingin menyapa Nenek Ika, namun ia paham pasti beliau sedang lelah akibat perjalanan jauh. Jadi, Hana memutuskan untuk mengurungkan niatnya dan masuk kembali ke apartemennya.
“Nenek Ika sudah pulang, Senja. Nanti kapan-kapan kita berkunjung ke kamar beliau, ya? Ia pasti senang sekali bertemu denganmu,” ucap Hana lembut sembari duduk melihat Senja yang sibuk bermain dengan buku kain pemberian Zevan.
“Mmm…” dengkur bayi itu, seakan menyetujui perkataan Mama. Dalam hati, Hana cukup bersemangat untuk mengenalkan Senja kepada salah satu orang yang sangat ia percayai.
~~~
“Mmm… silau…” gadis itu bergumam setengah mengantuk. Matanya mengerjap, setengah pipinya masih tertutup bantal, menolak cahaya pagi yang menyapu wajah manisnya. Burung-burung berkicau diiringi ributnya suara klakson di jalan raya, membuat Hana memutuskan beranjak dari kasurnya dengan langkah gontai.
“Selamat pagi, Senja! Wah, hujannya sudah reda, ya. Kayaknya kita bisa jalan-jalan, pagi ini!” ucap Hana gembira dan mengambil Senja untuk memandikannya di bak mandi bayi.
Berkat kakak tingkatnya yang mengajarkan hal-hal dasar dalam mengurus bayi, termasuk cara memandikan, ia sudah cukup paham dan terbiasa dengan rutinitasnya dalam merawat Senja.
Baginya, masih terasa seperti mimpi saat ia menemukan bayi mungil itu 3 minggu yang lalu, dan sekarang, sedang memandikannya dengan penuh kelembutan.
“Nyaman ya, airnya?” ucap Hana sambil membasuh Senja, sudah menjadi kebiasaan gadis itu untuk sesekali berbicara dengan bayinya.
Ia segera mengangkat Senja lalu membungkus tubuh mungilnya dengan handuk yang lembut. Setelah mengeringkan tubuh Senja, Hana merogoh lemari dan mengambil sepasang pakaian bermotif bintang laut, lalu memakaikannya pada bayi mungil yang kini menguap setelah sesi mandi yang nyaman.
Tok, tok.
Tiba-tiba, suara ketukan terdengar dari pintu depan.
“Eh? Siapa ya itu? Bukannya Kak Zevan mau datang nanti siang, ya?” pikir Hana.
Tak lama, terdengar suara lembut wanita paruh baya memanggil nama gadis itu. Ia pun membuka pintu dengan wajah berseri setelah mengenali suara tersebut. Orang yang mengetuk pintunya adalah Nenek Mariska!
“Nenek Ika! Sudah lama tidak berjumpa!”, ucap Hana riang lalu memeluk wanita itu dengan lembut. Nenek Mariska, yang kerap disapa sebagai Nenek Ika, membalas pelukannya dengan hangat.
“Wah, sudah lama sekali, ya. Bagaimana kabarmu, Nak? Sudah sebulan kita tidak bersua… Nenek punya oleh-oleh buat Hana, lho!”
“Wah, terima kasih banyak, Nek. Mari, ayo masuk dulu!” ucap Hana mempersilahkan Nenek Ika untuk masuk ke apartemennya setelah melepas rindu.
Sesaat setelah mereka duduk di sofa. Hana langsung berinisiatif untuk menyuguhkan sedikit makanan untuk Nenek Ika.
“Tunggu sebentar ya, Nek. Saya hidangkan teh dan camilan dulu,” ucap Hana lalu beranjak menuju dapur. Ia menuang air hangat dan mencelupkan sekantung teh hijau ke dalam teko berwarna abu tua sambil bersenandung riang. Tangannya tangkas mengambil toples gula dan menuang sebanyak dua sendok teh, lalu mengaduknya hingga terlarut sempurna. Setelah menaruh beberapa biskuit sebagai cemilan pendamping, ia segera kembali ke ruang tengah.
“Silahkan dinikmati hidangannya, Nek. Maaf tidak seberapa,” kata gadis itu merendah.
“Ah, tidak apa-apa, Hana. Nenek sudah sarapan tadi, cemilan dan biskuit sudah lebih dari cukup. Ayo, kita makan bersama saja, ya,” ucap wanita itu penuh kelembutan.
Belum sempat Hana menggigit biskuit panggang itu, tiba-tiba, terdengar suara rintihan dari arah kamarnya. Saking semangatnya bertemu Nenek Ika, ia tidak sadar meninggalkan Senja sendirian!
“Ah, Senja! Maaf, Nek. Hana mau menenangkan Senja dulu!”, ucap Hana tergesa.
“O-oh… iya, Nak, tidak apa-apa, pergi saja dulu. Nenek tunggu sini,” balas Nenek Ika bingung, jelas tidak tau siapa ‘Senja’ yang dimaksud gadis itu.
Tanpa pikir panjang, Hana sudah setengah berlari menuju kamarnya. Suara tangisan Senja jelas terdengar karena pintu kamarnya tidak tertutup.
“Hue…! Hue…!” rintih Senja nyaring. “Oh, Senja… maafkan Mama, ya. Mama terlalu asyik menyambut kedatangan Nenek, jadi lupa kalau Senja ditinggal sendirian,” ucap Hana dengan lembut, walau dalam hatinya dipenuhi rasa bersalah.