Rumah Kardus

Sera Althea
Chapter #4

Bab 4 - Tante di Minimarket

Krriing!

Terdengar suara denting dari bel pintu minimarket.


“Pagi!” Suara riang seorang wanita memecah keheningan minimarket, menyapa rekan kerjanya yang sudah tiba lebih dulu.

“Pagi, Mir. Hari ini agak telat ya?”

Sorry hehe, anak aku minta dibawain bekal 4 sehat 5 sempurna, disuruh gurunya.”

"Zaman kita juga dulu begitu, masih sama ternyata." 

Wanita itu hanya tersenyum.


Sang rekan kerja sedang sibuk menyusun produk di rak yang kosong, sedangkan ia pergi ke gudang, mengambil sapu.


Masih jam 8 pagi, minimarket belum buka. Dan saat ini mereka berdua sedang melakukan aktivitas rutin sebelum minimarket dibuka.


Walaupun disebut 'minimarket', tempat ini tidak juga terlalu kecil, segala kebutuhan juga cukup lengkap. Hal itu menjadikan minimarket ini memiliki banyak pelanggan tetap, khususnya para penghuni apartemen yang berada di seberang jalan.


Tak sampai 5 menit waktu minimarket dibuka, sudah ada pelanggan yang datang. 

Wanita itu bersiaga di posisinya, melayani pelanggan yang ingin membayar belanjaan mereka.


Minimarket itu tak pernah sepi, dan hari ini juga begitu. Berjam-jam wanita itu berdiri di kasir, berhadapan dengan banyak pelanggan. 


Hingga sampai pada waktu di mana sudah tidak banyak pelanggan yang datang. Dari posisinya, ia bisa melihat wanita muda penghuni apartemen seberang yang ia kenal sedang menuju kemari. Dirinya tersenyum dan bersiap menyapanya.


~~~


Hari Minggu, jalanan di depan apartemen terasa lebih padat daripada biasanya.


Hana berdiri di tepi jalan, sesekali menoleh ke kanan dan kiri, menunggu celah yang cukup aman untuk menyeberang. Begitu arus kendaraan mulai merenggang, ia segera melangkah menuju minimarket yang berada tepat di seberang apartemennya.


Persediaan kebutuhan bulanan di apartemen sudah mulai menipis. Ditambah dengan berbagai kebutuhan Senja yang semakin bertambah, Hana merasa sudah waktunya untuk kembali berbelanja dalam jumlah yang banyak. Karena itu, hari ini ia memutuskan untuk sekalian membeli seluruh keperluan rumah yang mulai habis.


Berbicara tentang minimarket itu, ingatan Hana tanpa sadar kembali pada beberapa tahun lalu, ketika ia baru menjadi seorang mahasiswi dan pertama kali pindah ke apartemen tersebut.


Saat melakukan survei sebelum menyewa apartemen, Hana hanya memperhatikan bagian dalam unit dan kondisi kamarnya. Ia sama sekali tidak menyadari bahwa tepat di seberang gedung apartemen berdiri sebuah minimarket yang kelak akan menjadi salah satu tempat yang paling sering ia kunjungi.


Hari itu adalah hari pertama masa orientasi kampus, hujan turun begitu deras ketika Hana dalam perjalanan pulang. Tanpa membawa payung, ia hanya bisa berlari kecil sepanjang perjalanan hingga akhirnya tiba di depan apartemen dalam keadaan basah kuyup dan menahan lapar.


Sebelum naik ke lantai apartemennya, Hana mengingat bahwa ia tidak memiliki makanan apapun untuk ia makan saat itu. Ia bahkan belum sempat berbelanja kebutuhan sehari-hari sejak pindah.


Saat itulah pandangannya tertuju pada sebuah minimarket yang berdiri tepat di seberang jalan. Rasa lapar yang semakin mengganggu akhirnya membuatnya kembali menerobos hujan.


Sesampainya di depan minimarket, Hana berhenti sejenak di teras. Ia mengusap air hujan yang menetes dari rambut dan pakaiannya, berusaha mengeringkan diri sebisanya. Ia merasa tidak enak jika langsung masuk dalam keadaan seperti itu dan membuat lantai minimarket basah.


Dari dalam, suara seorang wanita langsung menyambut dirinya, "Ya ampun, kamu basah kuyup.." Nada suara wanita itu terdengar jelas menyiratkan kekhawatiran.


Hana merasa canggung saat itu, pandangannya turun ke lantai, membayangkan jejak air yang mungkin ditinggalkannya. Dalam hati, ia bahkan sempat bertanya-tanya mengapa tadi tidak mengganti pakaian terlebih dahulu. Hana melihat wanita itu berjalan menghampirinya dengan menyerahkan sebuah jaket.


"Ini, pakai dulu. Nanti kamu meriang.."


Hana menerima jaket itu dengan ekspresi bingung. Wanita itu melanjutkan, "Itu punya aku, pakai aja dulu, nanti bisa kamu balikin kapan-kapan."


Wanita itu tersenyum, Hana merasakan kehangatan di hatinya, ia membalas senyuman dan mengucapkan kata terima kasih yang sangat pelan, tetapi tetap dapat didengar oleh wanita di hadapannya.


Singkatnya, Hana membeli makanan siap saji, yang hanya perlu ia panaskan di microwave, dan juga beberapa barang yang ia butuhkan. Ketika hendak membayar, ia kembali bertemu dengan wanita yang tadi memberinya jaket.


Barulah Hana mengetahui bahwa wanita tersebut adalah salah satu kasir di minimarket itu.


Dari penampilannya, Hana memperkirakan usianya berada di awal tiga puluhan. Wanita itu kemudian memperkenalkan dirinya sebagai Mira. "Kalau kamu, namanya siapa?"

"Hana."

"Kalau begitu, panggil Tante Mira aja."


Sejak hari itu, entah bagaimana, Hana dan Tante Mira menjadi semakin akrab. Hana juga selalu pergi ke minimarket itu setiap ia akan membeli sesuatu yang ia perlukan. Tante Mira pun mulai mengenali kebiasaan-kebiasaan kecil Hana, mulai dari barang yang sering ia beli sampai makanan yang selalu masuk ke dalam keranjang belanjanya.


Suatu hari, sepulang dari kampus, Hana merasa hari itu begitu terik. Ia mampir ke minimarket hanya untuk membeli sebotol lemonade dingin, minuman yang hampir selalu ia cari ketika cuaca sedang panas.


Dan seperti biasanya, minuman itu tidak pernah benar-benar lengkap tanpa cream cheese cookie yang dipajang di etalase dekat kasir.


Begitu Tante Mira melihat Hana meletakkan lemonade di atas meja kasir, ia langsung berseru,

"Sama cookienya, kan? Cream cheese!"

Hana hanya bisa tersenyum geli.

Iya, hehe. Tante tau aja..."


Mungkin mereka menganggap ini adalah hal yang biasa, tapi siapa yang tahu bahwa kedekatan mereka ini juga akan menjadi bagian dari cerita yang rumpang?


Kita kembali ke masa sekarang.


Untungnya, Zevan sedang senggang hari ini. Ia bisa menjaga Senja di apartemen, sehingga Hana dapat berbelanja dengan lebih leluasa tanpa harus mengkhawatirkan Senja.


Begitu pintu kaca minimarket terbuka, hawa sejuk dari pendingin ruangan langsung menyambutnya. Baru beberapa langkah masuk, suara seorang wanita terdengar dari arah kasir.


"Halo, Hana!"

Hana menoleh. Seorang wanita yang sudah cukup dikenalnya tersenyum cerah ke arahnya.

"Halo, Tante." Hana membalas dengan senyum yang tak kalah cerah.


Setelah sapaan singkat itu, Hana mendorong keranjang belanja dan mulai menyusuri lorong-lorong minimarket. Tujuannya cukup banyak. Ia terlebih dahulu menuju rak kebutuhan dapur untuk mengambil beras, telur, bumbu-bumbu masakan, serta beberapa bahan makanan lain yang mulai habis.


Setelah itu, ia beralih ke bagian perlengkapan rumah tangga. Sampo, sabun mandi, sabun cuci, deterjen, dan beberapa kebutuhan kebersihan lainnya satu per satu masuk ke dalam keranjang.


Barulah setelah memastikan kebutuhan rumah tangga sudah terpenuhi, Hana menuju bagian perlengkapan bayi. 


Sejak kehadiran Senja, bagian inilah yang paling sering membuat daftar belanja mereka bertambah panjang. Ada begitu banyak hal yang harus diperhatikan dan dipastikan tidak sampai kehabisan.


Hana mengambil beberapa kebutuhan Senja yang sudah hampir habis, lalu memeriksa kembali daftar belanja di ponselnya untuk memastikan tidak ada yang tertinggal. 


Beruntungnya, Hana adalah individu yang hemat, sehingga uang bulanan yang diberikan oleh orang tuanya tidak pernah habis, dan sisa uang tersebut selalu ia simpan. Hana tidak pernah membelanjakan uangnya untuk barang atau keinginan yang tidak diperlukan. Oleh karena itu, ia sebenarnya sangat mampu untuk menghidupi Senja seorang diri.


Namun, untuk merawatnya, ia memang membutuhkan bantuan orang lain, hal itu tidak dapat dimungkiri. Dengan kehadiran Zevan dan Nenek Ika, Hana sangat terbantu dalam merawat Senja. Ia benar-benar bersyukur bahwa orang lain bersedia membantunya tanpa mempertanyakan keputusannya untuk merawat bayi yang bahkan tidak memiliki hubungan darah dengannya.


~~~


Setelah semua dirasa cukup, Hana mendorong trolinya menuju ke kasir. Dari semua barang yang dibeli Hana, tante Mira menyadari ada yang tidak biasa, perlengkapan bayi.


"Popok? Susu? Ini titipan teman?" Sambil tetap memindai satu per satu barang belanjaan Hana, tante Mira bertanya secara spontan.


"Itu.. emm.." Hana kebingungan untuk menjawab. Dan entah mengapa, pertanyaan sederhana itu membuat wajahnya perlahan tampak panik.


Tante Mira yang menyadari perubahan ekspresi Hana pun mengernyitkan dahi. Seperti ada sesuatu yang Hana sembunyikan.


Setelah semua barang selesai dipindai, Hana segera membayarnya dan memastikan seluruh belanjaannya telah masuk ke dalam tas, ia lalu mengucapkan terima kasih dan bersiap meninggalkan kasir.


Namun tepat ketika Hana berbalik badan, terdengar bunyi bel dari arah belakang meja kasir. Bel tanda pergantian waktu istirahat karyawan.


Tante Mira melirik ke arah sumber suara itu, lalu kembali menatap Hana yang sudah selangkah hendak pergi.


"Hana!"

Langkah Hana terhenti, ia menoleh.

"Iya, tante?"

"Ada waktu sebentar? Ngobrol yuk."


Hana sebenarnya sudah tahu kemana arah obrolannya akan berjalan, tetapi ia juga tidak bisa menolak.

"Iya.. boleh.."

Sebentar saja, batinnya.


Tante Mira mengajak Hana duduk di bangku yang berada di depan minimarket. Ia duduk di samping Hana, sementara pintu minimarket sesekali terbuka dan tertutup, menandakan masih ada pelanggan yang keluar masuk minimarket.


Untuk beberapa saat, keduanya hanya diam. Tante Mira tidak langsung bertanya. Ia tahu ada sesuatu yang ingin disampaikan Hana, tetapi ia juga tidak ingin membuat gadis itu merasa sedang diinterogasi.


Akhirnya, ia melirik ke arah Hana.


"Jadi..." Tante Mira menggantung kalimatnya sebentar. "Yang tadi itu tentang bayi, ya?"

Hana masih diam. Ia menunduk, menghindari tatapan tante Mira.

"Begini... Hmm gimana ya? Saya bingung mau mulai dari mana.."

"Kamu hamil di luar nikah?" Tebak tante Mira asal.

"BUKAN!" Pandangan Hana langsung terangkat, menatap wanita di depannya dengan tatapan protes.

"Enggak.. bukan itu."

"Iya sih, nggak mungkin kalau itu, perut kamu nggak pernah keliatan mengandung."

"Iya makanya, bukan itu! Tapi.."


Tante Mira hanya memperhatikan gerak-gerik Hana.

Hana mengambil napas panjang, lalu meyakinkan dirinya untuk bercerita.


"Jadi.. waktu itu hari Sabtu, udah beberapa minggu lalu. Sore-sore saya ngeberesin apartemen.." Selalu ada jeda di tiap kalimat, Hana mengambil napas sebelum melanjutkan. "Pas udah selesai, niatnya saya mau buang sampah ke bawah. Nah di situ ada beberapa tumpukan kardus.."


Di titik ini, tante Mira sudah bisa menebak apa yang terjadi selanjutnya.


"Di dalam salah satu kardus, ada terdengar suara tangisan. Dan bener aja, ada bayi di dalamnya. Awalnya saya udah pergi ke rumah sakit dan lapor pihak berwajib. Tapi setelah sadar bayinya bakal dirawat sama Dinas Sosial, saya merasa.. saya nggak mau berpisah sama bayinya. Jadi, di tahap itu saya coba buat yakinin mereka, kalau saya mau dan bisa ngerawat bayi itu. Dan akhirnya sampai sekarang, saya yang rawat bayinya.."


Dari awal sampai akhir Hana menjelaskan, tante Mira hanya diam mendengarkan, walaupun sangat jelas dari ekspresinya bahwa wanita itu sedang tercengang.


"Tante pasti merasa aku aneh ya?"

"Enggak kok. Aneh kenapa? Karena pengen ngerawat bayi?"

"Iya. Apalagi aku nggak ada hubungannya sama bayi itu.

"Kalau kamu merasa simpati dan peduli sama bayi itu ya nggak ada yang aneh, cuman kejadian kayak gini nggak biasa aja."


Hana mengangguk, menyetujui.

"Berarti kamu sudah berhari-hari ngerawat bayi itu? Aku nggak nyangka... GILA!"


Tiba-tiba tante Mira meninggikan suaranya, sedikit bersemangat.

"Sstt, tante, jangan nyaring-nyaring! Gila kenapa?"

"Keren dong? Ngerawat bayi itu bukan hal yang mudah loh. Apalagi kamu juga tinggal sendiri, kamu juga masih kuliah."

"Nggak kok, Tante..." Hana tersenyum kecil. "Saya juga masih belajar."


Ia menunduk, memperhatikan kedua tangannya yang saling bertaut di atas pangkuan.


"Sejujurnya, saya juga takut."


Tante Mira tidak menyela.


"Saya takut salah. Entah itu dalam merawat bayinya, ataupun... keputusan saya untuk merawatnya."


Hana berhenti sebentar. Ia menarik napas pelan sebelum kembali melanjutkan.


"Bahkan, daripada merawat bayi, saya sebenarnya lebih terbiasa merawat orang-orang tua di panti jompo."


Mira mengangguk kecil, membiarkannya melanjutkan.


"Saya juga takut kalau saya terlalu ikut campur." Suara Hana mulai terdengar lebih lirih. "Gimana kalau suatu hari nanti pemerintah mengambil Senja lagi dari saya? Saya takut membayangkannya."


Pandangan matanya jatuh ke jalanan di hadapan mereka. "Karena saya juga sudah terlanjur sayang sama Senja."


Tante Mira terdiam cukup lama setelah mendengar pengakuan itu.


Tatapannya beralih pada Hana yang masih menunduk, seolah gadis itu sendiri belum tahu harus berbuat apa dengan perasaan yang baru saja ia ungkapkan.


Lihat selengkapnya