Kukuruyuuuk!
Ayam tetangga telah berkokok, menandakan waktu untuk bekerja. Seperti biasa, Zevan bangun lebih awal dari ayam-ayam itu, ia memulai harinya dengan berlari santai di komplek kostnya, lalu membuat sarapan, dan berangkat ke kedai.
“Pagi, Paman!” Sapa Zevan pada Paman Eza dengan penuh semangat.
“Pagi, Zevan. Seperti biasa, isi stok yang lagi kosong.”
“Siap!”
Zevan melihat toples bertuliskan kopi hitam yang kosong di atas rak, kemudian secara tak sadar tangannya meraih kemasan bubuk kakao dan mengisinya.
“Loh, Zevan, itu kan kakao?”
“Eh, lah, iya ya. Maaf, Paman.”
Setelah itu Paman Eza menyuruhnya untuk melayani pesan antar kopi dengan whipped cream saja, namun lagi-lagi ia melakukan kesalahan dengan menuangkan krim keju. Paman Eza langsung menggelengkan kepala melihat tingkah laku pemuda itu, ia tahu ada sesuatu yang salah. Zevan tak bisa menipunya karena mereka telah saling mengenal dalam kurun waktu yang cukup lama.
“Bertengkar sama siapa?”
“Nggak ada.” Jawabnya tanpa menatap ke arah Paman Eza.
“Oh. Berarti bertengkar.”
“...emang kelihatan, ya?”
“Ini baru jam 7 pagi dan kamu udah nggak fokus.”
Paman Eza menunggunya berbicara sambil membersihkan kedai. Hingga akhirnya Zevan membuka mulut.
“Paman, kira-kira kenapa orang yang aku pedulikan nggak mau berbagi masalahnya denganku? Kami sudah berkomitmen, tapi dia aja yang memikul beban itu.”
“Siapa?”
“Hana, adik tingkatku. Kami bertengkar karena dia nggak biarin aku bantu urus Senja.”
“Senja siapa?”
“Anak kami.” Jawabnya spontan.
Paman Eza terdiam, perlahan meliriknya tajam dengan tatapan sinis. Zevan sadar bahwa telah terjadi kesalahpahaman.
“Ah, jangan salah paham! Aduh, gimana ya bilangnya.. Senja itu bayi yang kebetulan kami urus karena… belum diketahui asal-usulnya. Sekarang lagi proses pencarian, dan selama itu, aku mau bantu Hana dengan senang hati. Tapi… kayaknya dia masih kurang percaya sama aku. Dia banyak lakuin semuanya sendiri dan kurang libatkan aku. Aku agak kecewa karena rasanya bantuanku kurang dihargai, tapi disaat yang sama, aku juga ngerasa terlalu ikut campur. Karena itu, sekarang kami bentrok dan… aku nggak tau gimana caranya baikan sama dia.”
Tutur Zevan berusaha meyakinkannya.
Zevan melihat raut wajah Paman Eza yang membeku karena kaget, mengingatkan akan dirinya 2 minggu lalu ketika mendengar pengakuan Hana.
“Oke.. Paman mengerti. Saat kalian bertengkar, Hana bilang apa?”
“Dia bilang nggak mau merepotkan saya, padahal niat saya murni mau membantu.”
“Oh begitu, dia merasa merepotkan kamu, dan kamu merasa bantuanmu kurang dihargai. Sifat kalian bertolak-belakang, namun justru saling melengkapi.”
Ucapnya menarik kesimpulan. “Kalau dari sudut pandang adik tingkatmu, tentu saja dia akan keberatan kalau tiba-tiba ada seseorang yang membantunya sejauh kamu, apalagi kalau dia memang gadis yang terbiasa melakukan semuanya sendiri. Disisi lain, kamu memang terbiasa membantu orang lain, bahkan ketika orang tersebut ga memintanya. Paman juga dulu kaget karena kamu bilang mau membantu kedai karena Paman mengelolanya sendirian, padahal saat itu kamu sedang sibuk dan tetap harus biar berkuliah demi mempertahankan beasiswamu, kan?” Lanjutnya dengan panjang lebar.
“Kalian itu mirip, merasa harus bisa menangani semuanya. Saran Paman, coba diskusikan lagi baik-baik dengan kepala dingin dan minta maaf padanya. Lalu ini, kupon diskon, kapan-kapan ajak Hana dan anak kalian makan disini.”
Ujarnya memberi nasihat dan menyodorkan sebuah kertas kupon kepada Zevan. Ia berharap hubungan keduanya bisa lebih harmonis, karena ia tak ingin Zevan membuat kesalahan yang sama dengan yang ia lakukan bersama mantan istrinya terdahulu.