Splash, splash!
“Oke, sudah selesai mandi! Saatnya pakai baju~” ucap Hana sembari mengangkat Senja dari bak mandi bayinya. Dengan sigap ia mengambil sehelai handuk khusus bayi dan mengeringkan tubuh Senja secara perlahan.
Sudah 3 hari berlalu, dan kini ia sudah mulai terbiasa merawat Senja dengan bantuan Nenek Ika dan kakak tingkatnya, Zevan. Hari sabtu yang cerah menandai usia Senja yang tepat satu bulan. Sekarang, bayi itu menggeliat manja di dekapan sang Mama.
“Slup, slup.” Bunyi Senja menyedot susu dari botol sambil ditimang Hana. ”Enak, ya? Minum yang banyak, sayang. Biar tumbuh sehat!”
Setelah sesi menyusui selesai, gadis itu menaruh Senja di pundaknya dan menepuk punggungnya beberapa kali hingga mengeluarkan sendawa. “Eeh…”
“Nah, sudah kenyang. Jadwalnya tidur siang, nih.” Hana membawa Senja dan menaruh bayi itu ke dalam boksnya. Namun, alih-alih memejamkan mata, bayi mungil itu malah menatapnya dengan mata yang terbuka lebar.
“Lho? Belum ngantuk, ya? Masih mau main, hm?” Kata gadis itu heran sekaligus gemas. Melihat Senja yang menolak tidur, akhirnya Hana mengambil salah satu buku cerita anak yang dibeli olehnya beberapa hari lalu.
“Karena belum mau tidur, Mama bacain cerita aja, ya~,” lanjutnya lembut.
“Ehem, suatu hari ada bayi kelinci mungil bernama Tobi yang tersesat di hutan. Ia kebingungan karena tiba-tiba terpisah dari Mama kelinci!”
Senja menatap ke arah Hana, atau lebih tepatnya, menoleh ke arah sumber suara yang sering didengarnya.
Hana tertawa kecil melihat Senja yang tertarik, lalu kembali bercerita.
“Bayi kelinci ketakutan, tapi dia tidak menyerah dan memutuskan untuk mencari pertolongan. Hingga akhirnya, ia tiba di tempat Nenek kelinci yang baik hati. Disana, ia diurus dengan penuh kasih sayang. Sampai suatu hari… terdengar suara Mama kelinci memanggil dari luar rumah!”
“Em…” bunyi Senja pelan, seakan menyimak cerita dari Mama.
Hana membalik lembar buku cerita dan melanjutkan, “‘Tobi! Tobi! Dimana kau, Nak!’” ucap gadis itu menirukan suara Mama kelinci.
“‘Mama! Mama! Aku disini!’ kata sang bayi kelinci dengan cepat berlari menuju sang Mama. Lalu, Mama kelinci menoleh dan langsung memeluk sang bayi kelinci erat.” Lanjut Hana bercerita.
“‘Maafkan Mama, Nak. Mama seharusnya memegangmu lebih erat. Tetapi, untunglah kamu selamat,’ ucap Mama kelinci tersebut. Tak lama, Nenek kelinci menyusul keduanya dan melihat bayi kelinci yang sudah bersama Ibunya.”
“Mama kelinci tahu kalau anaknya telah diselamatkan oleh Nenek kelinci. Sebagai tanda terima kasih, ia mengundangnya ke rumah keluarga kelinci dan menghidangkan sup wortel untuk makan malam bersama. Mereka pun hidup bahagia selamanya.”
“Selesai~ hoam…” ucap gadis itu sembari menutup buku dan menguap pendek. Melihat Senja yang sudah mulai tertidur, dirinya juga tak kuasa membuka matanya lebih lama.
“Tidur sebentar… gapapa, kan…?” Katanya setengah tidur, mencium pelipis Senja lalu langsung merebahkan tubuhnya di lantai beralaskan tikar hijau muda yang empuk.
Namun, belum sempat terlelap panjang, tiba-tiba terdengar suara ketukan dari arah pintu masuk.
Tok tok.
“Eh? Siapa itu..?” ucap Hana sebelum bangkit dan melangkahkan kakinya malas.
“Hana, Ini Nenek~” Terdengar suara lembut dari arah yang sama. Gadis itu langsung mengulurkan tangannya dan memutar kanopinya tanpa menunggu lama.
“Nenek! Wah, ada apa, Nek?”
“Ini, Nenek ada buat sop sayur untuk kamu, Hana. Dimakan, ya. Nenek tidak bisa mampir lama karena harus beberes lagi~”
Hana menerima rantang berisi sup sayur dengan senang hati.
“Terima kasih banyak, Nek! Pasti akan Hana makan!”
Mereka berpamitan dan pintu kembali tertutup. Seperti tahu akan situasi, perut gadis itu tiba-tiba berbunyi.
…Kruyuk
“Eh? Aku belum sarapan, ya? Ya udah, waktunya sarapan!” Katanya lalu melangkahkan kakinya riang menuju dapur, melupakan kantuk yang beberapa saat lalu ia rasakan.
~~~
“Senja~! Papa datang~!” ucap seorang pemuda bersemangat sambil melepas jaketnya dan menyisakan kaos berwarna biru gelap yang ia kenakan.
Zevan berjalan penuh semangat ke arah Senja setelah membasuh tangan dan kakinya hingga bersih. Tanpa rasa canggung, ia duduk di playmat dan menimang Senja yang terbangun, sepenuhnya menganggap apartemen adik tingkatnya sebagai rumah keduanya.
Hana hanya bisa menggelengkan kepala dan tersenyum, sudah mulai terbiasa dengan tingkah laku kakak tingkatnya itu.
“Kakak baru selesai kelas siang, ya?” Tanya gadis itu sembari menyiapkan kue kering untuk disantap Zevan.
“Iya nih, habis kelas aku langsung gas kesini. Oh, aku ada beli susu kotak juga buat Senja dari minimarket depan.” Tunjuk pria itu ke arah minimarket yang terletak di depan gedung apartemen, lalu memusatkan perhatian ke tas ranselnya. Ia membongkar barang di dalamnya dengan satu tangan karena menolak menurunkan Senja dari dekapannya.
Saat ia mulai meletakkan susu kotak di meja dapur, tiba-tiba terdengar dentingan keramik yang juga ia keluarkan dari tasnya.
“Aku juga ada sesuatu buat kamu, lho, Hana!”
Hana yang sedang sibuk menulis tugasnya langsung menoleh ke arah dapur setelah mendengar ucapan Zevan.
Terlihat sebuah piring besar berwarna ungu yang terbuat dari keramik terletak di atas meja makan, beserta wajah kakak tingkatnya yang berseri-seri.
“Jeng jeng! Ini hadiah piring cantik edisi pelanggan paling loyal bulan ini! Spesial buat Mamanya Senja, nih!”
Hana tersenyum lembut lalu tertawa kecil. “Wah, makasih banyak ya, Kak. Kebetulan aku lagi butuh piring juga.”
Zevan tertawa dan terkekeh, “Ma-sama. Hebat, kan, Papa bisa nebak apa yang Mama butuhin, Senja?” Tanya pemuda itu sambil menatap Senja yang jelas tidak paham apa yang ayahnya katakan.
~~~
Tik, tok, tik, tok.
Sudah dua jam sejak kedatangan Zevan, dan kini jam dinding sudah menunjukkan pukul 4 sore.
“Eh, jalan-jalan, yuk? Kan udah ada di jadwal, nih, jalan-jalan keluarga.” ucap Zevan tiba-tiba.
“Ah, iya juga ya, kak. Oke, kalau gitu, ayo kita jalan-jalan!” Balas Hana semangat setelah teringat kesepakatan yang telah mereka buat beberapa hari lalu.
Zevan segera bangkit dan mengambil cardigan milik Senja untuk dipakaikan, sedangkan dirinya kembali mengambil jaket hitam yang hampir selalu ia kenakan saat pergi ke luar rumah.
Disisi lain, Hana ingin mengambil topi kecil milik Senja di kamarnya. Namun, tiba-tiba ia merasa pusing dan terdiam beberapa detik sebelum berhasil melangkah.
“Ah… Kok tiba-tiba pusing, ya?” Gumam gadis itu. Namun, ia memutuskan untuk tidak terlalu memikirkannya.
“Hana? Butuh bantuan?” Ucap Zevan melihat Hana yang tidak kunjung bergerak sejak tadi.
“Ah, aku gapapa, Kak. Lagi… mikir aja tadi, hehe.” Ungkap gadis itu tak ingin membuat Zevan khawatir.
Tak menunggu lama, Hana langsung mengambil topi kelinci milik Senja dan sebuah jaket ungu untuknya pakai.
Mereka pun melangkah keluar gedung apartemen dan menghirup angin segar yang berembus.
“Ah~ Segarnya! Jalan-jalan sore memang paling enak! Ya kan, Senja?” Kata Zevan riang sambil memeluk bayi mungilnya.
“Aa…” bunyi Senja seakan membalas ucapan Papanya.
“Haha, Senja juga suka ya jalan-jalan~” timpal Hana ceria.
Mereka berjalan santai, tertawa lepas sambil menikmati indahnya pemandangan sore. Di sisi jalan, terdapat toko perlengkapan bayi yang menarik perhatian Zevan. Toko itu adalah tempat di mana ia membeli pakaian Senja untuk pertama kalinya.
“Mampir ke situ, yuk? Aku pengen beliin dia baju lagi. Rayain Senja yang udah sebulan.” Tawar Zevan sambil menunjuk toko itu.
“Wah! Boleh tuh, kak. Ayo kita belikan baju baru buat Senja yang udah sebulan!” Balas Hana setuju, tak ingin melewatkan kesempatan untuk merayakannya.
Mereka melangkah masuk ke dalam toko yang menyuguhkan berbagai perlengkapan bayi mulai dari pakaian, makanan, hingga mainan. Sembari melihat-lihat, mata gadis itu tertuju pada baju bermotif beruang kutub lengkap dengan setelan celana panjangnya. Ia pun mengulurkan tangannya dan merasakan lembutnya kain itu.
“Wah, lembutnya… Pasti adem kalau dipakai Senja.”