Kling.. Kling..
Suasana meja makan hanya diisi suara sendok yang sesekali beradu dengan piring. Nenek Ika dan Hana memakan sarapan dengan khidmat. Hari senin pagi, kondisi Hana sudah jauh lebih baik dibandingkan dengan terakhir kali.
“Gimana, Hana? Sudah merasa lebih baik?”
“Iya nek, sudah jauh lebih baik! Ini semua berkat nenek.”
Nenek Ika tersenyum simpul, “Baguslah kalau begitu, hari ini bisa ketemu lagi sama Senja.”
“Iya!” Hana tersenyum, sumringah membayangkan akan kembali bertemu dengan sosok yang ia rindukan, Senja.
Setelah mereka sarapan bersama, Nenek Ika berpamitan.
“Kalau begitu nenek balik ke apartemen nenek ya, kalau ada butuh apa-apa panggil saja lagi.”
“Iya nek, tentu. Maaf Hana sudah merepotkan nenek dua harian ini.”
“Tidak nak, tidak sama sekali. Nenek menganggap Hana sebagai keluarga, nenek tidak merasa direpotkan.”
“Terima kasih banyak ya, nek.”
“Iya, nak.” Nenek Ika keluar dari apartemen Hana, kembali ke apartemennya sendiri.
Saat ini Hana kembali merasa bugar, tapi tidak sepenuhnya. Ia merasa butuh sedikit waktu lagi untuk pemulihan, jadi saat ini Hana mengambil izin dari aktivitas perkuliahan.
Hana berjalan keluar ke arah balkon. Seharusnya saat ini, Zevan sudah dalam perjalanan mengantar Senja, karena ia harus pergi part time. Dan benar saja, saat Hana memandang jalanan depan gedung apartemen dari atas, ia melihat Zevan baru saja sampai dan memarkirkan motornya di parkiran apartemen. Hana segera masuk ke dalam lagi, ia duduk di sofa dengan perasaan menggebu-gebunya, tak sabar untuk kembali bertemu dengan buah hatinya tercinta.
Beberapa saat kemudian, pintu apartemen dibuka, menampakkan dua sosok yang Hana rindukan. “Senja!”
“Mama! Kita datang!” Sambut Zevan, ia berlari kecil sambil menggendong Senja, menuju arah Hana.
Hana langsung menyambut Senja dengan pelukan, ia cium ubun-ubun anaknya itu dengan penuh kasih sayang. “Mama kangen banget…”
Sang bayi kecil menyaut, “Maaaa..aaa..”
“Senja kayaknya juga kangen banget tuh.” Zevan memperhatikan mereka sambil tersenyum, ia berdiri dan bersedekap dada, tubuhnya bersandar pada dinding apartemen. Sedangkan Hana masih belum puas menciumi Senja.
“Puas-puasin deh Han, hari ini Senja sepenuhnya milikmu.”
Sepenuhnya milikmu.
Mendengar kalimat yang terucap dari Zevan itu, Hana merasakan perasaan aneh, mungkin lebih ke sebuah firasat?
“Hehe iya kak..” Hana memeluk erat Senja, ia tak ingin melepaskannya.
“Ngomong-ngomong, Senja, papa pamit dulu ya.. mau berangkat kerja.” Zevan mendekatkan wajahnya ke wajah Senja, mengecup keningnya singkat.
“Hana, aku pergi dulu ya.” Zevan melempar senyum kepada Hana.
“Iya, hati-hati kak.”
Hana menatap bayang Zevan yang menghilang di balik pintu, dirinya benar-benar berterima kasih pada Zevan yang selalu ada di sisinya. Mungkin nanti aku harus beliin kak Zevan hadiah.. buat nenek Ika sama tante Mira juga.
Hana akhirnya kembali memulai harinya bersama si kecil kesayangannya. Dari membacakan buku cerita, memberi susu, mengganti popoknya. Sesekali ia hanya menggendong Senja dan mengajaknya mengobrol dengan pelan. Saat Senja sedang terjaga dan diawasi, Hana menelungkupkan Senja sebentar untuk melatih otot leher, tummy time.
Masih setia dengan Senja, Hana menggendong Senja di pangkuannya. Bayi itu sedang terjaga, matanya sesekali bergerak mengikuti wajah Hana.
“Kenapa lihat-lihat terus?” Hana tersenyum gemas.
Senja hanya mengeluarkan suara kecil.
“Oh, begitu?”
Hana terus membalas suara Senja, membuat Senja kembali menggeliat kecil.
“Kamu ngajak ngobrol, ya?”
Ia tertawa pelan sebelum mengusap lembut pipi Senja dengan punggung jarinya.
Hari itu Hana jalani dengan bahagia bersama si kecil Senja. Tapi kejutan selalu datang tanpa diundang. Siang harinya, Hana mendapati nomor telepon tidak dikenal menghubungi ponselnya. Awalnya, Hana tidak bisa mengira dari siapa telepon tersebut berasal, tetapi ia tetap mengangkatnya.
“Halo?” Ucap Hana ragu.
Seseorang di seberang menjawab, “Halo, selamat siang. Benar dengan mbak Hanara?”
“Iya benar. Ini siapa?”
“Kami dari Dinas Sosial.”
“Oh.. ada apa ya?”
“Kami ingin memberi tahu, mengenai bayi yang anda temui tempo hari. Kasusnya sudah mengalami perkembangan.”
“Begitu… baguslah.”
“Kami sudah berhasil menemukan keluarga bayinya.”
Deg. Tubuh Hana seketika mematung dan suaranya tertahan di tenggorokan.
“Apa..?”
“Maka dari itu, apakah anda bisa datang ke kantor kami sekarang?”
Hana tidak langsung menjawab, ia termenung beberapa saat.
“Baiklah, saya segera ke sana.”
Ini seharusnya menjadi kabar yang menggembirakan bagi Hana, karena akhirnya keluarga Senja sudah ditemukan. Tapi entah mengapa, perasaan itu kembali muncul. Perasaan tak rela bila harus berpisah dengan Senja. Momen Hana bersama Senja tidaklah sebentar, ia sudah benar-benar menganggap Senja sebagai anaknya.
Dengan lemas dan pikiran yang terbang kemana-mana, Hana mulai bersiap. Ia bahkan menyiapkan banyak barang perlengkapan Senja, fokusnya mulai terganggu.
Sebelum berangkat, ia sempat mengirim pesan kepada Zevan; “Aku mau pergi ke kantor Dinas Sosial, katanya keluarga Senja udah ketemu.”