Tak! Tak!
“Lagi masak apa, Hana?” Tanya Zevan dari belakang, baru setelah berhasil menidurkan Senja yang kini terlelap di boks bayinya.
“Mau masak ikan, kak.” Ucap Hana menoleh sedikit, lalu kembali memfokuskan pandangannya pada talenan yang berisi beberapa potongan ikan berukuran kecil.
“Oh, ada yang bisa dibantu, nggak?”
“Sudah hampir selesai, kok. Kakak tunggu saja, ya.”
“Oke deh, aku bantu siapin piring aja, ya.”
Zevan melangkah menuju rak dan mengambil dua buah piring, lalu berjalan menuju meja. Sembari mengatur alat makan, ia sesekali melirik ke arah Hana, yang raut wajahnya sudah terbaca sejak tadi. Adik tingkatnya itu jelas-jelas terlihat muram, terutama sejak mereka bertemu Pak Hari.
Hari Minggu sore itu tidak menjadi waktu sibuk bagi keduanya. Namun, rasa tetap saja, rasanya kejadian kemarin masih memenuhi kepala mereka. Keduanya tidak banyak berbicara pada satu sama lain, terutama Hana, yang sejak tadi lebih banyak diam jika tidak diajak bicara oleh Zevan.
Beberapa saat setelah makan siang selesai, Zevan memutuskan untuk membuka percakapan karena tidak nyaman dengan situasi yang canggung terus-menerus.
“Makasih ya makanannya, Hana. Enak banget. Kamu cocok banget deh jadi koki. Menu ikannya aku kasih bintang lima, hehe.” Katanya berusaha terdengar ceria.
Hana melirik sekilas, lalu mengangguk kecil dan membereskan peralatan makan mereka. “Sama-sama, kak. Syukurlah kakak suka makanannya.”
Gadis itu berbalik dan meninggalkan meja makan, lalu menyibukkan diri dengan mencuci peralatan makan yang baru saja mereka gunakan. Melihat hal itu, Zevan dengan sigap menyusul dan ikut berdiri di sebelahnya, berniat ingin membantu Hana.
“Sini, aku bantu. Kamu istirahat aja, ya. Kan tadi udah masak. Giliran aku yang beresin ini.”
“Nggak usah, kak. Aku… suka cuci piring, kok.” Hana berkata mencoba mencari alasan. Sebenarnya ia ingin melakukan ini agar tidak berlarut-larut memikirkan kejadian kemarin.
“Wow, baru ini aku dengar alasan begitu. Aku juga suka banget cuci piring, kok. Aku udah sering lakuin ini pas kerja part-time.” Balas Zevan tak mau kalah.
“Gapapa, kak. Kakak duduk aja, ya. Yang dicuci sedikit aja kok.”
“Nah, karena yang dicuci dikit doang, mending kasih ke aku aja.”
“Nggak usah, kak. Aku bisa, kok.”
“Aku juga bisa, Hana. Segini mah, kecil.”
“...”
“...”
“Kita nggak ada yang mau kalah ya, kak?”
“Iya, nih. Ya udah deh, ayo cuci bareng aja.”
Akhirnya setelah beberapa, keduanya kembali tenang dan fokus melakukan tugas mereka bersama-sama. Zevan masih sesekali mencuri pandang ke adik tingkatnya dan merasa bahwa kejadian kemarin masih menghantui pikiran gadis itu. Disisi lain, Hana yang ingin melupakan kejadian itu dengan beraktivitas, justru malah termenung sambil mengusap piring yang sudah dipenuhi busa.
“Aku… takut, kak.” Ungkap Hana tiba-tiba. “Aku tau kalau Pak Hari itu orang tua kandungnya Senja, dan aku menghormati itu. Tapi… disaat yang sama, aku juga takut Senja diambil. Padahal, aku bukan siapa-siapa dan nggak berhak nentuin dengan siapa Senja harus tinggal.”
Hana diam sejenak, sebelum melanjutkan, “Apa aku… egois, ya, kak?”
Zevan terdiam. Sejujurnya, dia sendiri pun tidak tahu jawabannya. Ia juga masih mencoba memahami rumitnya situasi ini.
“Menurutku, perasaanmu sekarang lebih ke rasa takut kehilangan dibandingkan egois, Hana. Karena, bayangin, kalau ada hal yang sudah buat kita terikat, entah rasa sayang atau apapun secara emosional, pasti susah lepasnya. Apalagi, kita sudah biasa sama kehadiran Senja.” Jawab Zevan, ingin menghibur gadis itu tapi juga berusaha netral.
“Kalau kamu egois, sedari awal, kamu bisa aja menolak ketemu Pak Hari. Tapi yang kamu lakuin justru setuju untuk ketemu dan bahkan masih mikirin kondisi beliau.”
Hana kembali terdiam. Dia tidak tahu harus merespon seperti apa dan hanya fokus mencuci piring yang ada di genggamannya.
“Aku nggak bisa jamin apa-apa, Hana. Tapi, daripada berasumsi, mending kita nunggu hasil dari Dinas Sosial aja, ya? Sampai mereka hubungin lagi, hal ini bisa kita pikirkan nanti, oke?”
“Iya… kak…” Jawab gadis itu pelan.
Setelah selesai mencuci peralatan makan, Zevan menarik lembut tangan gadis itu.
“Mau nonton film, nggak? Mumpung Senja lagi tidur. Series terbaru dari film horor yang kamu bilang waktu itu udah keluar, nih. Aku baru cek tadi pagi di platform langgananku.”
“Eh, beneran, kak? Boleh deh, ayo.”
“Oke deh, aku sambil siapin cemilan ya.”
~~~
Hari Jumat sore, salah seorang petugas di gedung Dinas Sosial sibuk berlalu lalang di sebuah ruangan rapat. Sudah sejak tadi ia menunggu tamu penting dari salah satu kasus yang ia pegang.
Tap. Tap.
Seorang pria berusia tengah 40-an akhirnya memperlihatkan batang hidungnya. Tamu yang sejak tadi ditunggu kedatangannya, Pak Hari, memasuki ruangan dengan beralaskan sandal dan baju yang sederhana.
“Selamat sore, Bapak.” Sapa petugas itu sambil mengulurkan tangannya hendak menjabat sang tamu.
“Sore… Pak.” Balas Pak Hari pelan.
“Silahkan duduk, Pak.” Petugas mempersilakan dengan sopan, lalu melanjutkan, “Seperti yang sudah Bapak ketahui, Bapak dipanggil kesini untuk diberitahukan hasil asesmen yang telah kami lakukan selama 3 hari kemarin.”
Pak Hari terdiam pasrah, seakan menerima dengan lapang dada apapun hasil akhirnya.
“Meninjau dari kondisi kesehatan, perekonomian dan lingkungan, dengan sangat disayangkan, kami tak bisa menyerahkan hak asuh Senja kepada Pak Hariansyah. Hal ini dikarenakan ketiga aspek diatas tidak memenuhi standar optimal untuk membesarkan seorang anak, Pak.” Kata petugas itu sambil membaca hasil yang tertera di kertas yang ia genggam.
“Saya sangat memahami rasa kecewa Bapak terhadap hasil ini, walaupun Bapak adalah ayah kandung dari Senja. Namun, kami tidak bisa serta merta membiarkan Senja tumbuh di lingkungan yang kurang memadai.” Lanjutnya dengan nada penyesalan.
Pak Hari masih mengatup mulutnya, tidak sanggup berkata apapun. Lalu, beliau memberanikan diri untuk bersuara, “Saya mengerti, Pak. Saya ngerti kalau kondisi saya tidak memungkinkan untuk merawat anak saya. Untuk saat ini, saya… tidak ada niatan untuk mengambil kembali Senja. Bukan karena tidak sayang, tapi… karena saya takut, kalau tinggal sama saya, nanti dia akan bernasib sama kayak bapaknya...”
Petugas mengangguk, sejenak terdiam, sebelum membalas perkataan Pak Hari, “Baik. Kalau begitu, pertemuannya sampai disini saja, Bapak. Untuk informasi pertemuan selanjutnya, akan kami hubungi lebih lanjut.”
“Kalau boleh tau, pertemuan selanjutnya untuk apa ya, Pak?” Tanya Pak Hari pelan.
“Rencananya kami akan menghubungi Saudari Hanara untuk menjelaskan perihal hasil asesmen ini, Pak. Setelah dirasa mencapai kesepakatan, barulah kita akan memutuskan dengan siapa Senja akan diasuh kedepannya.” Jawab petugas itu tenang.
“Baik. Terima kasih banyak… Pak.” Pak Hari berkata sambil menunduk.
“Terima kasih kembali, Pak.”
Pak Hari beranjak dari kursinya dan meninggalkan ruangan itu dengan perasaan gundah. Walau begitu, ia sudah membulatkan keputusannya demi kebaikan putranya, Senja.
~~~
“Atas nama Saudari Hanara beserta pendamping, silahkan masuk.” Ucap petugas yang berjaga di depan pintu ruangan yang telah disiapkan untuk pertemuan mereka.