"Aku berjuang lebih baik.
"Aku bertahan lebih baik."
"Trauma tetaplah trauma, cara regulasinya dengan menerima kalau kamu terus mengatakan, kamu percaya dengan pengobatan kami. Kami hanya membantu kamu sembuh." Sesi konsultasi pun berakhir, dan aku duduk termenung di sebuah meja cafe.
Percaya yah? Rasanya mimpi buruk terus menghampiriku dan aku rasa ingin mati. Mereka tidak mau pergi dari ingatanku.
Masuk ruang Tulip pun tidak ada gunanya, aku sendiri sudah tidak percaya sama terapi ini.
"Mba ini pesanannya, Americano dingin dengan la tuna toast satu yah."
"Makasih kak." Ujarku, aku menikmati hidangan yang ada dihadapanku. Ikan tuna bercampur dengan saus mayo dan alpukat yang di campur telur serta beberapa baham lainnya membuat lidahku bergetar, aromanya roti bakar sungguh mengugah seleraku.
Ucapan psikiater itu kembali terngiang di kepala ku sembari mengunyah toast milikku aku berpikir bahwa seharusnya aku lebih optimis lagi.
"Aku sendiri sudah lelah percaya pada apapun." Ujarku pada diriku sendiri. Wajahku semakin pucat saat aku menatap kaca, aku tidak memiliki semangat untuk menjalani apapun, aku bahkan menutupinya dengan riasan supaya nampak lebih baik.
Mata ku mengedar ke segala penjuru, jujur rasanya tidak nyaman duduk sendiri di tengah keramaian, dan aku sadar itu.
Kenyaman terhadap lingkungan sosial terasa semu buatku. Rasanya tak mungkin aku benar-benar bisa kembali ke jalan yang terarah.
"Apa aku hidup dalam krisis saat ini..." Ujarku perlahan dan terus memakan toast ku hingga setengah.
Aku memperhatikan seseorang yang berjalan mendekat ke arah ku.
"Kamu, rere kan..." Ujar laki-laki itu, dan aku mengangguk. Manik mata kami bertemu, cokelat seperti warna kacang almond.
"Aku Gema, kamu tidak mengingatku sih." Lanjutnya kemudian. "Boleh aku duduk?" Tanyanya, aku menganggu sekenannya.
"Kamu anak fakultas ekonomi bisnis kan? Aku anak fakultas hukum semester 3." Ujarnya, sembari mengulurkan tangannya kearah ku.
Aku menyambut tangan itu dengan setengah hati, umumnya orang tidak akan mengenaliku begitu saja.
"Ya, kita bertemu sebelumnya?"Tanyaku, sembari meletakkan toast ku yang sisa setengah.