Blurb
Bagus Mahendra pernah memiliki semuanya.
Rumah besar di tengah kota. Kendaraan. Kehidupan yang berkecukupan. Pendidikan yang terjamin. Dan sebuah keluarga yang, dari luar, terlihat sempurna.
Namun ada sesuatu yang tidak pernah terlihat dari balik pagar rumah mereka.
Mereka jarang berbicara.
Ayah sibuk dengan pekerjaannya. Ibu sibuk dengan dunianya. Bagus dan Beny tumbuh dengan kesibukan masing-masing. Mereka makan di meja yang sama, tidur di bawah atap yang sama, tetapi perlahan menjadi orang-orang yang asing satu sama lain.
Sampai seorang pria bernama Peter Hoffmann datang.
Satu perkenalan berubah menjadi sebuah kerja sama. Kepercayaan berubah menjadi utang. Dan sebuah keputusan yang awalnya dianggap sebagai jalan menuju masa depan justru membawa keluarga itu menuju kehancuran.
Rumah mereka hilang.
Pekerjaan Ayah hilang.
Kehidupan yang selama ini mereka kenal ikut runtuh.
Untuk pertama kalinya, Bagus melihat keluarganya tidak lagi sebagai orang-orang yang sibuk dengan kehidupannya masing-masing. Ia melihat Ayah yang kehilangan arah. Ibu yang berusaha tetap kuat. Dan Beny yang harus belajar menerima kenyataan bahwa hidup mereka telah berubah.
Mereka akhirnya meninggalkan kota.
Menuju sebuah rumah sederhana di pelosok desa.
Tidak ada kemewahan di sana.
Tidak ada kendaraan mahal.
Tidak ada kehidupan yang serba tersedia.
Hanya sebuah rumah tua, halaman yang dipenuhi rumput, udara dingin, jalan setapak, tetangga yang ramah, dan kehidupan yang berjalan jauh lebih sederhana.
Tetapi justru di tempat itulah sesuatu yang selama ini hilang dari keluarga mereka perlahan kembali.
Mereka mulai makan bersama.
Bekerja bersama.
Tertawa bersama.
Saling menunggu.
Saling menjaga.
Dan untuk pertama kalinya, mereka benar-benar pulang sebagai sebuah keluarga.
"Rumah" Kedua adalah kisah tentang kehilangan, perjuangan, dan sebuah keluarga yang harus jatuh sampai ke titik paling rendah untuk memahami bahwa rumah bukan tentang seberapa besar bangunannya.
Rumah adalah tentang siapa yang tetap tinggal ketika semuanya sudah tidak ada.