Namaku Bagus Mahendra,
Usiaku 18 tahun
Aku anak pertama dari dua bersaudara.
Saat cerita ini dimulai, aku masih kuliah semester satu. Umurku masih cukup muda
untuk berpikir bahwa kehidupan akan berjalan seperti yang selama ini kulihat.
…
Aku tinggal bersama Ayah, Ibu, dan adikku.
Ayahku bernama Lukman Hidayat. Usianya 50 tahun. Beliau bekerja di sebuah
perusahaan swasta yang bergerak di bidang ekspor dan impor berbagai macam
barang. Posisi Ayah cukup tinggi. Ia bekerja sebagai Export Supervisor/Coordinator.
Ibuku bernama Siti Astuti. Usianya 48 tahun. Berbeda dengan Ayah yang sibuk
bekerja di kantor, Ibu menjalankan bisnis kecil bersama ibu-ibu di kompleks tempat
kami tinggal. Kesibukannya juga cukup padat. Kadang-kadang, aku bahkan lebih
sering melihat Ibu pergi bersama teman-temannya daripada berada di rumah.
Dan terakhir, adikku bernama Beny Wirawan. Usianya 17 tahun dan masih duduk di
kelas tiga SMA.
Kami berempat tinggal di sebuah rumah yang cukup besar di tengah kota.
Kalau dilihat dari luar, keluarga kami mungkin terlihat seperti keluarga yang tidak
kekurangan apa pun.
Rumah besar...Kendaraan tersedia...Kebutuhan sehari-hari tercukupi.
Sekolah dan kuliah bukan masalah.
Tetapi ada satu hal yang tidak pernah terlihat dari luar.
Kami memang tinggal di rumah yang sama.
Namun entah sejak kapan...
kami mulai menjalani kehidupan masing-masing.
…
Kalau orang melihat keluarga kami dari luar, mungkin tidak akan ada yang
menyangka kalau suatu hari semuanya akan berubah.
Kami tinggal di sebuah rumah yang cukup besar di tengah kota.
Tanahnya kurang lebih sepuluh are.
Halaman depannya luas. Ada beberapa pohon yang ditanam Ibu. Di bagian samping
ada taman kecil yang setiap pagi disiram oleh pembantu. Garasi kami juga cukup
besar untuk menyimpan beberapa kendaraan.
Bangunannya modern...
Dindingnya bersih...
Lantainya selalu mengilap...
Kamar mandinya bagus...
Ruang tamunya luas...
Ada ruang keluarga...
Ada beberapa kamar...
Ada dapur yang hampir tidak pernah terlihat berantakan karena selalu ada yang
membersihkannya.
Kami juga memiliki seorang pembantu yang sudah cukup lama bekerja bersama
keluarga kami. Dan Ayah juga punya sopir.
Kebutuhan sekolah Beny tidak pernah menjadi masalah.
Begitu juga dengan kuliahku.
Kalau aku membutuhkan sesuatu untuk kuliah, selama masih masuk akal, Ayah akan
mengusahakannya.
Beny juga begitu.
Kendaraan untuk pergi sekolah tersedia.
Ponsel pintar yang sedang menjadi tren waktu itu juga sudah kami miliki.
Kalau soal makanan, apalagi.
Bekal untuk sekolah atau kuliah selalu tersedia.
Aku tidak pernah harus bangun pagi lalu bertanya kepada Ibu,
"Bu, hari ini ada makanan nggak?"