Beberapa minggu setelah aku mulai kuliah, Ayah mulai sering membicarakan
seseorang yang belum pernah kukenal sebelumnya. Awalnya aku tidak terlalu memperhatikan.
Bagiku, urusan bisnis Ayah adalah urusan orang dewasa. Selama semua berjalan baik
dan kebutuhan kami tetap terpenuhi, aku tidak merasa perlu ikut campur.
Suatu malam, saat kami sedang makan, Ayah tiba-tiba mengatakan sesuatu.
"Ayah punya teman baru."
Aku yang sedang mengambil lauk hanya mengangguk.
"Teman bisnis?"
"Iya."
Ibu yang duduk di seberang Ayah ikut bertanya.
"Orang sini?"
Ayah menggeleng.
"Orang asing."
Aku berhenti sebentar.
"Orang asing?"
"Iya. Dia investor."
Aku kembali makan.
...
Ayah kemudian mulai menjelaskan bahwa orang tersebut dikenalkan oleh salah satu
kenalannya. Katanya, dia seorang pengusaha dari luar negeri yang sedang mencari
peluang untuk membuka perusahaan di Indonesia.
Kota tempat kami tinggal menjadi salah satu tempat yang sedang dipertimbangkannya.
Menurut Ayah, orang itu melihat banyak peluang di kota kami.
Ada perkembangan ekonomi.
Ada banyak lahan yang masih bisa dikembangkan.
Dan menurutnya, bisnis di daerah kami punya masa depan yang bagus.
Aku sebenarnya tidak terlalu memahami pembicaraan mereka.
Aku hanya mendengarkan sambil sesekali melihat ponsel.
Beny bahkan lebih tidak peduli.
Dia duduk di sampingku dengan earphone terpasang di telinga.
Ibu sesekali bertanya.
Ayah menjelaskan.
Aku dan Beny hanya menjadi pendengar yang sebenarnya tidak terlalu mengerti apa
yang sedang dibicarakan.
"Namanya siapa, Yah?" tanyaku akhirnya.
Ayah menatapku.
"Peter."
"Peter siapa?"
"Peter Hoffmann."
Nama itu terdengar asing di telingaku.
Ayah kemudian mengatakan bahwa Peter berasal dari Jerman.
Usianya sekitar lima puluh tahun.
Seorang pria yang sudah lama berkecimpung dalam dunia bisnis dan memiliki
pengalaman investasi di beberapa negara.
Setidaknya begitu yang Ayah ceritakan.
Aku mengangguk lagi.
Setelah itu pembicaraan kembali berlanjut.