Beberapa waktu setelah Peter mulai sering datang ke rumah,
ada sesuatu yang berubah.
Bukan perubahan besar.
Setidaknya, belum.
Ayah dan Ibu mulai lebih sering keluar bersama.
Biasanya mereka hampir tidak pernah pergi berdua.
Ayah sibuk dengan pekerjaannya.
Ibu sibuk dengan bisnisnya.
Kalau pun keluar rumah, biasanya sendiri-sendiri.
Tetapi beberapa minggu terakhir berbeda.
Aku mulai beberapa kali melihat mereka berangkat bersama.
Awalnya aku tidak peduli.
Sampai suatu pagi, aku melihat Ayah sudah rapi sejak pagi.
Ibu juga.
Mereka bahkan terlihat seperti hendak pergi ke suatu tempat yang cukup penting.
Aku sedang sarapan ketika melihat keduanya berjalan menuju pintu.
Aku menatap mereka.
"Yah."
Ayah berhenti.
"Kenapa?"
"Ayah sama Ibu mau ke mana?"
Ayah dan Ibu saling pandang sebentar.
Hanya sebentar.
Kemudian Ibu menjawab.
"Ada urusan penting."
Aku mengangguk.
"Urusan apa?"
Ayah langsung menjawab.
"Urusan kerja."
Aku tidak bertanya lagi.
"Oooh."
Sesederhana itu.
Aku kembali makan.
Beny yang sedang duduk di sebelahku bahkan tidak mengangkat kepalanya dari
ponsel.
Ayah dan Ibu kemudian pergi.
Aku tidak tahu ke mana.
Aku juga tidak tahu apa yang sedang mereka lakukan.
Karena waktu itu...
aku memang tidak pernah merasa perlu tahu semua urusan orang tuaku.
Ternyata hari itu bukan hari biasa.
Hari itu Ayah dan Ibu pergi ke sebuah bank.
Bukan untuk menabung.
Bukan untuk mengambil uang.
Mereka datang untuk meminjam uang dalam jumlah yang cukup besar.
Sekitar Lima Ratus Juta Rupiah
Jumlah yang bagiku waktu itu terasa seperti angka yang sulit dibayangkan.
Lima ratus juta.
Kalau uang itu dijadikan pecahan seribu rupiah, mungkin aku bisa membuat jalan dari
rumah sampai kampus.