Beberapa hari setelah urusan pinjaman dari bank selesai,
Ayah semakin sering keluar rumah.
Aku tidak terlalu memperhatikannya.
Bukan karena aku tidak peduli.
Memang sejak dulu kami terbiasa dengan kesibukan masing-masing.
Ayah punya urusan bisnis.
Ibu punya bisnisnya sendiri bersama ibu-ibu kompleks.
Aku sibuk dengan kuliah.
Beny sibuk dengan sekolah dan teman-temannya.
Kami tinggal di rumah yang sama, tetapi masing-masing seperti memiliki dunia
sendiri.
Pagi itu pun begitu.
Aku sedang sarapan ketika melihat Ayah sudah berpakaian rapi. Kemeja lengan
panjang, celana bahan, dan sepatu yang biasanya hanya dipakai kalau ada urusan
penting.
Aku menatapnya sebentar.
"Mau ke mana, Yah?"
"Ketemu Peter."
"Bisnis lagi?"
Ayah tersenyum.
"Iya."
Aku mengangguk.
Tidak ada pertanyaan lanjutan.
Aku tidak tahu bahwa hari itu Ayah akan melakukan sesuatu yang nantinya mengubah
kehidupan keluarga kami.
Dan aku juga tidak tahu bahwa jumlah uang yang akan berpindah tangan hari itu
adalah jumlah yang bagi keluargaku sangat besar.
Lima ratus juta rupiah.
Ayah bertemu Peter di sebuah bank yang sudah mereka sepakati sebelumnya.
Semua proses dilakukan secara resmi.
Tidak ada koper berisi uang.
Tidak ada amplop tebal.
Tidak ada adegan seperti di film-film.
Uang itu berpindah melalui transfer antarbank.
Jumlahnya cukup membuat siapa pun berpikir berkali-kali.
Rp500.000.000.
Lima ratus juta rupiah.
Uang yang berasal dari pinjaman bank dengan rumah kami sebagai jaminannya.
Namun bagi Ayah, uang itu bukan sekadar utang.
Itu adalah modal.
Modal untuk memulai kerja sama yang diyakininya akan membawa masa depan baru
bagi keluarga kami.
Proses transfer berlangsung cukup lama.
Data diperiksa.
Nomor rekening diperiksa kembali.
Nama penerima dicocokkan.
Setelah semuanya dianggap sesuai, transaksi akhirnya dilakukan.
Beberapa saat kemudian, bukti transfer keluar.
Uang itu resmi berpindah.
Dari rekening Ayah...
ke rekening Peter.
Ayah menyimpan bukti transfer tersebut dengan hati-hati.
Bukan karena ia curiga.
Justru karena ia menganggap benda itu sebagai bukti bahwa langkah besar yang
mereka rencanakan akhirnya benar-benar dimulai.
Setelah transaksi selesai, Peter mengeluarkan sebuah map.
Di dalamnya terdapat beberapa lembar dokumen kerja sama.
Ada kop surat perusahaan.
Ada alamat.
Ada nama perusahaan.
Ada berbagai tanda tangan dan stempel yang membuat semuanya terlihat resmi.
Peter mengatakan bahwa perusahaan tersebut merupakan perusahaan kontraktor