RUMAH KEDUA

Marlon Anaka
Chapter #7

PERUSAHAAN YANG TIDAK PERNAH ADA

Pagi itu Ayah datang ke kantor lebih awal.

Sejak semalam pikirannya tidak tenang.

Telepon kepada Peter masih tidak tersambung.

Pesan yang dikirim tidak pernah mendapat balasan.

Nomornya tetap tidak aktif.

Awalnya Ayah masih mencoba berpikir positif.

Mungkin Peter sedang bepergian.

Mungkin ada masalah dengan teleponnya.

Mungkin sedang ada urusan penting.

Tetapi semakin lama menunggu, semakin banyak kemungkinan buruk

yang muncul di kepalanya.

Pagi itu, begitu sampai di kantor, Ayah langsung mengambil ponselnya.

Nomor Peter kembali ditekan.

Menunggu.

Tidak tersambung.

Ayah mencoba lagi.

Hasilnya sama.

Tidak aktif.

Sekali lagi.

Tetap sama.

Ayah meletakkan ponselnya di meja.

Kemudian menarik napas panjang.

"Peter sebenarnya ke mana?"

Pertanyaan itu hanya keluar dalam hati.

Tidak ada yang bisa menjawab.

Ayah kemudian teringat sesuatu.

Perusahaan.

Kalau Peter tidak bisa dihubungi melalui ponsel, mungkin masih ada cara lain.

Peter pernah mengatakan bahwa dirinya memiliki perusahaan kontraktor

yang cukup besar.

Bahkan nama perusahaan itu tercantum jelas dalam dokumen kerja sama yang

sekarang tersimpan di rumah.

Ayah berpikir...

kalau begitu, seharusnya perusahaan tersebut punya kantor.

Punya nomor telepon.

Punya alamat.

Punya jejak.

Setidaknya...

begitulah seharusnya sebuah perusahaan bekerja.

Ayah menyalakan komputer kantor.

Kemudian membuka mesin pencarian.

Jarinya mengetik nama perusahaan yang tercantum dalam dokumen kerja sama.

Ia menekan tombol pencarian.

Menunggu beberapa detik.

Hasil pencarian muncul.

Ayah membaca satu per satu.

Tidak ada.

Ia mencoba lagi.

Kali ini nama perusahaan diketik lebih lengkap.

Tetap tidak ada.

Ayah mencoba menggunakan nama yang tercantum di kop surat.

Tidak ada.

Alamat yang tertulis di dokumen juga dicoba.

Tetap tidak ada.

Ayah mulai mengerutkan kening.

Ia membuka beberapa situs lain.

Mencari daftar perusahaan.

Mencari informasi kontraktor.

Mencari proyek-proyek yang pernah dikerjakan.

Tidak ada.

Nama itu seperti...

tidak pernah ada.

Ayah menyandarkan tubuhnya ke kursi.

Tangannya perlahan terlepas dari mouse.

Jantungnya mulai berdetak lebih cepat.

Satu pertanyaan muncul di kepalanya.

"Kalau perusahaan ini benar-benar ada..."

"Kenapa tidak ada satu pun jejaknya?"

Ayah menatap layar komputer cukup lama.

Ia belum mau percaya.

Tidak mungkin.

Dokumennya ada.

Kop suratnya ada.

Tanda tangannya ada.

Peter juga ada.

Semua terlihat nyata.

Tetapi perusahaan yang namanya tertulis di atas dokumen itu...

tidak ditemukan di mana-mana.

Ayah mencoba mencari sekali lagi.

Kali ini lebih teliti.

Tidak ada.

Zonk.

Tidak ada perusahaan.

Tidak ada situs resmi.

Lihat selengkapnya