RUMAH KEDUA

Marlon Anaka
Chapter #8

KETIKA SEMUANYA AKHIRNYA TERUNGKAP

Hari Minggu biasanya menjadi hari paling malas di rumah kami.

Tidak ada yang terburu-buru.

Tidak ada jadwal kuliah.

Tidak ada sekolah.

Tidak ada urusan bisnis yang harus dikejar.

Tidak ada sopir, dan pembantu..

(Mereka hari minggu pulang, karena rumah mereka

Masih disekitaran lingkunagn kami.)

Hari itu aku dan Beny sama-sama memilih tinggal di rumah.

Entah karena malas keluar atau memang sedang tidak ingin bertemu siapa-siapa.

Aku lebih banyak berada di kamar.

Beny juga begitu.

Sesekali keluar hanya untuk mengambil makanan atau minuman.

Rumah yang biasanya cukup ramai dengan aktivitas justru terasa lebih tenang.

Tetapi ada satu hal yang berbeda.

Ayah sedang tidak baik-baik saja.

Sejak pagi ia hanya duduk di sofa ruang keluarga.

Di tangannya ada segelas teh tawar hangat.

Tidak disentuh.

Hanya dibiarkan begitu saja.

Wajahnya terlihat pucat.

Sesekali ia memijat pelipis.

Ibu hari itu juga tidak pergi ke mana-mana.

Tidak ada pertemuan dengan ibu-ibu kompleks.

Tidak ada bisnis.

Tidak ada acara di luar.

Ia lebih banyak berada di dekat Ayah.

Membawakan obat.

Mengambilkan air.

Sesekali bertanya apakah Ayah masih pusing.

Aku sebenarnya sudah merasa ada sesuatu yang tidak beres.

Tetapi aku belum tahu apa.

Sampai akhirnya...

Ibu duduk di samping Ayah.

Ayah memegang gelas tehnya dengan kedua tangan.

Lalu berkata pelan.

"Bu..."

"Iya?"

"Ada sesuatu yang harus aku ceritakan."

Ibu menoleh.

"Apa?"

Ayah diam cukup lama.

Seolah sedang mencari keberanian untuk mengucapkan sesuatu yang sejak beberapa

hari terakhir terus menghantui pikirannya.

Kemudian suaranya terdengar.

"Kayaknya kita kena masalah."

Ibu langsung berubah.

"Masalah apa?"

Ayah menunduk.

"Peter."

Satu nama itu cukup membuat suasana ruangan berubah.

Aku yang sejak tadi berada tidak jauh dari ruang keluarga ikut memperhatikan.

Beny juga keluar dari kamarnya.

Untuk pertama kalinya hari itu, kami berdua benar-benar memperhatikan pembicaraan

Ayah.

Ayah menarik napas panjang.

Kemudian mulai bercerita.

Tentang Peter.

Tentang telepon yang tidak pernah tersambung.

Tentang perusahaan yang tidak ditemukan.

Tentang temannya yang mengenalkan Peter.

Semakin lama Ayah bercerita...

semakin pucat wajah Ibu.

Tangannya yang sejak tadi memegang obat perlahan turun.

Ia seperti tidak percaya dengan apa yang sedang didengarnya.

"Mas..."

Suaranya bergetar.

"Iya."

"Perusahaannya benar-benar tidak ada?"

Ayah menggeleng pelan.

"Saya cari sendiri."

"Terus Peter?"

"Nomornya tidak aktif."

Ibu menatap Ayah.

Beberapa detik tidak ada yang berbicara.

Aku hanya berdiri diam.

Di kepalaku mulai muncul banyak pertanyaan.

Selama ini aku pikir bisnis Ayah sedang berkembang.

Lihat selengkapnya