RUMAH KEDUA

Marlon Anaka
Chapter #9

WAJAH DI DALAM BERKAS

Seminggu berlalu sejak kami membuat laporan.

Selama seminggu itu, rumah kami terasa berbeda.

Tidak ada yang benar-benar membicarakan Peter.

Bukan karena kami sudah melupakannya.

Justru karena nama itu terlalu sering berputar di kepala masing-masing.

Ayah beberapa kali menerima telepon.

Kadang dari nomor yang tidak kukenal.

Kadang dari pihak bank.

Kadang dari polisi.

Setiap kali telepon masuk, wajah Ayah selalu berubah.

Aku tidak pernah bertanya terlalu banyak.

Aku tahu Ayah sedang menunggu sesuatu.

Sebuah kabar.

Entah kabar baik atau buruk.

Sampai suatu sore...

Ponsel ayah berbunyi….

Ayah sedang duduk di ruang keluarga ketika ponselnya berbunyi.

Ia mengangkatnya.

"Halo?"

Aku yang sedang berada di ruangan sebelah tidak begitu memperhatikan.

Sampai beberapa detik kemudian Ayah berkata,

"Iya, Pak."

Kemudian diam.

"Iya. Saya bisa."

Diam lagi.

"Besok?"

Ayah berdiri.

"Iya, kami datang."

Telepon ditutup.

Aku keluar dari kamar.

"Ada apa, Yah?"

Ayah menatapku.

"Polisi minta kita datang besok."

"Kenapa?"

Ayah tidak langsung menjawab.

"Mereka bilang ada perkembangan."

Aku hanya mengangguk.

Entah kenapa satu kalimat itu justru membuat perasaanku tidak enak.

Keesokan harinya kami datang ke kantor polisi.

Aku ikut bersama Ayah dan Ibu.

Beny juga ikut.

Tidak ada satu pun dari kami yang tahu apa yang akan kami dengar.

Kami hanya tahu satu hal.

Polisi mengatakan ada perkembangan.

Kami kemudian diarahkan menuju sebuah ruangan.

Seorang petugas sudah menunggu.

Di atas meja terdapat beberapa berkas.

Tumpukannya tidak terlalu banyak.

Tetapi entah kenapa melihat berkas-berkas itu membuat dadaku terasa sesak.

Petugas mempersilakan kami duduk.

"Terima kasih sudah datang."

Ayah mengangguk.

"Bagaimana perkembangan kasus kami, Pak?"

Polisi itu tidak langsung menjawab.

Ia membuka sebuah map.

Kemudian berkata,

"Kami menemukan sesuatu yang menurut kami penting."

Ayah langsung memperhatikan.

Ibu juga.

Aku menahan napas.

Petugas mengambil beberapa lembar dokumen.

"Kami menemukan laporan kasus yang sangat mirip."

Ayah mengernyitkan dahi.

"Kasus?"

"Iya."

"Modusnya hampir sama dengan kasus Bapak."

Ruangan mendadak terasa lebih sunyi.

Polisi itu melanjutkan.

"Kasus tersebut dilaporkan sekitar lima bulan yang lalu."

Aku melihat Ayah.

Wajahnya berubah.

"Pelakunya sama?"

Polisi itu tidak langsung menjawab.

Ia mengambil sebuah foto dari dalam map.

Kemudian meletakkannya di atas meja.

"Ini korban sebelumnya."

Kemudian satu foto lagi.

"Dan ini orang yang diduga melakukan penipuan,yang mengaku bernama

John Bellani dari Prancis…”

Foto itu digeser ke arah kami.

Aku melihatnya.

Awalnya hanya sekilas.

Tetapi beberapa detik kemudian...

aku tidak bisa berkata apa-apa.

Wajah itu.

Aku mengenalnya.

Wajah yang beberapa waktu lalu datang ke rumah kami.

Wajah yang duduk bersama Ayah.

Wajah yang berbicara tentang investasi.

Wajah yang membuat Ayah percaya.

Wajah yang menerima uang lima ratus juta rupiah.

Peter.

Lihat selengkapnya