RUMAH KEDUA

Marlon Anaka
Chapter #10

HARGA SEBUAH KEPERCAYAAN

Setelah kasus Peter dilaporkan kepada polisi, kehidupan kami tidak serta-merta

menjadi lebih baik.

Peter memang sudah menjadi buronan.

Kasusnya sedang ditangani.

Bukti-bukti sudah diserahkan.

Tetapi ada satu hal yang tidak ikut berhenti hanya karena Peter menghilang.

Cicilan bank.

Uang lima ratus juta rupiah itu sudah berpindah tangan.

Bank tidak peduli siapa yang membawa uang tersebut.

Bank juga tidak peduli apakah bisnis yang direncanakan Ayah berhasil atau tidak.

Pinjaman tetap pinjaman.

Setiap bulan harus dibayar.

Dan jumlahnya...

tidak sedikit.

Sangat tidak sedikit.

Awalnya Ayah masih memiliki harapan.

Ia berpikir usaha bersama Peter akan berjalan.

Keuntungan dari kerja sama itu nantinya bisa digunakan untuk membayar cicilan.

Bahkan mungkin seluruh pinjaman bisa dilunasi lebih cepat.

Tetapi semua harapan itu hilang bersamaan dengan menghilangnya Peter.

Yang tersisa hanya kewajiban.

Setiap bulan.

Tanpa mengenal alasan.

Tanpa mengenal keadaan.

Tanpa menunggu sampai Ayah siap.

Sejak saat itu, aku mulai melihat perubahan di rumah kami.

Perubahan yang awalnya sangat kecil.

Hampir tidak terasa.

Tetapi perlahan...

semuanya menjadi berbeda.

Ayah mulai menghitung pengeluaran.

Bukan lagi sekadar menghitung keuntungan.

Bukan lagi memikirkan rencana bisnis.

Tetapi menghitung apa saja yang bisa dikurangi.

Apa saja yang bisa dihentikan.

Apa saja yang sebenarnya tidak terlalu dibutuhkan.

Dan akhirnya...

satu per satu kenyamanan yang selama ini kami anggap biasa mulai menghilang.

Hal pertama yang harus dikurangi adalah tenaga kerja di rumah.

Selama ini kami memiliki seorang pembantu.

Ia sudah lama bekerja di rumah kami.

Hampir setiap hari ia mengurus berbagai pekerjaan yang bahkan tidak pernah kami

pikirkan.

Membersihkan rumah.

Mencuci.

Merapikan halaman.

Menyiapkan berbagai kebutuhan rumah.

Semua pekerjaan yang selama ini membuat rumah kami tetap berjalan tanpa harus

terlalu kami pikirkan.

Tetapi keadaan sudah berubah.

Ayah tidak lagi bisa mempertahankan semuanya.

Kemudian sopir juga diberhentikan.

Mobil beserta sopir yang biasanya selalu siap mengantar Ayah ke kantor…

Sekarang Ayah mulai mengendarainya sendiri.

Perubahan itu terlihat sederhana.

Tetapi bagiku...

itu seperti tanda pertama bahwa kehidupan kami sedang turun perlahan.

Dulu aku tinggal duduk.

Sekarang semuanya harus dipikirkan.

Dulu rumah terasa seperti tempat yang selalu siap melayani siapa saja yang tinggal di

dalamnya.

Sekarang rumah mulai menuntut kami untuk ikut menjaganya.

Pengeluaran juga mulai diperiksa satu per satu.

Listrik.

Air.

Lihat selengkapnya