Sejak gaji Ayah dipotong, keadaan rumah kami semakin berubah.
Tidak ada yang langsung terasa.
Tidak ada hari ketika kami bangun lalu tiba-tiba menjadi keluarga yang kekurangan.
Semuanya berjalan perlahan.
Terlalu perlahan, sampai kadang aku sendiri tidak sadar bahwa kehidupan kami
sebenarnya sedang berubah.
Sampai suatu hari...
Ayah menjual mobil Ibu.
Mobil itu bukan sekadar kendaraan.
Itu mobil yang selama ini dipakai Ibu untuk pergi ke berbagai urusan. Bertemu teman-
temannya. Mengantar kebutuhan rumah. Pergi ke pusat perbelanjaan. Menghadiri
kegiatan bersama ibu-ibu kompleks.
Aku masih ingat ketika mobil itu terakhir kali keluar dari halaman.
Aku berdiri di depan rumah.
Melihat Ayah menyerahkan kuncinya kepada orang yang datang mengambil mobil
tersebut.
Tidak ada percakapan panjang.
Tidak ada perpisahan.
Hanya sebuah benda yang berpindah tangan.
Tetapi entah kenapa...
ketika mobil itu meninggalkan halaman, aku merasa seperti ada bagian lain dari
kehidupan kami yang ikut pergi.
Ibu hanya berdiri di teras.
Diam.
Aku tidak tahu apa yang ada di pikirannya.
Mungkin sedih.
Mungkin kecewa.
Mungkin juga sedang mencoba menerima kenyataan.
Aku juga tidak bertanya.
Kami sudah terlalu sering melihat keadaan berubah.
Rasanya bertanya pun tidak akan mengubah apa-apa.
Beberapa hari kemudian...
motor Beny juga dijual.
Motor yang selama ini dipakainya untuk sekolah dan berbagai kegiatan.
Sekarang tinggal kenangan.
Dan sejak hari itu, aku mendapat tugas baru.
Mengantar Beny.
Menjemput Beny.
Aku tetap harus kuliah.
Beny tetap harus sekolah.
Tetapi sekarang perjalanan kami harus menyesuaikan dengan kendaraan yang tersisa.
Kalau jadwal kuliahku memungkinkan, aku yang mengantarnya.
Kalau tidak, kami mencari cara lain.
Kadang Beny harus menunggu.
Kadang aku harus menunggu.
Kadang kami pulang bersama dalam keadaan sama-sama lelah.
Tidak ada yang banyak mengeluh.
Mungkin karena kami tahu...
mengeluh tidak akan mengembalikan motor yang sudah dijual.
Ibu juga mulai mengubah banyak hal.
Untuk beberapa urusan, ia memilih ikut bersama teman-temannya.
Kalau ada kegiatan di luar, ia nebeng.
Kalau ada keperluan yang bisa ditunda, ia tunda.
Hal-hal yang dahulu mudah dilakukan sekarang harus dipikirkan lebih dulu.