RUMAH KEDUA

Marlon Anaka
Chapter #12

SURAT YANG MULAI BIASA

Aku mulai mengenal bentuk surat-surat itu.

Amplop putih.

Kertas resmi.

Tulisan yang rapi.

Dan biasanya ada logo bank di bagian atasnya.

Dulu, setiap kali surat seperti itu datang, Ayah selalu membukanya dengan wajah

tegang.

Sekarang tidak lagi.

Surat itu hanya diletakkan di atas meja.

Bersama surat-surat lainnya.

Seolah-olah sudah menjadi bagian dari perabot rumah.

Padahal isinya selalu sama.

Tentang kewajiban.

Tentang keterlambatan.

Tentang denda.

Tentang bunga.

Tentang sesuatu yang semakin hari semakin sulit kami bayar.

Ayah memang masih berusaha membayar cicilan.

Tetapi sejak gajinya berkurang, semuanya menjadi jauh lebih sulit.

Ada bulan ketika pembayaran bisa dilakukan tepat waktu.

Ada juga bulan ketika Ayah harus menunggu beberapa hari.

Kemudian beberapa minggu.

Sampai akhirnya pernah terlambat satu bulan penuh.

Saat itulah surat peringatan pertama datang.

Aku masih ingat pagi ketika surat itu berada di atas meja kerja Ayah.

Ayah membukanya pelan.

Membacanya.

Lalu menaruhnya kembali.

Tidak marah.

Tidak membanting meja.

Tidak mengeluh.

Hanya diam.

Aku yang melihat dari pintu kamar kemudian bertanya,

"Surat dari bank, Yah?"

Ayah mengangguk.

"Surat peringatan."

Aku tidak bertanya lagi.

Saat itu aku belum mengerti betapa berbahayanya dua kata tersebut.

Bulan berikutnya kami kembali kesulitan.

Cicilan kembali terlambat.

Kali ini lebih lama.

Bukan karena Ayah tidak mau membayar.

Memang uangnya tidak cukup.

Sebagian penghasilan digunakan untuk kebutuhan rumah.

Sebagian lagi untuk biaya sekolah Beny.

Sebagian untuk kuliahku.

Dan sisanya harus dibagi lagi untuk kebutuhan lain.

Sementara bank tetap menunggu bagian mereka.

Tidak peduli keluarga kami sedang baik-baik saja atau tidak.

Akhirnya surat kedua datang.

Lebih tebal.

Lebih panjang.

Lebih membuat kepala pusing.

Ayah membacanya sampai selesai.

Kemudian menyandarkan tubuhnya ke kursi.

Aku berdiri di depannya.

"Tambah lagi, Yah?"

Ayah mengangguk.

"Tambah."

"Karena telat?"

"Iya."

Aku melihat lembaran itu.

"Berarti bunganya ikut naik?"

Ayah menarik napas.

"Bukan cuma bunga."

Ia menunjuk beberapa bagian di surat tersebut.

"Denda juga."

Aku diam.

Ayah kemudian menghitung sesuatu menggunakan kalkulator di ponselnya.

Beberapa angka muncul.

Kemudian hilang.

Ia menghitung lagi.

Aku masih berdiri di sana.

"Terus kalau dibayar sekarang?"

Ayah tidak langsung menjawab.

Lihat selengkapnya