Malam itu kami bertiga berada di kamar tamu.
Aku, Ayah, dan Ibu.
Beny tidak bersama kami. Ia sedang berada di kamarnya sendiri, mengerjakan
pekerjaan rumah yang entah sejak kapan semakin banyak.
Televisi di ruang tengah terdengar pelan.
Lampu kamar tamu menyala redup.
Tidak ada yang benar-benar banyak bicara.
Aku hanya duduk di kursi sambil memainkan ponsel.
Ibu duduk di ujung sofa.
Sedangkan Ayah sejak tadi terlihat seperti sedang memikirkan sesuatu.
Beberapa kali ia menarik napas.
Beberapa kali pula ia hendak membuka percakapan, tetapi kembali diam.
Sampai akhirnya Ayah berkata,
"Bagus."
Aku menoleh.
"Iya, Yah?"
"Ayah mau ngomong sesuatu."
Aku langsung meletakkan ponsel.
Ibu juga menoleh kepada Ayah.
Wajah Ayah malam itu tidak seperti biasanya.
Serius.
Berat.
Seperti ada sesuatu yang sejak tadi ia tahan.
"Terus terang..." Ayah berhenti sebentar.
"Gaji Ayah sekarang tidak akan sanggup untuk terus membayar cicilan bank."
Aku diam.
Ibu juga tidak langsung menjawab.
Kami semua sebenarnya sudah tahu keadaan itu.
Tetapi mendengarnya langsung dari Ayah tetap terasa berbeda.
"Ayah sudah coba hitung beberapa kali," lanjutnya.
"Kalau keadaan seperti ini terus, Ayah akan kesulitan membayar cicilan setiap bulan."
Ibu mengernyitkan dahi.
"Lalu Mas mau bagaimana?"
Ayah menatap lantai.
"Ayah kepikiran satu cara."
Aku mulai merasa tidak enak.
"Cara apa, Yah?"
Ayah mengangkat wajahnya.
"Ayah mau pinjam uang ke pendana."
Aku langsung terdiam.
Ibu juga terlihat kaget.
"Pendana?"
Ayah mengangguk.
"Ya."
Ibu masih menatap Ayah.
"Maksud Mas... rentenir?"
Ayah tidak langsung menjawab.
Beberapa detik kemudian ia mengangguk pelan.