RUMAH KEDUA

Marlon Anaka
Chapter #14

LINGKARAN

Akhirnya Ayah mengambil pinjaman dari pendana itu.

Aku tidak tahu secara pasti bagaimana prosesnya.

Yang aku tahu, beberapa waktu kemudian masalah dengan bank selesai.

Setidaknya untuk sementara.

Utang di bank dilunasi.

Surat-surat yang selama beberapa bulan terakhir memenuhi meja Ayah tidak lagi

datang.

Rumah kami masih aman.

Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, aku melihat Ayah sedikit lebih tenang.

Uang yang dipinjam Ayah dari pendana memang lebih besar daripada jumlah utang

kami di bank.

Bukan tanpa alasan.

Ada denda keterlambatan.

Ada biaya administrasi.

Ada berbagai biaya lain yang harus dibayarkan.

Sebagian uang yang tersisa juga disimpan Ayah sebagai cadangan.

Mungkin Ayah berpikir, dengan adanya uang simpanan itu, setidaknya kami

mempunyai pegangan untuk menghadapi beberapa bulan berikutnya.

Saat itu aku juga berpikir begitu.

Kupikir...

akhirnya masalah kami selesai.

Ternyata aku salah.

Bulan pertama berjalan seperti biasa.

Aku kuliah.

Beny sekolah.

Ayah pergi bekerja.

Ibu kembali sibuk dengan kegiatan dan bisnis kecilnya bersama ibu-ibu kompleks.

Rumah kami kembali terlihat normal.

Tidak ada surat peringatan dari bank.

Tidak ada kecemasan setiap kali tanggal pembayaran mendekat.

Tidak ada lagi pembicaraan panjang mengenai bagaimana membayar cicilan.

Aku mulai merasa bahwa keputusan Ayah mungkin memang benar.

Mungkin memang seperti itu cara orang dewasa menyelesaikan masalah.

Ketika satu jalan buntu, mereka mencari jalan lain.

Aku tidak tahu bahwa sebenarnya...

jalan yang baru itu sedang membawa kami menuju jurang yang lebih dalam.

Bulan kedua juga berlalu.

Masih sama.

Tidak ada kejadian besar.

Aku menjalani kuliah seperti biasa.

Beny berangkat sekolah.

Ayah bekerja.

Ibu menjalani kesibukannya.

Kami makan malam.

Tidur.

Bangun.

Menjalani hari lagi.

Semuanya terlihat normal.

Terlalu normal.

Sampai suatu hari aku melihat sesuatu yang seharusnya tidak kulihat.

Saat itu aku masuk ke ruang kerja Ayah untuk mencari sesuatu.

Aku tidak sedang mencari urusan keluarga.

Tidak juga sedang ingin tahu masalah keuangan.

Aku hanya kebetulan melihat sebuah kertas yang tertinggal di atas meja.

Catatan pembayaran.

Aku membacanya sekilas.

Lalu berhenti.

Ada nama pendana itu.

Ada jumlah uang.

Ada tanggal.

Dan ada pembayaran cicilan.

Aku membaca sekali lagi.

Kemudian aku mulai memahami sesuatu yang sebelumnya tidak pernah terpikirkan

olehku.

Uang yang tersisa dari pinjaman pendana...

ternyata sebagian digunakan Ayah untuk membayar cicilan kepada pendana itu

sendiri.

Aku terdiam.

Rasanya seperti melihat sebuah pintu yang tiba-tiba terbuka menuju sesuatu yang

selama ini disembunyikan dari kami.

Jadi selama ini...

sebagian uang pinjaman digunakan untuk membayar utang yang baru saja dibuat?

Aku tidak mengerti semuanya.

Lihat selengkapnya