RUMAH KEDUA

Marlon Anaka
Chapter #15

RUMAH YANG MULAI TERASA ASING

Sejak mobil terakhir dibawa pergi, rumah kami terasa berbeda.

Bukan karena rumahnya berubah.

Dindingnya masih sama.

Ruang tamunya masih luas.

Kamar-kamarnya masih berada di tempat yang sama.

Tetapi ada sesuatu yang hilang.

Mungkin suara mesin mobil yang biasanya terdengar dari halaman.

Mungkin suara pintu garasi yang dibuka setiap sore.

Atau mungkin...

rasa aman yang selama ini tanpa sadar kami miliki.

Sekarang setiap kali aku pulang, halaman rumah terlihat kosong.

Garasi juga kosong.

Aku sering berhenti beberapa detik sebelum masuk ke rumah.

Entah kenapa aku masih sering melihat ke tempat mobil dulu berada.

Seperti berharap kendaraan itu kembali.

Padahal aku tahu...

mobil itu sudah tidak akan kembali.

Setelah itu, barang-barang di rumah mulai berkurang.

Tidak banyak.

Satu atau dua benda setiap beberapa waktu.

Barang yang dulu kami anggap biasa saja mulai memiliki harga.

Barang yang tidak terlalu penting dijual.

Barang yang masih bisa dipakai tetap disimpan.

Aku mulai melihat Ibu memilah barang-barang di rumah.

Beberapa dimasukkan ke dalam kardus.

Beberapa diletakkan di meja.

Kemudian dibawa keluar.

Aku tidak selalu bertanya.

Karena aku tahu jawabannya.

Kami membutuhkan uang.

Dan sekarang...

hampir semua benda memiliki kemungkinan untuk menjadi uang.

Ibu juga mulai mengalami perubahan.

Bisnis kecil yang selama ini ia jalankan bersama ibu-ibu kompleks tidak lagi seperti

dulu.

Modal semakin terbatas.

Pengeluaran semakin banyak.

Kadang Ibu pulang membawa barang dagangan yang belum habis.

Kemudian duduk di meja makan dan menghitung uang hasil penjualan.

Aku pernah melihatnya.

Tidak banyak.

Beberapa lembar uang.

Beberapa koin.

Ibu menghitungnya berkali-kali.

Seolah-olah dengan menghitung ulang, jumlahnya akan bertambah.

Tapi tentu saja tidak.

Aku hanya berdiri dari jauh.

Tidak mengatakan apa-apa.

Ada kalanya seseorang tidak membutuhkan pertanyaan.

Ia hanya membutuhkan waktu untuk menerima kenyataan.

Ayah juga berubah.

Semakin sering diam.

Kalau pulang kerja, ia tidak lagi banyak berbicara.

Kadang langsung masuk kamar.

Kadang duduk sendirian di teras.

Kadang berada di ruang kerjanya cukup lama.

Lihat selengkapnya