Setelah mobil terakhir pergi, hanya satu motor yang tersisa di rumah kami.
Motor itu sekarang menjadi kendaraan untuk hampir semuanya.
Ayah memakainya untuk bekerja.
Aku dan Beny harus mencari cara sendiri untuk pergi dan
pulang dari kampus serta sekolah.
Dulu, aku tidak pernah membayangkan harus memikirkan kendaraan
hanya untuk berangkat kuliah.
Sopir sudah tidak ada.
Mobil sudah tidak ada.
Motor Beny juga sudah dijual.
Jadi kalau aku dan Beny ingin pergi bersama, kami harus menyesuaikan jadwal.
Dan angkot menjadi pilihan…
Aku mulai terbiasa berdiri di pinggir jalan sambil menunggu angkot.
Beny juga.
Tidak ada yang mengeluh.
Mungkin karena kami berdua sudah mulai memahami keadaan.
Kami sedang tidak berada di masa yang memungkinkan untuk banyak meminta.
Yang penting bisa berangkat.
Yang penting bisa pulang.
Kuliah tetap jalan.
Sekolah tetap jalan.
Hidup harus tetap berjalan.
Aku pikir...
mungkin setelah semua yang terjadi, keadaan kami tidak akan semakin buruk.
Ternyata aku salah lagi.
Hari itu seperti hari-hari biasa.
Aku berangkat kuliah.
Beny pergi sekolah.
Ibu menjalani kesibukannya.
Sedangkan Ayah pergi bekerja.
Tidak ada tanda-tanda apa pun.
Tidak ada firasat.
Tidak ada percakapan aneh pagi itu.
Tidak ada yang menyangka bahwa sore harinya kehidupan
kami akan kembali berubah.
Di kantor, Ayah tiba-tiba dipanggil menghadap atasannya.
Ayah bukan pegawai biasa.
Posisinya cukup penting di perusahaan.
Selama bertahun-tahun ia bekerja di sana.
Dari bawah.
Pelan-pelan.
Sampai akhirnya dipercaya menjadi salah satu orang yang
menangani urusan ekspor dan impor perusahaan.
Mejanya sudah seperti bagian dari hidupnya.
Ada dokumen yang ia kerjakan bertahun-tahun.
Ada catatan.
Ada benda-benda kecil yang mungkin tidak berarti bagi orang lain.
Tetapi bagi Ayah...
semuanya punya cerita.
Hari itu ia masuk ke ruangan atasannya tanpa tahu apa yang akan dibicarakan.
Bos perusahaan sudah menunggunya.
Wajahnya terlihat serius.
Ayah duduk.
Atasannya menarik napas panjang.
Kemudian berkata,
"Saudara Lukman..."
Ayah menatapnya.
Bos itu kembali menghela napas.
"Dengan berat hati, saya ingin menyampaikan bahwa Bapak terkena PHK."
…
Ayah diam.
…
Seolah-olah kalimat itu tidak langsung masuk ke kepalanya.
Atasannya melanjutkan.
"Untuk itu, silakan Bapak mengemas barang-barang Bapak di meja kantor."
Ia kembali berhenti.
"Saya pribadi meminta maaf. Kami benar-benar dalam kondisi sulit.
Keuangan perusahaan sedang tidak baik-baik saja dan kami terpaksa
memangkas sebagian karyawan."
Ayah masih diam.
Tidak membantah.
Tidak bertanya.
Tidak marah.
Hanya menatap meja di depannya.
Matanya mulai berkaca-kaca.
Mungkin ada banyak hal yang ingin dikatakan.
Tentang pengabdiannya.
Tentang tahun-tahun yang sudah ia habiskan.
Tentang pekerjaannya.
Tentang keluarga yang bergantung kepadanya.
Tetapi tidak satu pun keluar.
Akhirnya Ayah hanya mengangguk.
Pelan.
Kemudian berdiri.
…
Aku tidak tahu apa yang terjadi di ruangan itu.
Aku hanya tahu bagaimana Ayah pulang sore itu.
Ia datang dengan motor.
Sendirian.
Tidak ada suara mobil memasuki halaman.