RUMAH KEDUA

Marlon Anaka
Chapter #17

TIGA BULAN

Aku kira berita tentang PHK adalah kabar terburuk yang akan kami terima.

Ternyata aku salah.

Sore itu, aku, Ayah, Ibu, dan Beny sedang duduk di halaman depan.

Tidak ada yang banyak bicara.

Sejak Ayah kehilangan pekerjaannya, rumah kami memang

lebih sering dipenuhi diam.

Ayah duduk di kursi kayu sambil memandangi halaman.

Ibu duduk di sebelahnya.

Beny sibuk dengan ponselnya.

Aku hanya duduk sambil menatap jalan di depan rumah.

Semuanya terlihat biasa.

Sampai dua mobil berhenti tepat di depan rumah kami.

Aku langsung menoleh.

Pintu mobil terbuka.

Beberapa orang turun.

Cara mereka berjalan membuat suasana sore itu mendadak berubah.

Tidak ada senyum.

Tidak ada sapaan.

Tidak ada basa-basi.

Wajah mereka keras.

Tatapan mereka bengis

Aku langsung tahu.

Mereka bukan datang untuk bertamu.

Ayah juga menyadarinya.

Ia berdiri dari kursinya.

Pelan-pelan menghampiri mereka.

Salah seorang lelaki berjalan paling depan.

Pak Anton.

Pendana yang selama ini menjadi sumber masalah baru keluarga kami.

Di belakangnya ada beberapa orang.

Entah siapa.

Yang jelas, mereka tidak datang sendirian.

(Mungkin karena datang sendirian membuat mereka tidak cukup berani.)

Pak Anton berhenti beberapa langkah dari Ayah.

Ayah masih berusaha bersikap tenang.

"Eh, Pak Anton."

Ayah menarik napas.

"Silakan masuk dulu, Pak. Kita bicara di dalam."

Pak Anton malah tetap berdiri.

"Tidak usah banyak basa-basi."

Tangannya menunjuk ke arah wajah Ayah.

"Kamu bisa lunasi semuanya hari ini?"

Ayah terdiam.

Ibu langsung berdiri.

Aku dan Beny ikut memperhatikan.

Ayah menjawab dengan suara pelan.

"Maaf, Pak Anton."

Ayah menundukkan kepalanya sedikit.

"Saya baru terkena PHK. Berikan saya waktu untuk mengumpulkan uangnya."

Pak Anton tertawa pendek.

Bukan tawa karena lucu.

Tapi tawa yang meledek

"Saya tidak peduli kamu kena PHK atau apa."

Ia maju selangkah.

"Urusan saya cuma satu. Uang saya kembali."

Ayah menarik napas panjang.

"Saya mengerti, Pak."

"Saya akan bayar."

"Kapan?"

Ayah terdiam.

"Saya belum bisa memastikan, Pak."

Nada suara Anton langsung meninggi.

"Belum bisa memastikan?"

Ia menunjuk rumah kami.

"Kamu pikir saya bisa menunggu sampai kamu merasa siap?"

Ayah tetap diam.

"Saya kasih kamu uang bukan buat kamu pakai terus bilang nggak punya."

"Saya tidak bermaksud seperti itu, Pak."

"Terus apa?"

Anton membentak.

"Kamu pikir saya ini badan amal?"

Lihat selengkapnya