Tiga bulan.
Sejak hari itu, angka tersebut seperti terus berputar di kepala Ayah.
Tiga bulan untuk melunasi utang.
Tiga bulan untuk mempertahankan rumah.
Tiga bulan sebelum orang-orang itu kembali datang dan meminta kami pergi.
Tetapi Ayah bukan orang yang mudah menyerah.
Setidaknya, tidak sebelum mencoba semua jalan yang masih tersisa.
Setelah mengetahui bahwa tenggat waktu yang diberikan Pak Anton semakin dekat,
Ayah mulai mencari jalan lain.
Ia mendatangi berbagai tempat.
Bertanya kepada orang-orang yang dianggap mengerti hukum.
Membawa semua dokumen yang selama ini disimpan di dalam map.
Bukti transfer.
Surat perjanjian.
Catatan pembayaran.
Surat peringatan.
Semua dibawa.
Semua diperiksa.
Sampai akhirnya Ayah mengetahui bahwa persoalan utang-piutang seperti yang kami
alami berada dalam ranah perdata. Persoalan mengenai kewajiban membayar dan
dugaan cidera janji dapat diperjuangkan melalui gugatan
wanprestasi di Pengadilan Negeri.
Itulah jalan terakhir yang dimiliki Ayah.
Bukan karena ia yakin pasti menang.
Tetapi karena ia tidak tahu harus melakukan apa lagi.
Rumah adalah satu-satunya benda yang masih ingin dipertahankan.
Bukan karena rumah itu mahal.
Bukan karena luasnya.
Tetapi karena di dalam rumah itu ada seluruh kehidupan kami.
Tempat aku tumbuh.
Tempat Beny belajar berjalan.
Tempat Ibu memasak.
Tempat Ayah pulang setelah bekerja.
Tempat kami pernah menjadi keluarga yang tidak pernah benar-benar menyadari
betapa berharganya kebersamaan itu.
Dan sekarang...
semuanya dipertaruhkan.
Prosesnya tidak mudah.
Ayah harus mengurus berbagai dokumen.
Harus menghadiri persidangan.
Harus memahami istilah-istilah hukum yang sebelumnya
bahkan tidak pernah ia dengar.
Harus menjelaskan kronologi kejadian berkali-kali.
Harus membawa bukti.
Harus menunggu.
Dan yang paling berat...
Ayah tidak memiliki uang untuk menyewa pengacara terkenal.
Sementara pihak lawan memiliki kemampuan yang jauh lebih besar.
Ayah akhirnya mendapatkan pendampingan dari bantuan hukum yang tersedia untuk
masyarakat yang membutuhkan.
Pengacara yang mendampingi Ayah bukan berarti tidak mampu.
Tetapi keadaan mereka berbeda.
Di satu sisi ada keluarga kami.