Ayah sudah tahu.
Rumah itu tidak bisa dipertahankan lagi.
Sebelum tenggat waktu benar-benar habis, Ayah sudah melakukan satu hal yang
mungkin paling berat dalam hidupnya.
Ia mulai memindahkan barang-barang yang dianggap penting.
Bukan karena ingin meninggalkan rumah.
Tetapi karena ia tahu...
suatu hari nanti kami mungkin benar-benar harus pergi.
Dokumen-dokumen penting dikumpulkan lebih dulu.
Akta nikah.
Akta kelahiran.
Ijazah.
Surat-surat keluarga.
Dokumen pekerjaan.
Dan berbagai dokumen lain yang tidak boleh sampai hilang.
Semuanya dimasukkan ke dalam satu tempat yang aman.
Setelah itu baru pakaian.
Celana.
Sepatu.
Sandal.
Beberapa barang kebutuhan sehari-hari.
Sembako yang masih bisa diselamatkan.
Beberapa barang kecil yang masih mungkin berguna.
Ayah bahkan menyewa sebuah mobil pikap untuk mengangkut semuanya.
Barang-barang itu tidak langsung dibawa jauh.
Ayah menitipkannya terlebih dahulu di rumah salah satu warga.
Mungkin Ayah sudah tahu...
kalau hari itu datang, setidaknya kami masih punya sesuatu untuk dibawa.
Sesuatu untuk memulai hidup dari tempat lain.
Aku melihat semua itu.
Tetapi tetap saja...
aku tidak benar-benar percaya bahwa kami akan meninggalkan rumah.
Sampai hari itu datang.
Pukul sembilan pagi.
Hari yang selama ini kami takuti akhirnya tiba.
Beberapa kendaraan berhenti di depan rumah.
Rombongan dari pengadilan datang.
Ada petugas keamanan.
Ada Babinsa.
Ada RT dan RW setempat.
Dan tentu saja...
Pak Anton datang.
Ia tidak datang sendirian.
Anak buahnya ikut memenuhi halaman.
Jumlahnya banyak.
Aku bahkan tidak tahu berapa.
Yang jelas, pagi itu rumah kami tiba-tiba dipenuhi orang.
Warga sekitar mulai berdatangan.
Sebagian hanya berdiri dari jauh.
Sebagian mencoba menenangkan Ibu dan Ayah.
Tidak ada yang benar-benar tahu harus berbuat apa.
Mereka hanya bisa melihat.
Dan mungkin...
ikut merasa sedih.
Awalnya semuanya berjalan cukup tenang.
Tim dari pengadilan mulai menjalankan prosesnya.
Kami hanya berdiri.
Menerima kenyataan yang sebenarnya sudah kami tahu akan datang.
Aku melihat Ayah.
Ia tidak banyak bergerak.
Wajahnya terlihat kosong.
Mungkin di kepalanya sedang berputar ribuan kenangan.
Rumah ini.
Keluarga ini.
Tahun-tahun yang ia habiskan untuk membangunnya.
Semuanya sebentar lagi selesai.
Aku pikir prosesnya akan berlangsung seperti itu.
Tenang.
Pelan.
Sampai akhirnya kami benar-benar pergi.
Ternyata aku salah.
Entah siapa yang mulai memberi perintah.
Tiba-tiba anak buah Pak Anton bergerak masuk ke dalam rumah.
Jumlah mereka banyak.
Mereka masuk hampir bersamaan.
Suasana yang sebelumnya masih terkendali mendadak berubah.
Pintu-pintu dibuka.
Lemari dibongkar.
Barang-barang yang masih tersisa dikeluarkan.
Hiasan dinding dicabut.
Beberapa barang dipindahkan dengan kasar.
Suara orang berteriak bercampur dengan suara benda-benda yang jatuh.
Rumah yang selama ini tenang...
mendadak seperti kehilangan kendali.
Aku melihat Ayah berusaha menghampiri mereka.
Dengan suara keras, Ayah berteriak,
"KENAPASEPERTI INI…?’
Tetapi suara Ayah tenggelam.
Tenggelam oleh keributan.
Tenggelam oleh suara banyak orang.
Aku melihat wajah Ayah.