Setelah rumah itu kami tinggalkan, hal pertama yang dilakukan Ayah
bukan mencari rumah baru.
Ia menghitung.
Bukan menghitung berapa harga rumah.
Bukan menghitung berapa uang yang masih kami punya.
Tetapi menghitung barang-barang apa saja yang masih berhasil kami selamatkan.
Barang-barang itu kami kumpulkan di rumah warga yang sebelumnya
bersedia membantu kami menyimpannya.
Satu per satu dikeluarkan.
Pakaian.
Sepatu.
Sandal.
Beberapa peralatan rumah tangga.
Sembako.
Dokumen-dokumen penting.
Dan beberapa barang kecil yang dulu mungkin tidak pernah kami anggap berharga.
Sekarang semuanya terasa berbeda.
Satu barang saja bisa berarti.
Aku melihat laptopku.
Masih ada.
HP-ku juga masih ada.
HP Beny masih ada.
HP Ibu masih ada.
HP Ayah juga masih ada.
Motor juga masih terselamatkan.
Setidaknya...
kami masih memiliki beberapa benda yang bisa membantu kami bertahan.
Tetapi Ayah kemudian mulai menghitung kebutuhan kami.
Uang untuk tempat tinggal.
Uang makan.
Uang sekolah Beny.
Uang kuliahku.
Transportasi.
Dan berbagai kebutuhan lain yang sebelumnya terasa biasa saja.
Sekarang semuanya terasa seperti beban besar.
Akhirnya aku mengambil keputusan.
Laptopku kujual.
HP-ku juga.
Beny melakukan hal yang sama.
Beberapa barang yang masih memiliki nilai jual kami lepaskan satu per satu.
Tidak ada yang menangis ketika menjualnya.
Mungkin karena kami tahu...
barang-barang itu memang harus dikorbankan.
Yang tersisa akhirnya hanya HP milik Ayah dan Ibu.
Dua HP untuk dipakai berempat.
Aneh.
Dulu kami masing-masing punya barang sendiri.
Sekarang satu benda harus dipakai bergantian.
Tetapi tidak ada yang protes.
Karena saat keadaan berubah...
hal-hal yang dulu dianggap penting tiba-tiba menjadi tidak penting lagi.
Pemilik rumah tempat kami menitipkan barang sempat menawarkan
agar kami tinggal sementara di sana.
Kami tentu berterima kasih.
Tetapi Ayah menolak dengan halus.
Bukan karena tidak mau menerima bantuan.
Ayah hanya merasa tidak enak terlalu lama merepotkan orang.
Ia memilih mencari kos sederhana di pinggiran kota.
Katanya lebih hemat.
Kami akhirnya menemukan sebuah kamar kos.
Bukan tempat yang bagus.
Bukan tempat yang nyaman.
Tidak ada halaman luas.
Tidak ada ruang tamu.
Tidak ada garasi.
Tidak ada ruang makan besar seperti rumah kami dulu.
Hanya sebuah kamar.
Dengan dinding yang sederhana.
Lantai yang dingin.
Dan ruang yang bahkan tidak cukup luas untuk menampung kehidupan empat orang.
Mobil pick up mengantarkan barang-barang kami ke sana.
Aku mengikuti dari belakang dengan motor.
Ketika sampai...
kami semua hanya berdiri di depan kamar itu.
Ayah melihat sekeliling.
Kemudian melihat kepada kami.
Aku tidak tahu apa yang ada di pikirannya.
Mungkin ia membandingkan tempat itu dengan rumah kami.
Mungkin ia sedang menghitung lagi.
Atau mungkin...
ia hanya sedang mencoba menerima kenyataan.