RUMAH KEDUA

Marlon Anaka
Chapter #21

TEMAN YANG DATANG SAAT KITA JATUH

“Teman sejati adalah teman yang tetap ada ketika kita jatuh.

Sedangkan orang yang hanya datang ketika kita sedang berada di atas...

mungkin bukan teman. 

Mungkin hanya seseorang yang sedang menunggu sesuatu dari kita.”

…

Aku baru benar-benar memahami kalimat itu setelah keluarga kami kehilangan rumah.

Kehidupan di kos perlahan mulai menjadi kebiasaan.

Walaupun sebenarnya...

aku tidak pernah benar-benar terbiasa.

Kami tidur berhimpitan.

Dapur menyatu dengan kamar.

Kalau Ibu sedang memasak, aroma masakan memenuhi seluruh ruangan.

Kalau menggoreng cabai...

jangan ditanya.

Bau pedasnya bisa bertahan lama.

Kadang sampai berjam-jam.

Tapi kami tidak mengeluh.

Tidak ada pilihan lain.

Aku dan Beny masih berusaha menjalani kehidupan seperti biasa.

Aku kuliah.

Beny sekolah.

Untuk pergi ke kampus dan sekolah, kami cukup berjalan kaki menuju halte lalu

menunggu angkot.

Lumayan.

Sekalian olahraga.

Ibu lebih banyak berada di kos.

Mengurus makanan.

Membersihkan kamar.

Mengatur barang-barang yang kami punya.

Sedangkan Ayah mulai memikirkan masa depan.

Ia ingin mencari pekerjaan lagi.

Apa pun pekerjaannya.

Gajinya kecil tidak masalah.

Yang penting halal.

Yang penting bisa membawa pulang sesuatu untuk makan.

Tetapi sebelum mencari pekerjaan, Ayah ingin mencari

tempat tinggal yang sedikit lebih layak.

Bukan rumah besar.

Bukan rumah mewah.

Ia hanya ingin tempat yang memiliki sedikit ruang.

Supaya kami tidak harus tidur berhimpitan setiap malam.

Dan dari situlah Ayah mulai mengingat teman-temannya.

Teman-teman lama.

Orang-orang yang dulu sering makan bersama Ayah.

Orang-orang yang dulu sering meminta bantuan Ayah.

Orang-orang yang dulu datang ketika Ayah sedang memiliki jabatan.

Ayah mencoba menghubungi mereka.

Satu per satu.

Ia bahkan harus menghilangkan rasa gengsinya.

Padahal aku tahu...

Ayah bukan orang yang suka meminta.

Tetapi keadaan membuatnya terpaksa.

Ia hanya ingin meminjam rumah.

Sebentar.

Sampai keadaan kami membaik.

Tidak lebih.

Namun ternyata...

tidak semua orang masih mengingat Ayah.

Ada yang tidak mengangkat telepon.

Ada yang tiba-tiba tidak mengenali nomor Ayah.

Ada yang mengatakan rumahnya sedang dipakai.

Ada yang bilang sedang tidak ada di kota.

Ada juga yang setelah mendengar maksud Ayah...

teleponnya tiba-tiba mati.

Aku tidak tahu apakah mereka benar-benar tidak bisa membantu.

Atau memang tidak mau membantu.

Tetapi dari cara mereka menghilang...

jawabannya terasa cukup jelas.

Ayah akhirnya berhenti menelepon.

Bukan karena sudah mendapatkan tempat.

Tetapi karena mungkin...

ia sudah terlalu lelah untuk kembali ditolak.

Dulu ketika Ayah masih punya jabatan dan penghasilan yang baik,

orang-orang datang dengan sendirinya.

Sekarang ketika Ayah hanya ingin meminta tempat berteduh sementara...

sebagian besar seperti tidak mengenalnya.

Saat itulah aku melihat sesuatu yang sebelumnya tidak pernah kupahami.

…

“Ternyata ketika seseorang jatuh...

banyak tangan yang dulu menepuk pundaknya akan hilang.

Yang tersisa hanya beberapa..bahkan mungkin...

hanya satu…atau malahan tidak ada”

Beberapa hari kemudian, Ayah sudah tidak lagi membicarakan rencana pindah.

Mungkin ia sudah menerima keadaan.

Kami akan tetap tinggal di kos.

Entah sampai kapan.

Ayah akan mencari pekerjaan.

Kami akan menjalani semuanya perlahan.

Tidak ada lagi rencana besar.

Tidak ada lagi harapan yang terlalu tinggi.

Sampai suatu sore...

telepon Ayah berdering.

Satu nomor tidak dikenal.

Ayah melihat layar cukup lama.

Kemudian meletakkan HP-nya kembali.

Mungkin ia masih trauma.

Setelah urusan Bank.

Setelah urusan pendana.

Setelah begitu banyak nomor asing yang pernah datang membawa kabar buruk...

Lihat selengkapnya