Beberapa hari setelah semua yang terjadi,
Ayah mulai mempersiapkan kepindahan kami.
Tidak banyak yang harus dibawa.
Memang sudah tidak banyak yang tersisa.
Barang-barang penting sudah dipisahkan sejak sebelum rumah kami dieksekusi.
Dokumen-dokumen keluarga sudah diamankan. Pakaian yang masih bisa dipakai
sudah dimasukkan ke dalam kardus. Beberapa peralatan rumah tangga juga masih ada.
Selebihnya...
sudah menjadi bagian dari masa lalu.
Laptopku sudah terjual.
HP-ku juga sudah terjual.
HP Beny pun ikut dijual.
Sekarang, kami hanya memiliki dua HP.
Satu milik Ayah.
Satu milik Ibu.
Dan dua HP itu dipakai bersama.
Kalau ada yang membutuhkan, ya dipakai.
Kalau tidak, disimpan.
Tidak ada lagi kebiasaan masing-masing sibuk dengan layar sendiri seperti dulu.
Aneh.
Barang kami semakin sedikit.
Tetapi entah kenapa...
kami justru semakin sering berbicara.
Utang Ayah kepada bank dan pendana juga sudah selesai.
Rumah kami memang menjadi taruhannya.
Tetapi setidaknya, tidak ada lagi telepon penagihan.
Tidak ada lagi surat peringatan.
Tidak ada lagi rasa takut ketika melihat nomor asing masuk ke HP Ayah.
Tidak ada lagi orang datang ke depan rumah untuk menagih.
Rumah kami memang hilang.
Tetapi untuk pertama kalinya setelah sekian lama...
kami bisa tidur tanpa memikirkan utang.
Mungkin itu satu-satunya bentuk ketenangan yang masih bisa kami miliki.
Pagi itu Ayah kembali menyewa mobil pick-up.
Semua barang yang masih bisa kami selamatkan diangkut.
Kardus-kardus pakaian.
Peralatan dapur.
Sembako.
Beberapa barang milik Ibu.
Barang-barang kecil yang masih mempunyai nilai bagi kami.
Motor juga ikut dibawa.
Jarak rumah baru kami terlalu jauh kalau harus dikendarai sendiri.
Pak sopir mengikat motor di bagian belakang pick-up dengan beberapa tali.
Aku dan Beny duduk di belakang.
Kami bertugas menjaga motor dan barang-barang lainnya agar tidak bergeser atau
jatuh selama perjalanan.
Ibu dan Ayah duduk di depan.
Aku melihat punggung Ayah dari belakang.
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama...
aku tidak melihat wajah seorang laki-laki yang sedang dikejar-kejar sesuatu.
Tidak ada lagi beban untuk mencari uang demi menutup cicilan.
Tidak ada lagi ketakutan rumah akan disita.
Tidak ada lagi pikiran tentang bagaimana membayar utang bulan depan.
Semuanya sudah selesai.
Dengan harga yang sangat mahal.
Rumah.
Rumah yang selama ini menjadi tempat kami pulang.
Sekarang sudah bukan milik kami.
Tetapi mungkin...
memang sudah waktunya kami berhenti menoleh ke belakang.
Perjalanan berlangsung cukup lama.
Sekitar satu jam lebih.
Semakin jauh dari kota, suasana mulai berubah.
Gedung-gedung semakin jarang.
Toko-toko mulai hilang.
Kendaraan juga semakin sedikit.
Sampai akhirnya kami memasuki wilayah pedesaan.
Aku melihat sawah terbentang di kanan kiri jalan.
Ada petani yang sedang bekerja.
Ada orang menggembalakan sapi.
Ada anak-anak bermain di sungai.
Beberapa anak lainnya berlarian di pematang sawah.
Motor yang lewat pun tidak banyak.
Kalaupun ada...
semuanya berjalan santai.
Tidak seperti di kota.
Di sini orang-orang masih banyak menggunakan sepeda onthel.
Kalau ingin pergi ke kota, mereka menggunakan angkutan
pedesaan yang datang pada waktu-waktu tertentu.
Aku memperhatikan semuanya dari belakang pick-up.
Rasanya seperti masuk ke dunia yang berbeda.
Di kota, semua orang seperti terburu-buru.
Di sini...
orang-orang seperti memiliki waktu yang lebih panjang untuk hidup.
Udara juga berbeda.
Lebih dingin.
Lebih bersih.
Dan yang paling terasa...
tenang.
Sinyal HP pun mulai hilang.
Bukan hilang sebentar.
Kadang muncul satu bar.
Kemudian menghilang lagi.
Aku sempat melihat HP yang ada di tangan.
Bukan HP-ku.
Karena memang sudah tidak punya.